Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Mobil Gambal Uyey


__ADS_3

Ken menghela nafas panjang. Mencoba sabar dengan putra dan putrinya yang sedang di masa-masa paling aktif. Mobil masih bisa dia beli, karena dia memiliki uang yang sangat banyak. Akan tetapi gadis imut seperti Eliana, dia tidak akan mungkin mudah mendapatkannya.


Ken melirik Zoya yang tersenyum kikuk. Antara ingin tertawa dan kasihan melihat suaminya. Dia tahu Ken kesal, tetapi untuk memarahi El, tentu pria itu tidak akan bisa.


"Baiklah kalau begitu, kita pakai mobil yang satunya lagi saja yah?" ujar Ken sambil menghembuskan nafas berulang kali, mencoba untuk tenang.


Dia berharap anak-anaknya akan menurut, tetapi dengan predikatnya yang sekarang, sepertinya Ken harus banyak-banyak memiliki stok sabar.


"Tenapa ndak naik mubil gambal uyey El acah?" tanya El pada sang ayah. Ingin hasil karyanya dihargai oleh pria yang kini tampak terbengong-bengong.


"Ituh kan agus, Tetty. Mubilnya cadi lame," sambung El sambil menunjukkan gigi susunya.


Ken berdehem, lalu berjongkok di depan El. Sambil mengelus rambut keemasan gadis kecil itu. "Sayang, mobil tidak boleh dicoret-coret seperti itu, nantinya rusak. Kalau El mau menggambar, di kertas saja yah." Kata Ken dengan suara yang begitu lembut. Berharap sang anak mengerti apa yang dia sampaikan.


"Tenapa yucak? Gambalnya jeyek?" balas El dengan bibir yang mengerucut. Tanda tak suka jika Ken melarangnya.


Ken langsung menepuk jidatnya, lalu melirik kepada Zoya, meminta bantuan untuk menjelaskan. Namun, sebelum Zoya bicara, salah satu putranya justru lebih dulu menyerobot.


"Iya gambal tamu jeyek, maca uyey ndak ada matana!" timpal Choco tanpa perasaan, bahkan dia sampai menunjuk gambar El, menjelaskan letak mata.

__ADS_1


"Ituh kan uyey-nya agi bubu, Kakak," jelas El, dia pun ikut mendekat ke arah mobil ayahnya, lalu menunjuk gambar bulat di ujung garis. "Inyi otol tutunya. Diya nyenyen taya Kak An."


Semua orang tampak melongo, tak berbeda jauh dengan Ken dan Zoya. Bahkan wanita beranak lima itu hanya bisa menganga mendengar ocehan putra-putrinya.


"Haduh, sudah-sudah! Sudah ya, kita pakai mobil yang lain saja. Nanti mobil ini biar Uncle Ron yang urus. Katanya mau jalan-jalan, kok bahas gambar uler dan botol susu. Kan tidak nyambung ya," jelas Ken karena sudah merasa frustasi menghadapi para kecambahnya. Dari kemarin dia terus dibuat sakit kepala.


"Iya, Sayang. Nanti mall-nya keburu tutup." Zoya ikut menambahi agar semua anak lelakinya pun mengikuti langkah Ken yang sedang berjalan ke arah mobil yang lain.


"Ita beyi beka Ojen ya, Tet?" ujar El kegirangan, kini dia sudah berada dalam gendongan Ken.


"Iya-iya, Sayang. Kita beli apapun yang El inginkan."


"Iya, Sayang, iya, yang penting El jangan rewel yah."


Gadis kecil itu mengangguk setuju.


Ken membuka pintu, lalu mendudukkan putri kecilnya di samping kursi kemudi. Kebiasaan yang tidak akan pernah hilang jika mereka semua pergi bersama. El dan keempat putranya tidak akan mengizinkan ia dan Zoya duduk berdua.


Akhirnya setelah perdebatan penuh drama. Mobil yang dikendarai Ken pun melandas meninggalkan mansion. Di depan pintu, Kakek Abian terus melambaikan tangan hingga mobil itu benar-benar menghilang.

__ADS_1


Dia tersenyum bahagia, melihat sang cucu akhirnya hidup normal dengan wanita yang dicintainya, serta memiliki keluarga yang begitu harmonis. Tidak seperti dirinya yang kerap kesepian, Ken memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.


"Abraham, Ishana, lihat anak kalian sudah bahagia. Bahkan kalian sudah memiliki 5 cucu yang begitu lucu. Di sini, aku merasa begitu beruntung, karena bisa mendampinginya," lirih kakek Abian.


Sementara di dalam mobil, sedikitpun anak-anak tidak mau diam. Suasananya tampak selalu ramai karena celotehan dan juga nyanyian kelima anak Ken dan Zoya.


Zoya yang duduk di tengah memperhatikan keempat putranya dengan melirik ke kanan dan ke kiri. "Rambut anak-anak sudah lumayan panjang, nanti potong ya, Dad?" Ucap Zoya mengajak Ken bicara, sementara pandangan matanya tak lepas dari rambut-rambut si kecil.


"Iya, nanti pulangnya kita mampir ke salon anak buat potong rambut mereka," balas Ken sambil fokus menyetir.


Dan di situlah Bee menimpali dengan satu kalimat yang membuat Ken dan Zoya saling pandang. "Yey, otong embut!" Serunya kegirangan.


***


Ngothor : Sini biar gue yang otong embut lu, Dad😌


Daddy : Gosah kepikiran ke sana ngapa sih🙄


Ngothor : Gabisa, Dad. Ini lain daripada yang lain.

__ADS_1


Daddy : Bodooo amaddd😩😩😩


__ADS_2