Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Kado Pernikahan


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, baju yang Zoya tunggu akhirnya datang. Ken mengajak istrinya itu untuk kembali membersihkan diri, agar mereka lekas turun ke bawah, menemui sepasang pengantin yang baru saja sah.


Di dalam kamar mandi Ken mengecupi tengkuk Zoya. "You are more beautiful than anything, Baby. (Kamu lebih cantik dari apapun, Sayang.)"


Zoya mengulum senyum, dia memegang lengan Ken yang melingkar di lehernya. "Don't be like this, i want more later. (Jangan seperti ini, nanti aku mau lagi.)" ucap Zoya yang membuat Ken terkekeh.


Pria tampan itu kembali merapatkan tubuhnya, dan membawa tubuh Zoya ke dinding. Ciuman itu terjadi begitu saja, hingga dengan gairah yang sama-sama masih menggelora.


Namun, Zoya tidak ingin meneruskannya, dia tahu betul bagaimana sifat sang pria dalam urusan bercinta. Zoya mendorong dada Ken, hingga kedua benda kenyal itu berpisah, dan menghasilkan decap nyaring yang terdengar indah.


"Why? Kenapa kamu melepaskannya?" tanya Ken dengan sorot mata penuh tanda tanya.


Zoya menangkup kedua sisi wajah suaminya, dan menghadiahkan kecupan singkat di bibir pria tampan itu. "Kita itu mau menghadiri pesta pernikahan, bukan mencari suasana baru untuk urusan ranjang." Ucap Zoya mengingatkan.


"Tapi aku masih mau," rengek Ken, memeluk pinggang Zoya.


"Hubby, kita bisa melakukannya di rumah. Lagi pula yang menikah itu asisten Ron dan Kak Siska, kenapa malah kita yang malam pertama. Ah, tidak! Bukan malam, tapi siang pertama."


Zoya menyingkir dari cekalan Ken, tetapi pria tampan itu tidak menyerah. Dia malah memeluk erat tubuh Zoya dari belakang. "Kan malam pertama kita gagal gara-gara kamu datang bulan." Rengeknya tak habis-habis.


Zoya tak ingin terpengaruh, dia melepaskan lingkaran tangan Ken yang bersarang di perutnya. "Bahkan kamu sudah mencuri start sebelum kita menikah!" Cetusnya mengingatkan sang pria.


Mendengar itu, Ken mendengus. Lalu mengalah dan membiarkan Zoya bersiap-siap memakai pakaiannya. Dan Zoya hanya terkekeh kecil melihat wajah masam Ken.


Masa bodo, dari pada mereka tidak jadi menghadiri acara pernikahan Ron dan Siska, lebih baik dia membuat Ken marah. Dibujuk dengan sarang python juga nanti langsung hilang marahnya.

__ADS_1


Kini Zoya memakai dress lengan panjang berwarna hitam, senada dengan jas Ken. Tidak ada lubang di punggung, tidak ada belahan dada rendah, apalagi belahan sampai ke paha.


Namun, sungguh Zoya tetap saja cantik mengenakan dress tersebut. Dress elegan yang dipesan sesuai kesepakatan mereka.


Rambut Zoya digerai indah. Menutupi leher jenjangnya. Membuat Ken lagi-lagi terpana oleh kecantikan istrinya. Dan menimbulkan rasa tak rela. Membawa Zoya keluar dan menemui semua orang.


Ken mendekati Zoya yang sudah selesai berdandan, dia mengeratkan genggamannya pada tangan Zoya. "Pokoknya jangan lepaskan genggaman ini, aku tidak mau sampai ada yang mengira kamu single."


"Iya-iya, Sayang. Aku ini hanya milikmu, dan selamanya akan tetap seperti itu," jawab Zoya meyakinkan Ken, si python manja yang tidak pernah sadar usia.


Akhirnya setelah banyak sekali drama yang Ken mainkan. Mereka sama-sama turun untuk bergabung ke pesta pernikahan Ron dan Siska.


Saat mereka sampai, ternyata kedua mempelai sudah dipajang di atas pelaminan. Senyum kedua orang itu senantiasa mengembang, tanda kebahagiaan yang datang hari ini benar-benar membuncang.


"Sayang, ayo kita kasih selamat sama mereka," ajak Zoya sambil menarik tangan Ken, ikut mengantri seperti reader anuable yang datang ke pernikahan si cacing Alaska.


Setelah sedikit mengantri akhirnya Zoya dan Ken berhasil berdiri tepat di depan sepasang pengantin baru ini. Zoya segera melepaskan tangan Ken dan memeluk Siska.


"Selamat ya, Kak. Semoga kamu langgeng dengan asisten Ron, dan cepat-cepat diberi momongan," ucap Zoya memberi doa dan langsung diamini oleh Siska.


"Maaf yah kami terlambat datang, tadi jalanan macet," ujar Zoya lagi sebelum pelukan itu terlepas.


Siska mengulum senyum. "Tidak apa-apa, kalian datang pun aku dan Kak Ron sudah sangat bersyukur. Terima kasih ya, Nona Zoya."


Setelah itu Zoya pun memberi selamat pada Ron. Melihat Ken yang seperti frustasi, Ron sedikit memiliki ide usil. "Tuan, bolehkah saya memeluk Nona Zoya di hari pernikahan saya?" Tanya Ron menggoda.

__ADS_1


Dan pertanyaan itu sukses membuat Ken mendelikkan matanya, dia langsung menarik lengan Zoya dan menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya.


"Bicara apa kamu? Kamu mau ku hajar di hari pernikahanmu supaya tidak bisa merasakan malam pertama?" cetus Ken dengan api amarah yang berkobar.


Namun, bukannya takut, Ron justru terkekeh. Merasa lucu jika tuannya sudah marah-marah karena Zoya. "Anggap saja kado pernikahan saya, Tuan. Sebentar saja."


Di sebelahnya Siska hanya geleng-geleng kepala. Sementara Ken langsung mengepalkan tangannya kuat. Dia sedikit menahan emosinya, demi menjaga nama baik, hingga akhirnya dia merogoh saku jas dan melemparkan sesuatu pada Ron.


"Jangan minta yang aneh-aneh kalau kamu masih ingin hidup!" cetus Ken lalu sedikit menyeret tangan Zoya, turun dari pelaminan.


Mendengar ancaman itu, Ron terkekeh keras. Dan langsung mendapat cubitan dari Siska. "Usil banget sih, Kak."


Ron tak berhenti untuk tertawa, sekali-kali kan di mengerjai Ken. Apalagi ini di hari pernikahannya. Setelah puas tertawa dia melihat sesuatu yang diberikan Ken padanya, dua buah kunci kini ada dalam genggamannya.


Kening Ron mengernyit. "Kunci apa ini?" Ron membolak-balikkan benda tersebut dan tertera di sana sebuah tulisan.


KUNCI NERAKA


"Astaga!"


*


*


*

__ADS_1


Sableng emang Bos lu, Ron 🙄🙄🙄


__ADS_2