Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Hari Sabtu


__ADS_3

Setelah membuat Aneeq tenang. Zoya bersiap-siap untuk kuliah, sebab hari ini adalah hari Sabtu. Dan tugas untuk menemani anak-anak akan dilimpahkan pada Ken, karena semenjak Zoya kembali berkuliah, Ken pun mengambil hari libur Sabtu dan Minggu.


"Nanti jaga mereka ya, Sayang," ucap Zoya sebelum melangkah ke arah kamar mandi. Ken mengangguk dan lebih dulu menahan Zoya. Ken menangkup satu sisi wajah wanita itu, dan kembali melabuhkan sebuah ciuman.


Rasanya tidak akan pernah puas jika menyangkut tentang istrinya. Namun, sayang semenjak kelahiran Baby ABCDE, Ken sudah tidak dapat bebas lagi. Karena banyak kendala yang harus dia hadapi saat mereka ingin bercinta.


Tak hanya Aneeq yang suka ribut tentang semangka. Akan tetapi El juga terkadang tak ingin berbagi dirinya dengan Zoya. Ataupun ketiga putranya yang suka sekali bermain di kamar utama.


Setelah kepergian Zoya. Ken keluar dari kamar untuk melihat kelima anaknya. Aneeq sudah tertidur kembali, sementara yang lain ada yang sedang digendong oleh baby sitter.


"Bee udah bangun?" tanya Ken sambil mengusap lembut kepala putranya itu, membuat Bee mengangkat wajahnya.


"Daddy," panggil Bee, bocah tampan itu mengulurkan tangan ingin digendong oleh sang ayah. Tanpa pikir panjang Ken langsung menangkap tubuh gembul Bee yang hanya memakai pampers.


"Baju Bee mana? Kenapa tidurnya tidak mau pakai baju?"


Bee meletakkan kepalanya di bahu kekar Ken. Dia terlihat lemas sebab baru saja bangun tidur. "Bee eyah. Ndak enyak."


"Oh, Bee gerah? Kan sudah pakai AC, Nak?"


"Ace nya yucak, Dad."


Mendengar itu, Ken terkekeh. Sebab dia tahu sang anak sedang beralibi, agar argumennya tidak dibantah. Bee memang memiliki kebiasaan yang lain pula, hampir setiap tidur pasti bajunya dibuka. Entah itu sebelumnya, maupun pas tengah malam, di saat semua orang tidak melihatnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kita mandi aja yah. Supaya segar. Mommy juga lagi mandi tuh di kamar."


Bee dengan cepat menggelengkan kepala. "Ndak au, bocen, Dad."


"Terus maunya apa?"


"Uda-udaan, Daddy yang adi udanya," jawab Bee sambil mengangkat kepala. Bola mata bocah itu berbinar lucu. Karena merasa gemas sekaligus yang lain juga masih tidur. Akhirnya Ken menyetujui, dia menyuruh Rathi untuk menaikan Bee ke atas punggungnya.


"Oke, Bee pegangan yah," ucap Ken sambil memegang kaki sang anak. Bee terkekeh keras, dia menjambak rambut Ken selagi ayahnya itu mulai merangkak mengitari kamar.


"Hehe, tepetan yayinya, Dad," seru Bee dengan gelak tawa yang membuat siapa saja pasti ikut tertawa pula. Sementara pegangan tangannya semakin terasa kuat, membuat Ken sedikit meringis.


"Bee, rambut Daddy jangan dijambak," ucap Ken, tetapi pria kecil yang sedang seru-serunya bermain kuda dengan sang ayah tidak peduli dengan ucapan Ken.


Bee malah semakin terkekeh dan ajol-ajolan di atas punggung Ken. Hingga suara kebisingan itu membuat Choco, De ikut terbangun pula. Lain dengan El yang hanya menggeliat-geliat saja.


"Daddy!" panggil mereka berbarengan, lalu merengek meminta turun.


"Tayi, Choco awu uyun." Choco terus merengek dengan mengulurkan kedua tangannya minta diangkat. Tari langsung sigap, dia mengangkat tubuh gembul Choco, dan pria kecil itu langsung berlari ke arah ayahnya, sama halnya dengan De yang tak mau kalah.


Kedua bocah tampan itu saling berebut untuk naik duluan.


"Choco uyu!" Bocah tampan itu sudah memegang leher Ken. Akan tetapi ditepis oleh De si kutub Utara dua. Alhasil mereka adu badan. Membuat Ken ketar-ketir.

__ADS_1


"Hei-hei, Boy. Jangan berebut!" Suara Ken sedikit keras, tetapi tak dapat memisahkan dua bocah tampan itu.


Rathi turun tangan, dia hendak menarik De, tetapi bocah tampan itu lebih dulu mendorong Choco hingga kakaknya itu terjungkal dan langsung menangis kencang.


"Huaaaa ... atit, Daddy," adu Choco sambil tergelak. Melihat itu, Tari mencoba untuk meraih tubuh Choco, tetapi langsung ditepis oleh bocah tampan itu.


"Auh, atit payah Choco, Daddy!" teriaknya sambil memegang kepala, berharap Ken segera menghampirinya.


Ken segera menurunkan Bee, tetapi bocah tampan itu juga menolak.


"Bee turun dulu, Nak."


"Ndak au, Bee eyong Daddy. Choco tama Mommy acah."


Ken menghembuskan nafas panjang. Dia menatap Choco yang semakin mengusak di lantai, sementara De terlihat bergeming saja sambil mengepalkan tangannya.


Alhasil karena tangan Ken hanya ada dua, dia menggendong Choco lebih dulu. "Jagoan Daddy jangan menangis, kan kuat. De juga pelan-pelan tadi dorongnya, karena nggak sengaja yah."


Ken berusaha mendamaikan keduanya.


"Ndak, De doyong Choco teyas, Choco auh atit, Daddy," adu Choco sambil sesenggukan. Sedangkan De sudah menjep-menjep, bibirnya mengatup dengan kedua tangan yang menyatu di depan dada.


"De, sama Nanny sini," ajak Rathi, tetapi bocah itu bergeming. Lalu detik selanjutnya De malah berlari keluar kamar. Dan tiba-tiba terdengar suara De yang berteriak kencang.

__ADS_1


"Daddy, ndak ayang De. De ndak dieyong ayah Choco cama Bee!"



__ADS_2