
Di saat para suami sedang melakukan meeting, Zoya dan Siska menunggu di dalam ruangan, mereka duduk santai di sofa, sambil menikmati salad buah yang Siska bawa.
"Wah, Kak, ini rasanya enak sekali," puji Zoya sambil terus mengunyah, menikmati salad tersebut, dia juga mengelus perutnya. "Kalian suka yah? Nanti kita minta Daddy buatkan, oke?" Sambung Zoya sambil terkekeh, mengajak anak-anaknya bicara.
Mendengar pujian Zoya, Siska tersipu. Dia juga ikut terkekeh merasa lucu dengan tingkah Zoya. "Terima kasih, Nona, atas pujiannya. Oh iya, aku dengar-dengar kamu hamil anak kembar yah?"
Zoya mengangkat wajah lalu dengan cepat mengangguk, membenarkan pertanyaan Siska. "Kembar lima." Ujarnya yang langsung membuat Siska shock, wanita yang lebih tua lima tahun dari Zoya itu membulatkan matanya dengan sempurna.
"Lima, Nona? Kamu tidak bercanda? Anak kalian lima?" tanya Siska memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Dan lagi-lagi Zoya mengangguk. "Iya, lima. Kan nggak etis, kalau kerja keras siang malam cuma dapat satu." Gurau Zoya seraya terkekeh kecil. Yang aslinya cuma nyindir.
Eh!
Ucapan itu langsung membuat Siska kepikiran. Iya juga yah? Batinnya membenarkan. Akan tetapi kenapa anaknya hanya ada satu, padahal dia dan Ron juga bekerja keras tiap malam, dari telentang sampai jungkir balik, tikusruk ke ranjang.
"Kamu memikirkan apa, Kak? Jangan bilang kamu iri padaku," tebak Zoya, dia melihat Siska yang sedari tadi bergeming seolah memikirkan sesuatu, entah itu apa.
Ditanya seperti itu, Siska langsung gelagapan. "Eh tidak, Nona. Aku hanya heran saja, kenapa Tuan Ken bisa membuahimu sebanyak itu? Memangnya kalian punya resep rahasia?"
Bukannya menjawab Zoya justru terkekeh semakin keras, membuat dua sembulan di dadanya ikut bergerak memantul, seperti bola basket yang sedang didrible.
Zoya meminta Siska agar lebih mendekat ke arahnya. "Sini, aku bisikin resepnya, aku jamin anak Kakak dengan asisten Ron jadi sepuluh. Sepuluh cacing Alaska."
Wanita lugu berjiwa polos itu menurut, mau-mau saja dia dibohongi oleh Zoya, Siska manggut-manggut, lalu detik selanjutnya dia tersenyum sumringah, mendengarkan arahan istri mantan bos gendengnya.
Dia tidak tahu saja, kalau Zoya pun sudah ikutan gendeng seperti suaminya.
"Bagaimana?"
__ADS_1
Siska mengangguk setuju sambil tersenyum sumringah. "Baik, Nona. Aku akan menuruti saranmu."
Dan kedua ibu hamil itu terkekeh bersama.
*
*
*
Malam menjelang, kegiatan sebelum tidur selama dua hari sekali tidak pernah Ron lewatkan. Pria tampan itu tengah membuat pemanasan lebih dulu, menciumi sekitar pangkal paha istrinya dengan penuh hasrat.
Siska hanya bisa pasrah sambil membuka kakinya lebar-lebar sesuai perintah Ron. Dia merasakan ciuman itu semakin naik, dan bermuara di pusarnya.
"Kak," panggil Siska membuat Ron seketika mendongak, menatap wajah sensual dengan tatapan sayu itu sudah tak berdaya. Ron suka sekali melihatnya.
"Kamu sudah menginginkannya?" tanya Ron, dia merangkak naik ke atas tubuh Siska, menjadikan tangannya bertumpu di antara kepala istrinya itu.
"Tapi aku masih ingin bermain, Sayang." Jemari Ron hinggap di salah satu bongkahan kesukaannya. Membuat putaran dari bawah ke atas, dan berakhir di benjolan kecil berwarna pink milik Siska.
Wanita itu mendesis nikmat, saat pucuk dadanya dimainkan, diputar-putar oleh satu jari suaminya. Tubuh Siska semakin bereaksi, begitu Ron membuat remassan dan pijatan yang sangat memanjakannya.
"Kak, ayolah! Dedeknya udah nggak sabar," ucap Siska yang sudah tidak tahu lagi, harus memohon dengan cara apa.
Dan Ron suka sekali bila wanita yang ada di bawah kungkungannya sudah memohon seperti ini. Secepat kilat Ron mengangkat kaki Siska, membuka akses agar cacingnya bisa masuk dengan leluasa.
Ron mengusap wajah Siska yang memerah dan tersenyum kecil.
Sekali tancap!
__ADS_1
Siska langsung menjerit, dan mencakar kedua bahu Ron. Deru nafas wanita itu beradu dengan pemilik raga kekar yang berada di atas tubuhnya, menciptakan malam syahdu penuh dengan peluh.
"Ahhh .... "
Pagi harinya, Ron bersiap-siap seperti biasa, memakai pakaian lengkap untuk pergi bekerja. Namun, yang aneh dari hari sebelumnya adalah Siska, karena tiba-tiba wanita itu memasak pagi-pagi dan menyiapkan bekal untuknya.
"Kak, nanti di makan yah bekalnya," ucap Siska mengingkatkan suaminya. Dia tersenyum sumringah, sambil menyerahkan paper bag batik berisi kotak makan siang milik Ron.
Ron mengernyit heran. "Tumben, Sayang, kok aku dibawain bekal segala?"
Dan senyum Siska semakin mengembang. Dia bergelayut manja di lengan Ron. "Mulai hari ini, aku bakal masak setiap hari, dengan menu yang sama. Buat kamu, Kak."
"Lho kok gitu? Emang ini apa?"
Siska nyengir menunjukkan gigi-giginya. "Sayur tauge, biar aku bisa hamil kembar kayak Nona Zoya. Itu resepnya dia yang kasih kok, gratis tanpa dipungut biaya."
Pria tampan itu tampak melongo, bukannya senang, detik berikutnya Ron justru mendengus kasar. "Hih! Tidak suami, tidak istri, kerjanya hanya membodoh-bodohi. Dasar_"
"Lho kamu kenapa, Kak? Kok malah marah-marah? Kan kita sedang berusaha."
Ron meneguk ludahnya, dia menatap Siska yang mulai menunjukkan wajah sendu, Ron menarik kembali umpatan yang sudah ada di ujung mulut, rasanya gatal sekali ingin dia keluarkan tetapi demi menjaga perasaan istrinya, dia hanya bisa menahan dengan kepalan tangan di bawah sana.
Argh sialan!
*
*
*
__ADS_1
Salah siapa coba,😩😩