Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #7


__ADS_3

Ken dan Zoya baru saja menapaki anak tangga saat makan malam tiba, keduanya terus bercengkrama mulai mengumbar kemesraan. Bahkan Zoya digendong seperti bayi koala menuju meja makan, sementara si ular python gondal-gandul tidak karuan.


Semua orang mencoba untuk tidak peduli, bahkan mereka langsung menundukkan kepala begitu Ken berjalan melewati mereka.


"Hubby, berhenti menciumiku. Kamu tidak tahu malu yah, mereka semua melihatnya!" cetus Zoya sambil menahan bibir Ken dengan kedua tangan, hingga Ken tak bisa bicara.


Namun, Ken selalu punya cara untuk meluluhkan Zoya. Dia menjilati tangan Zoya, dan mengibaskan wajahnya hingga kedua tangan itu terlepas. Dia menyeringai, sementara Zoya sudah mendelik.


"Bi Lila, apa kalian melihatnya?" tanya Ken tanpa memutus pandangan dengan manik mata istrinya. Zoya bergeming ingin melihat apa yang akan sebenarnya Ken lakukan.


Bi Lila sedikit mengangkat kepalanya, lalu menggeleng cepat. "Tidak, Tuan. Kami tidak melihat apapun." Jawabnya mencari aman, paham dengan kode yang Ken berikan, bahkan tanpa banyak bicara.


Ken menarik kursi, lalu mendudukkan Zoya di sana. "Lihatkan, Baby. Mereka tidak melihatnya, jadi kamu tenang saja. Di mansion ini, dunia hanya milik kita berdua." Ujar Ken dengan menoel hidung Zoya.


"Bagus sekali Ken, Kakek sampai dilupakan," cetus kakek Abian dari arah belakang. Dia sedari tadi hanya bisa menelan ludah melihat kelakuan kedua sejoli ini yang dapat membuat semua orang sesak nafas.


Mendengar itu, Zoya langsung menundukkan kepalanya merasa malu. Berbeda sekali dengan Ken yang mengeluarkan senyum jenaka ke arah kakeknya.


"Kakek seperti tidak tahu jiwa anak muda saja. Di otak mereka itu hanya ada kata bercinta, bercinta dan bercinta. Aku tahu Kakek juga seperti itu, tapi sayang kecebongnya yang jadi hanya satu," ujar Ken dengan cibiran yang membuat kakek Abian mendelik dan melempar sendok makan.


Sementara Zoya langsung melandaskan cubitan kecil di perut sang pria, membuat Ken mengaduh karena mendapat dua kesakitan sekaligus dari kakek dan istrinya.


"Aduh, Sayang, kenapa mencubitku? Kakek juga kenapa melemparku dengan sendok? Aku kan hanya bicara apa adanya," bela pria itu, membela kelakuannya yang benar-benar tak kenal usia.

__ADS_1


"Mulutmu itu benar-benar tidak bisa dikondisikan, Ken. Lagi pula kamu ini memang tidak ingat umur, kamu itu sudah tidak muda lagi, usiamu hampir kepala empat, harusnya kamu sudah punya anak lima atau bahkan punya cucu," cerocos kakek Abian yang tidak terima dengan ucapan Ken.


"Iya, Hubby. Kamu jangan bicara sembarangan seperti itu. Dia itu Kakekmu," timpal Zoya berbisik di telinga Ken dengan suaranya yang penuh penekanan.


"Ah, aku kan memang bicara sesuai kenyataan. Dan Kakek tenang saja, setelah ini aku akan bekerja keras membuat cicit untukmu. Kamu mau berapa? 2? 3? Atau 5? Katakan saja!" tantang pria matang itu.


Kakek Abian mulai gelagapan, dia hanya bisa menggeleng tak habis pikir dengan cara kerja otak cucunya. Sementara Zoya menatap Ken dengan mata yang terus berkedip-kedip, kenapa bisa dia mencintai pria yang tidak tahu malu seperti ini?


Tak ingin menanggapi ucapan pria yang kelebihan stamina itu. Kakek Abian langsung meminta Bi Lila mengambilkan makan untuknya. Darahnya bisa naik, kalau terus membalas ucapan Ken yang di luar nalar manusia.


Mereka semua makan dengan suasana yang tidak biasa. Ken lagi-lagi membuat ulah, seolah cium mencium adalah hal yang biasa dalam kamusnya. Sehingga semua orang boleh melihat tingkah usilnya untuk menaklukkan Zoya.


Kakek Abian berdehem setelah dia menandaskan satu piring makanan dengan perasaan was-was. Entah menular dari mana sikap Ken yang seperti ini, dia dan Abraham bahkan tidak pernah mencumbui istrinya di luar kamar.


"Berhentilah melakukan hal gila, Ken. Masih ada aku di sini," ujar kakek Abian dengan memutar bola matanya jengah.


Ken terkekeh, lalu menatap ke arah kakeknya. "Ada apa sih, Kek? Kamu sepertinya tidak suka sekali melihat cucumu bahagia? Dari tadi protes terus."


"Ada yang ingin Kakek bicarakan."


Dan kalimat itu sukses membuat Ken menegakan tubuhnya, dan menatap kakek Abian dengan mimik wajah serius. Dia bergeming hingga kakek Abian kembali buka suara.


"Kakek akan tinggal di sini bersama kalian," ucap kakek Abian. Dia sudah memikirkan ini semua dari jauh-jauh hari, kembali tinggal bersama Ken, berharap bisa rukun dalam satu keluarga. Bahkan sampai dia bisa melihat kelahiran cicitnya.

__ADS_1


Sementara Ken langsung melongo mendengar ucapan kakeknya. "Are you sure? Kamu tidak akan menyesal, Kek?" timpal Ken, seolah tengah mewanti-wanti pria tua itu.


"Hubby, apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Zoya, membuat Ken menatap ke arahnya.


"Sayang, aku takut Kakek tidak akan kuat melihat kemesraan kita. Kalau dia sampai jantungan lalu mati bagaimana?"


Pletak!


Satu sendok kembali melayang dan tepat mengenai kepala Ken. Si cucu yang sangat kurang ajar. Atau memang kurang dihajar.


"Uhhh, Baby. Hubby dipukul lagi, sakit...." rengek Ken pada Zoya sambil memegangi kepalanya dan memasang wajah manja.


*


*


*


Ngothor : Ntar gue tambahin kek, gue tarik nanti pythonnyaπŸ™„πŸ™„πŸ™„


Daddy : Nggak takut, nggak takut πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ


Note : Bapacknya python sama leluhurnya python 😌😌😌

__ADS_1



__ADS_2