Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Melemparkan Diri


__ADS_3

Sekuat tenaga Zoya membawa kakinya melangkah, jantungnya seperti diremas-remass melihat Ken menggenggam tangan Nora.


Baru saja senyum manis itu menghiasi bibir mungilnya. Seketika semuanya runtuh, Ken kembali menghancurkan harapan indah miliknya.


Seolah hari-hari yang mereka lewati tak lagi berarti, dengan mudahnya Ken membagi cintanya, sesingkat itu Ken merubah segalanya.


"Nona!" Ron mencekal pergelangan tangan Zoya, dia yang senantiasa berdiri di belakang gadis itu, bisa tahu apa yang sedang dipikirkan Zoya saat ini.


"Lepaskan aku, Asisten Ron! Daddy tidak pernah benar-benar mencintaiku!" Zoya meronta meminta dilepaskan, sementara air matanya melaju kencang, senantiasa menghiasi wajah cantik gadis itu.


"Nona, dengarkan penjelasan Tuan dulu, dan Nona juga perlu memberitahu hasil pemeriksaan itu, supaya kalian tidak lagi salah paham lagi," ujar Ron, masih menahan tangan Zoya yang tak berhenti meronta-ronta.


"Apa yang perlu dijelaskan? Setelah aku melihat semuanya, aku sadar, Daddy tidak pernah percaya padaku, dia menganggapku sama seperti wanita murahan di luar sana! Jadi lepaskan aku!"


Zoya berteriak sekuat tenaga, hingga urat-urat di lehernya terlihat sangat kentara. Setelah mengatakan itu, dia kembali tergugu, ludahnya susah payah dia telan, dengan nafas yang tersengal-sengal.


Sementara di dalam sana, Ken samar-samar mendengar keributan dari arah luar, dengan kasar Ken menghempaskan tangan Nora hingga wanita itu terhuyung.


"Argh!" Nora tersungkur di atas lantai, dia mendesis kesakitan.


"Cepat bereskan semua barang-barangmu, dan pergi dari sini! Jangan menungguku bersikap lebih kasar lagi dari ini!" cetus Ken sebelum keluar dari kamar wanita itu.


Nora menengadah, dengan gerakan cepat dia berlari dan memeluk tubuh Ken, menahan pria itu agar tidak pergi. "Ku mohon jangan seperti ini, Kak! Aku tahu kamu bohong, kamu tidak mungkin melakukan itu dengan Zoya." Ucap Nora dengan gelengan di kepalanya.


Ken menggeram kesal, dia berusaha melepaskan tangan Nora yang memeluk erat pinggangnya, lalu mencengkram erat pergelangan tangan wanita itu hingga Nora meringis.

__ADS_1


"Tapi sayangnya itu semua adalah kebenaran! Aku dan Zoya sudah melakukannya, bahkan kami sering menghabiskan malam berdua, kamu tahu? Tanda yang ada di leher Zoya adalah milikku! Dan kamu dengan bodohnya menganggap adikmu yang melakukannya, kamu membawa badjingan cilik itu ke sisi Zoya agar kamu leluasa mendekatiku? Cih, taktikmu murahan!" cetus Ken dengan penuh penekanan.


Matanya senantiasa menyalak tajam dengan gigi geraham yang saling bertautan. Nafasnya menderu hebat, dengan dada yang naik turun.


Mendengar itu, air mata Nora mengalir dia benar-benar merasa bodoh karena baru mengetahui semuanya. Namun, bukan itu permasalahannya sekarang, dia menginginkan Ken, ingin pria ini bisa melihat sedikit saja ketulusannya.


Tak peduli meski Zoya sudah tidur dengan pria yang dicintainya, Nora ingin egois kali ini, dan memiliki Ken juga.


Kalau cara baik-baik memang tidak bisa, maka dia akan menggunakan cara lainnya. "Kalau kamu memang melakukannya dengan Zoya, kenapa kamu tidak melakukannya denganku? Kamu mau aku yang memulainya lebih dulu? Ayo, aku akan lakukan untukmu!" Cetus wanita itu tanpa tahu malu.


Bahkan satu tangan Nora menurunkan lengan dressnya yang hanya berupa lilitan tali kecil, dia sengaja berpakaian seperti itu untuk menyambut kepulangan Ken, kabar yang dia dapat dari Bi Lila.


Melihat itu, cengkraman tangan Ken melemah. Dia menelan ludahnya dengan mata yang menelisik pergerakan Nora.


Nora sudah tidak memikirkan lagi urat malunya, yang ada dalam otaknya sekarang adalah memiliki Ken dan memisahkan pria itu dengan Zoya.


Nora menelan ludahnya kasar. "Ayo lakukan denganku, aku sudah melemparkan diriku padamu, bahkan aku suka rela melepaskan semuanya di hadapanmu. Bukankah ini yang kamu mau? Apa Zoya juga seperti ini padamu?"


Mendengar itu, Ken mengepalkan tangannya, dia terus bergeming hingga Nora mendekat ke arahnya. Wanita itu dengan berani meraba dada Ken, ingin memancing pria ini agar menyerang dirinya.


"Aku ada untukmu, Kak. Bisakah kamu melihatku sedikit saja. Aku akan memuaskanmu kapanpun kamu mau," ucap Nora masih dengan jemari lentiknya yang bersarang di dada Ken, dan mulai turun ke bawah sana.


Namun, di saat Nora ingin menyentuh benda itu, Ken langsung menahannya. Dia menatap Nora dari samping, dan Nora pun melakukan hal yang sama, hingga ekor mata mereka bertemu, saling memberi tatapan.


"Kamu mau menjadi wanitaku?" bisik Ken membuat Nora langsung melebarkan kelopak matanya, bagai mendapat kesempatan emas, Nora langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Ken menarik bibirnya ke atas. "Tapi sayangnya aku tidak bernafsuu padamu, sentuhanmu tak sehebat sentuhan Zoya. Kamu tidak mampu membuat senjataku bangun. Jadi urungkan niatmu, dan LEKAS PERGI DARI SINI!" Teriak Ken tepat di telinga Nora.


Ken pikir dia akan seperti dulu, mampu melakukan hubungan dengan wanita manapun yang melemparkan dirinya dengan sukarela. Namun, ternyata Ken salah, sedari tadi wajah Zoya terus mengitari otaknya.


Tidak bisa, dia tidak bisa jika wanita itu bukan Zoya.


Nora kembali mendapat pukulan telak, dia tidak bisa lagi untuk maju meskipun satu langkah. Dia sudah kalah dari Zoya.


"Tuan," panggil satu pengawal dari luar sana, kebetulan pintu kamar itu terbuka.


Ken menoleh.


"Maaf, Tuan. Saya menganggu anda, tapi Nona Zoya di bawah sana sedang ribut dengan asisten Ron. Sepertinya Nona Zoya_"


Belum habis pengawal itu memberi informasi, Ken langsung meninggalkan kamar itu dan turun ke bawah untuk menemui Zoya. Ada apa? Ada apa dengan Zoyanya?


*


*


*


Bae Bae ya Dad sama gue biar puasanya nggak lama 🥱🥱🥱


Pusing ueee mikirin python Daddy Thor 😩😩😩

__ADS_1



__ADS_2