
Siska keluar dari dalam kamar mandi, setelah dia menggosok gigi dan berganti pakaian. Berganti dengan pakaian jaring-jaring pilihan suaminya.
Sebagai wanita yang sangat penurut, Siska tidak membantah apapun ucapan Ron. Dia hanya senantiasa mengikuti apapun perintah pria itu.
Apalagi hanya memakai sebuah kain tipis ini, sama sekali tidak masalah. Siska melangkahkan kaki pelan-pelan. Kaki jenjangnya terekspos bebas, putih dan bersih sekali, membuat mata Ron yang melihatnya merasa termanjakan.
Senyum Ron semakin mengembang begitu Siska naik ke atas ranjang. Sedikit merangkak membuat kedua buah kesukaannya menggantung menggodanya.
Dan begitu Siska sukses duduk di sampingnya, Ron meraih dagu runcing wanita cantik itu. Bibir Siska terlihat merah merona, bahkan tanpa pewarna.
Harum aroma tubuhnya membuat Ron merasa mabuk dan melayang. Ron menatap wanita di hadapannya dengan penuh cinta, membuat pipi Siska berubah merona.
Cup!
Satu kecupan Ron hadiahkan pada benda ranum itu. Namun, rasanya seperti tidak akan ada kata puas. Ron meletakkan buku yang berada di tangan kirinya ke atas nakas, lalu fokus memandang wajah istrinya.
"Kenapa kamu pakai baju ini, Sayang?" tanya Ron, sambil membelai lembut wajah cantik wanita itu. Menyingkap sedikit anak rambut ke belakang telinga, membuat Siska semakin tersipu.
Di samping itu, Siska bingung sendiri dengan pertanyaan Ron, bukankah pria ini yang memintanya memakai baju seperti ini? Lantas untuk apa bertanya?
Ron semakin memajukan wajahnya, hingga hidung pucuk mancungnya menempel pada pipi Siska. "Aku sedang bertanya, Sayang. Kenapa tidak dijawab?" Ron menarik tubuh Siska, hingga kedua tubuh mereka merapat, Siska meletakkan satu tangannya di bahu Ron.
"Kan kamu yang memintanya, Kak," jawab Siska apa adanya sambil memalingkan wajah.
Ron mengulum senyum tipis. "Kamu patuh sekali ya pada ucapanku?"
Mendengar itu, kedua alis Siska saling menaut. Dia memandang wajah suaminya yang terlihat sangat sumringah, padahal di kantor pria ini habis dikerjai oleh bosnya.
"Tentu saja aku akan patuh, Kakak kan suamiku," balas Siska yang membuat Ron jadi terkekeh. Selalu gemas dengan jawaban Siska yang apa adanya.
"Kalau begitu, aku mau kamu yang membukanya di depanku, bolehkan?" tanya Ron sambil menurunkan pakaian tipis itu dari salah satu pundak Siska, Ron meninggalkan kecupan singkat di sana, lalu memandang wajah Siska yang memerah.
__ADS_1
Ron ingin merasakan bagaimana dirinya diserang oleh sang istri, selama ini Ron yang selalu pro dalam permainan. Namun, kali ini dia ingin Siska yang mengambil alih kendali.
"Aku mau kamu yang pegang kendali malam ini," ucap Ron lagi, tepat di telinga Siska. Menyisakan nafas yang menampar tengkuk wanita itu hingga meremang.
Siska menggeliat kecil. "Aku malu, Kak. Apalagi kalau harus aku yang membukanya."
Ron mengusap wajah Siska, tangan besar dan hangat itu bahkan senantiasa bersemayam di sana. "Katanya istriku ini penurut, mana? Aku mau buktinya." Ujar Ron, mulai memancing kepolosan istrinya.
Siska menggigit bibir bawahnya, lalu membalas tatapan mata Ron. Dan dia membenarkan ucapan suaminya, kalau penurut itu artinya dia tidak boleh membantah.
Hingga akhirnya Ron berbaring dan menarik lengan Siska agar wanita itu naik ke atas tubuhnya. Siska meletakkan kedua tangannya pada dada Ron, dan tatapan mereka kembali bertemu.
Tangan Ron meremass bokong Siska, menandakan bahwa dia sudah tidak sabar ingin diserang oleh istrinya.
Siska menggeliat, menggerakkan pinggulnya karena merasa geli, apalagi saat tangan Ron merayap ke atas tubuhnya. Menyusup dibalik kain tipis itu hingga bermuara di kedua gundukan miliknya.
Siska pasrah, suasana yang mulai memanas membuatnya tak lagi memiliki rasa malu, dia menarik kain itu ke atas dan membuangnya begitu saja.
"Nah, kalau begini kan terlihat semakin cantik," puji Ron, lalu menarik tengkuk Siska, menyatukan bibir mereka, untuk memulai permainan yang sebentar lagi akan tercipta.
"Ah, Sayang. Lebih cepat dan sesekali tekan pinggulmu!" rancau Ron menikmati sensasi luar biasa yang tengah dia terima. Dia tidak bisa untuk tidak mendesaah. Apalagi himpitan yang Siska beri begitu terasa.
"Kak, aku!" Siska bicara dengan nafasnya yang tersengal, Ron bisa merasakan istrinya yang sudah tak tahan dengan gelombang yang akan datang.
Ron membalik posisi, kini dia yang menghujam inti Siska hingga buncahan lahar hangat keluar dengan begitu dahsyat, menyemai di rahim wanita itu.
Inti Siska masih terasa berkedut, tetapi Ron sudah kembali menghajarnya. Dengan serangan lidah yang membuat mulut Siska langsung menganga.
*
*
__ADS_1
*
Pagi harinya.
Ken sudah bersiap-siap untuk bekerja. Tak berbeda dengan Ron, semalam dia pun menghajar Zoya tanpa ampun. Hingga Zoya kembali terkapar di atas ranjang, lelahnya bercinta membuat dia enggan untuk beranjak dari atas sana.
Zoya mengerjapkan kelopak matanya, saat dia merasakan benda kenyal mengecupi seluruh wajahnya. Dan pada saat kedua netra itu sukses terbuka, dia mendapati Ken yang tengah tersenyum sumringah.
Kening Zoya melipat, menelisik penampilan suaminya dari atas sampai bawah. "Hubby, kamu mau ke mana?" Tanya Zoya dengan suara yang terdengar parau.
Kini giliran Ken yang memasang wajah penuh tanda tanya, kenapa Zoya bertanya seperti itu? Jelas-jelas dia mau bekerja.
"Aku mau ke kantorlah, Sayang. Aku mau bekerja," jawab pria tampan itu apa adanya.
"Bekerja? Inikan tanggal merah," ujar Zoya yang membuat mulut Ken langsung terbuka. Apa dia tidak salah dengar?
Ken langsung melihat kalender di atas nakas, dan benar saja apa yang diucapkan oleh istrinya.
Seketika bahu Ken merosot. "Yah, tidak jadi pamer dong? Cih, kenapa mesti tanggal merah sih." Gerutunya.
*
*
*
Ngothor : Dad, gue nggak ketawa asli, mereka noh! Bukan gueðŸ¤
Daddy : Jahat lu, Thor! Sia-sia perjuangan neng njoyyy bikin leher gue merah-merah kek dicium nyamuk.
Ngothor : Yeh, sapa suruh mau pamer, itu nggak baik tahu🤪
__ADS_1
Daddy : Thor, lu mah... Ah, tahu lah😩
Lu udah pada bosen belom sama si python?😌😌😌