Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Penyesalan Adalah Neraka


__ADS_3

Hari itu juga jasad kakek Theo dikebumikan. Semua orang berpakaian serba hitam mengelilingi gundukan tanah merah itu, taburan bunga menyemai, menghiasi rumah baru kakek Theo.


Tak hanya ada keluarga Monaco. Ken, Zoya dan kakek Abian juga turut datang. Sebagai penghormatan terakhir pada Kakek tua itu.


Di samping peristirahatan kakek Theo, Imelda terus menangis dengan didampingi sang anak, Nora. Imelda tersungkur di atas tanah, dan memeluk gundukan itu.


Dia terus menggelengkan kepala, karena dia tidak akan pernah rela, orang yang senantiasa memanjakannya, dan memberikan semua yang dia mau, meninggalkannya begitu saja.


"Papa, kita pulang. Jangan di sini, kita pulang, Pa!" rancaunya sambil sesenggukan. Air matanya seolah tidak akan pernah habis, karena dari sejak kakek Theo dinyatakan meninggal dunia, sampai sekarang tangis Imelda sama sekali tak mereda.


Dia begitu terpukul, di hari yang sama Reymond menceraikannya, sang ayah justru pergi untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi yang bisa membelanya, dan menahan Reymond agar tidak pergi dari sisinya.


Kini, Raga saja tidak cukup menjadi alasan agar Reymond mengurungkan niat untuk mengakhiri hubungan mereka.


Dan semua itu adalah salah Zoya. Ya, semua itu karena kehadiran Zoya yang begitu tiba-tiba. Semuanya menjadi hancur berkeping-keping, nyaris tak tersisa.


Di tempatnya, Ken senantiasa menggenggam tangan kekasihnya, dan hal itu disaksikan langsung oleh Raga. Kini, dia mengerti kenapa ayah angkat gadis itu sangat posesif pada putrinya.


Itu semua karena mereka memiliki hubungan, lebih dari sekedar ayah dan anak. Raga tidak bisa berpikir sampai ke sana, tetapi begitulah kenyataannya.


Dia benar-benar tidak sanggup untuk bersitatap dengan Zoya. Dan setelah ini, dia pastikan dia takkan pernah melihat gadis itu lagi. Dia berencana untuk meninggalkan ibu kota, dan kembali mengejar cita-citanya.


Kemana saja, asalkan dia tidak bisa bertemu Zoya.


"Kek, aku dan Zoya pulang dulu," ucap Ken pada Kakek Abian yang masih setia menemani keluarga Imelda yang tengah berduka.


Pria tua itu mengangguk pelan, memberi jawaban. Tetapi sebelum Ken dan Zoya melangkah pergi, suara seorang pria menghentikan langkah mereka. "Tunggu!" teriak Reymond.


Sudah begitu lama waktu berlalu, dia belum juga mendapatkan maaf dari Zoya. Bahkan bertemu saja tidak, gadis itu benar-benar memiliki sifat keras kepala seperti dirinya.


Reymond melangkah dengan tergesa menghampiri kedua orang itu. Dia tidak bisa terus seperti ini, hidupnya tidak akan merasa tenang jika Zoya belum bisa menerimanya sebagai seorang ayah. Sungguh, dia menyesali perbuatannya.


"Zoya," panggilnya saat dia sudah berhadapan dengan putrinya. Dia memandang lekat wajah Zoya yang mirip sekali dengan Elina. Dan perasaan bersalah itu semakin menelusup ke dadanya.


Zoya bergeming, sementara genggaman tangan Ken semakin terasa kuat. Seolah mengatakan bahwa dia tidak akan melepaskan Zoya pada siapapun, apalagi pada pria yang berdiri di depan mereka. Tidak akan pernah!

__ADS_1


"Zoya, Papa ingin meminta maaf padamu, Nak. Tolong beri Papa kesempatan," ucap Reymond dengan bibir yang bergetar lengkap dengan air mata yang mulai merembes, mengalir hingga ke dagunya.


"Papa tidak bisa seperti ini, Zoya. Untuk selamanya, Papa tidak akan tenang, sebelum mendapat maaf darimu. Maafkan Papa, Nak," sambungnya diiringi isak yang mulai terdengar kencang.


Dia tidak peduli pada semua mata yang mengarah padanya. Yang dia butuhkan sekarang hanya maaf dari Zoya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia ingin menebus segalanya, segala kesakitan yang dia torehkan pada Elina.


Mendadak tubuh Zoya gemetar. Ludahnya mulai sulit untuk ditelan. Susah payah dia menahan air matanya. Namun, nyatanya tetap tidak bisa. Dia ingat semalam, saat Ken bercerita bagaimana perjuangan ibunya melahirkan sampai dia bertemu Maurin.


Kemana ayahnya? Kalau saja Tuhan tidak mengirim orang baik, mungkin dia sudah berada di surga sekarang.


