Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Hasil DNA


__ADS_3

Semua orang yang ada di sana terperangah mendengar pernyataan Reymond. Tak terkecuali Nora yang ada di ujung sana, matanya membulat sempurna dengan wajah yang pias, apa maksud ayahnya bicara seperti itu?


Reymond memang ayah tirinya, tetapi kenapa bisa pria paruh baya itu datang, dan mengaku sebagai ayah kandung Zoya?


Nora menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia terus menggelengkan kepala, merasa tak percaya.


"Tidak, tidak mungkin Zoya anak Papa," gumam wanita itu sambil terus menatap ke depan sana, ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Ken berganti menggenggam tangan Zoya dengan sangat erat, ingin memberitahu pada semua orang bahwa tidak ada yang dapat memisahkan dia dan gadisnya.


Termasuk pria paruh baya yang baru saja mengaku-ngaku menjadi ayah kandung Zoya.


"Jangan bicara sembarangan, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Ken dengan sorot mata menajam.


Reymond mengambil hasil tes DNA antara dirinya dan Zoya dari balik saku jasnya. Dia menyerahkannya pada Ron. "Bukalah, itu hasil tes DNA antara aku dan Zoya." Ujar Reymond, lalu menatap Zoya dengan sorot mata penuh penyesalan.


Ron membuka amplop tersebut, dan membeberkan lipatan kertas itu, agar dia bisa membaca isinya. Seketika mata Ron terbelalak lebar, di sana dengan jelas mengatakan bahwa hasil tes tersebut adalah positif, Reymond adalah ayah biologis Zoya.


"Tuan," panggil Ron, Ken mengangkat kepalanya, begitupun dengan Zoya.


"Hasilnya positif, itu artinya_"


"Tidak mungkin!" potong Ken cepat sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak mungkin kalau Reymond adalah ayah dari gadis yang dicintainya. Ini kebetulan yang sangat tidak bisa dia percaya.


"Tidak mungkin bagaimana maksudnya, Ken? Aku sudah membuktikannya dengan tes tersebut, lalu apa yang ingin kamu pertanyakan lagi? Bukankah semuanya sudah cukup?" tanya Reymond membalas tatapan mata Ken yang sama sekali tidak ada ramah-ramahnya.

__ADS_1


Ken hendak bicara untuk menanggapi ucapan Reymond, tetapi di bawah sana, ada sebuah tangan yang menahannya. Zoya menggenggam erat tangan Ken, seolah memberi isyarat agar pria itu diam.


Setelah itu, Zoya melepaskan tangan Ken dan melangkah ke arah Reymond. Mata Ken membola. "Baby." Panggil Ken, tetapi Zoya bergeming, dia terus melangkah hingga dia berdiri tepat di hadapan orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


Melihat itu, kedua netra Reymond berkaca-kaca, tetapi di detik selanjutnya, pria paruh baya itu dibuat terperangah.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya yang sedikit keriput. Dan tamparan itu berasal dari tangan Zoya, Reymond memegangi pipinya yang terasa panas, sementara semua orang terbelalak lebar melihat aksi frontal Zoya.


Tak terkecuali Nora di belakang sana.


"Jadi kamu yang membuat Mommy harus menanggung semuanya? Kamu orang yang sudah membuat Mommy menderita hingga di ujung usianya? Kamu orang yang membuat Mommy harus banting tulang menghidupiku?"


"Setelah apa yang kamu lakukan, kamu tiba-tiba datang, apa kamu kira aku akan menerima pria pengecut sepertimu? Jika disuruh untuk memilih, aku lebih baik tidak punya Ayah untuk seumur hidupku, daripada aku harus menjadi anakmu," ucap Zoya dengan rasa yang menghantam dadanya.


Di tempatnya, Zoya terisak kencang. Kekecewaan mendalam tengah dia rasakan pada pria yang dia kira telah meninggalkan Maurin dan juga dirinya.


Reymond tak kalah sedih, dia mengaku salah dan berdosa. Demi bersama Imelda, yang kala itu sama-sama tengah mengandung, Reymond tega meninggalkan Zoya dan ibunya. Masa lalu itu adalah dosa terbesarnya, dan dosa yang selalu menghantuinya sampai sekarang.


"Maafkan Papa, Zoy," lirih Reymond dengan tangis yang pecah.


Semua orang mendadak haru dengan pemandangan siang ini, teriknya matahari seolah tak menjadi penghalang bagi mereka, semuanya bergeming, tidak ada yang meninggalkan tempat masing-masing.


"Mudah sekali kamu bicara seperti itu. Mengatakan maaf setelah semuanya hancur, apa kamu tahu? Apa kamu pernah berpikir sedikit saja, bagaimana kesakitannya Mommy ditinggalkan olehmu? Pria badjingan, kamu adalah pria badjingan sesungguhnya. Lebih baik kamu pergi, jangan karena Mommy Maurin sudah tidak ada, kamu datang seenaknya."


Mendengar nama Maurin, seketika Reymond mengangkat kepalanya, dia menggeleng cepat. "Ibumu bukan Maurin!" cetus pria paruh baya itu, dia teringat dengan wanita malam yang sudah mengasuh Zoya, dan dia bukanlah ibu kandung gadis itu, entah bagaimana ceritanya, Zoya bisa berada di tangan Maurin.

__ADS_1


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" sentak Zoya dengan mata yang membulat sempurna.


"Baby, Maurin bukan ibu kandungmu," timpal Ken membuat Zoya langsung memicingkan mata ke arahnya.


"Maksud Daddy? Aku bukan anak Mommy?" tanya Zoya dengan bibir yang bergetar hebat.


Pelan, Ken mengangguk, karena begitulah adanya. Saat dia dan Maurin sepakat untuk tinggal bersama, dia menjelaskan siapa Zoya dan asal usul gadis kecil itu. Dan hal itu hanya dia dan Maurin yang tahu.


Tiba-tiba Zoya tertawa, tertawa pilu di atas rasa perihnya karena ternyata semua orang telah membohonginya.


"Kalian." Tunjuk Zoya pada semua orang, termasuk Ken. "Tidak ada yang dapat aku percaya! Kalian semua pembohong!" Teriak Zoya meluapkan semua emosinya.


Dia menatap nanar, dengan rasa sakit yang kembali mengikat dadanya, dia mencoba lari dari tempat tersebut. "Aku benci kalian, aku tidak mau bertemu kalian semua!"


"Zoya!" teriak Reymond.


"Baby!" Ken hendak mengejar Zoya, tetapi Ron segera mencegahnya.


"Tuan, biar aku saja. Nona tidak mungkin bisa menerima ini dengan mudah," ucap Ron memberi pengertian, Ken memejamkan matanya sejenak, kenapa masalah mereka bertambah rumit seperti ini, dengan rasa kesal Ken meninju udara di sekitarnya.


Mau tidak mau, dia membiarkan Ron yang mengejar Zoya.


*


*


*

__ADS_1


Terus gue anak siapeeee😭😭😭 Dad, kasih gue python Dad, kasih gue python yang suka gelantungan😩😩😩


__ADS_2