Pelan, Zoya mengangkat kepalanya. Menatap pria yang sudah membuatnya bisa lahir ke dunia, tetapi menelantarkannya begitu saja. Demi hidup mewah bersama wanita lain.


"Tuan Reymond. Entah pantas atau tidak aku bicara seperti ini padamu, tapi sebagai seseorang yang sudah dicampakkan, dikecewakan, bahkan ditelantarkan selama bertahun-tahun. Aku minta maaf." Zoya menggelengkan kepalanya, "aku tidak bisa menerimamu..."


"Semua salahmu pada ibuku, biar jadi urusanmu dengan Tuhanmu. Dan untuk aku, kamu tidak punya salah sama sekali padaku. Karena sepertinya aku tidak akan pernah bisa memanggilmu dengan sebutan ayah...."


"Bukan karena aku ingin membalasmu. Itu terlalu melelahkan, aku hanya percaya bahwa karma selalu datang tepat waktu, dan dia tidak mungkin salah alamat. Dan kamu juga perlu tahu, bahwa penyesalan adalah neraka jahanam selama kamu masih hidup," papar Zoya sesuai kehendak hatinya.


"Kamu tenang saja, kamu tidak perlu khawatir. Anggap saja aku memang tidak pernah ada, seperti saat kamu belum bertemu denganku. Karena sebentar lagi, akan ada orang yang akan menjagaku. Kamu juga tidak perlu menilainya sebagai seorang badjingan. Karena nyatanya kamu lebih dari itu. Aku lebih mengenal bagaimana calon suamiku, jadi jangan halangi pernikahan kami."


Sumpah demi apapun, hatinya teramat pilu menjabarkan semuanya. Air mata gadis itu mengalir tak tertahankan, membuat kedua bahunya seketika bergetar, dengan dada yang naik turun.


Sementara Reymond terduduk, lututnya terasa lemas, hingga dia bersimpuh di hadapan Zoya. Benar-benar merasa tak berdaya. Bertahun-tahun hidup bergelimang harta, nyatanya tak membuat tidur Reymond tenang.


Dia terus memikirkan Elina dan anaknya. Semua orang bilang mereka mati secara bersamaan. Tetapi hati Reymond menolak itu, hingga dia bertemu dengan Zoya, terungkaplah segalanya.


"Maafkan Papa, Zoy. Maaf...." lirih Reymond dengan air mata yang tak terbendung.


Sementara semua orang hanya bisa menonton pemandangan pilu itu. Kecuali seseorang yang ada di ujung sana. Dia justru mengepalkan tangannya kuat, merasa geram. Hingga tanpa diduga, dia mengambil batu yang kebetulan ada didekatnya, dia berlari kencang dan menghampiri Zoya.


"Dasar gadis jalaang!"


Bugh!


Wanita itu melemparkan batu tersebut. Tetapi Ken tak tinggal diam, dia menghalau batu tersebut dengan punggungnya agar tidak mengenai tubuh Zoya.

__ADS_1


"Mama!"


"Imelda!"


Teriak ketiga orang itu secara bersamaan. Nora langsung menghampiri Imelda, yang kala itu langsung dicekal oleh Reymond. Dan disusul oleh Raga yang menghadang, dia merentangkan tangan untuk melindungi Zoya.


"Lepaskan aku, biar aku cabik-cabik wajahnya. Dia itu wanita murahan! Dia yang sudah menghancurkan keluargaku dan membuat Papa mati!!!!" teriak Imelda sekuat tenaga. Dia seperti sudah kesetanan.


"Cukup Imelda!"


"Ma, cukup, Ma!"


"Aku tidak akan pernah merasa cukup jika dia belum mati, dan menyusul ibunya ke neraka!!!"


Plak!


Satu tamparan dia dapatkan lagi dari Reymond membuat matanya memicing tajam, dan akhirnya dia kembali menangis. "Kenapa, Rey? Kenapa kamu menamparku? Harusnya kamu tampar gadis sialan itu!"


"Karena kamu sudah keterlaluan!" Bentak Reymond.


Tak ingin meladeni drama keluarga itu, Ken segera mengajak gadisnya untuk pergi dari lokasi.


Sementara keributan itu terus berlanjut. Imelda dan Reymond kembali adu mulut dan tarik urat.


"Jangan pergi kamu jalaang!" pekik Imelda, dia meronta hendak menghampiri Zoya dan mencakar wajah gadis itu, tetapi orang-orang di sampingnya tak tinggal diam.


Mereka terus menahan tubuh Imelda yang seperti memiliki kekuatan lebih.


"Imelda cukup! Jangan gila seperti ini!" Bentak Reymond sekaligus mencengkram kuat dagu Imelda.


Mendengar itu, Imelda kembali tergugu. Lalu tak berapa lama kemudian dia tertawa, tertawa dalam tangisnya persis seperti orang gila.


*


*

__ADS_1


*


Gilak nggak tuh🙄🙄🙄


__ADS_2