Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #28


__ADS_3

Pagi datang.


Hari ini di depan mansion Ken terlihat sangat ramai. Tepatnya di jalan kahyangan nomor kosong-kosong blong, semua orang mengantri minyak yang dibagikan oleh pengawal, atas perintah Ken.


Emaknya python sudah datang lebih dulu, mengantri paling awal sejak jam 1 malam. Sementara yang lain berbaris di belakang, demi mendapatkan minyak gratis yang harganya tengah melonjak mahal.


Penggorengan bisa tak terpakai kalau begini terus ceritanya. Untung saja, tetangga mereka hamil dan mau berbagi rejeki berupa minyak dengan masing-masing orang satu kardus.


Bahkan karena mendengar berita itu, ada satu keluarga yang mengantri satu sampai lima orang, agar mendapat persediaan minyak sampai lebaran. Lumayan kan bisa buat goreng rengginang.


Pokoknya lebaran nanti mereka akan berterima kasih pada Ken pakai rengginang saja, atau keripik pisang yang diolesi maseko, agar gurih-gurih tapi bikin be*go.


Yang di luar sedang ribut minyak, sementara yang di dalam tengah muntah-muntah di wastafel. Kegiatan baru yang akan rutin Ken hadapi, yakni mendapat serangan morning sick. Sejak tadi, tak henti-hentinya dia mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.


Padahal dia belum makan apa-apa. Rasanya benar-benar luar biasa menyiksa. Perutnya terus digodok, hingga bergejolak dan terus meminta keluar.


"Huwek!" Cairan kekuningan sudah berkali-kali dia keluarkan, tetapi baru saja melangkah menjauh dari wastafel, rasa mual itu menyerang dengan begitu tiba-tiba.


"Sabar, Hubby. Kamu kuat!" ucap Zoya memberi semangat pada suaminya. Dia ikut memijat tengkuk Ken, dan terkadang mengusap punggung lebar pria tampan itu.


Dia juga merasa cemas dengan keadaan Ken yang seperti ini, tetapi dia juga bingung harus apa. Karena semua ini adalah hal lumrah.


Ken tak menjawab, dia hanya fokus dengan siksaannya. Baby pythonnya benar-benar tengah melakukan balas dendam, dulu dia suka sekali menghajar Zoya. Sekarang boro-boro mau menghajar, mau turun ke bawah saja dia merasa tak kuasa.


Ken mencuci mulutnya dengan air yang mengalir. Lantas dia menatap Zoya dengan tatapan sayu nyaris tak bertenaga. "Baby." Panggilnya lemah, Zoya segera menopang tubuh kekar Ken, dan Ken malah menghimpitnya hingga punggung Zoya menempel di dinding.

__ADS_1


"Mau ini!" Tunjuk Ken pada salah satu buah kesukaannya. Zoya sedikit terperangah, dia hendak menjawab tetapi melihat Ken yang sudah tak berdaya, akhirnya dia mengangguk.


"Tapi sambil duduk, Hubby kan lemas," ucap Zoya, lalu memapah tubuh Ken hingga mereka sampai di ranjang.


Keduanya duduk berdampingan, dan Ken tidak mengangkat kepalanya sedikitpun. "Mau ini, Baby." Ulang Ken, kini dia sudah menyentuhnya. Rasa mual hampir saja menyerang, tetapi Zoya langsung memberikan apa yang Ken mau, hingga pria itu melahap pucuk merah jambu milik Zoya, sebagai penawarnya.


Bagai bayi yang kehausan, Ken menyesap cukup kuat, hingga Zoya melenguh. Akan tetapi sebisa mungkin dia tidak mau terpancing. Dia hanya mengusap rambut Ken, dan juga dahi pria itu, dahi yang dipenuhi oleh peluh.


"Apa rasa mualnya jadi hilang?" tanya Zoya, yang melihat Ken mulai asyik dengan sesapannya.


Ken mengangguk tanpa melepaskan mulutnya. Satu tangan pria itu mulai memainkan dada Zoya yang satunya. Dia mulai bisa menguasai diri, apa setiap pagi dia harus seperti ini?


Merasa cukup puas, Ken menghentikan aksinya. Dia memandang wajah Zoya yang sedikit memerah. "Baby, bisa tidak sih aku cuti sembilan bulan? Rasanya aku ingin di rumah saja. Bersamamu."


"Hei, bicara apa kamu, Baby? Jangan sembarangan!" protes Ken dengan alis yang menajam, tanda tak suka.


"Kita realistis saja, Hubby. Mana ada wanita yang mau hidup dengan pengangguran."


"Hanya sembilan bulan, Baby!"


"Tidak ada! Daddy twins harus kuat, ayo bekerja. Kan tadi sudah diberi asupan tenaga," ucap Zoya sambil menegakkan tubuh Ken, meski mual-mualnya sudah mereda, tetapi badan Ken masih terasa lemas.


Ah, dia ingin rebahan saja di rumah!


"Baiklah, aku akan mandi dan siap-siap ke kantor. Oh iya, di depan apa sudah selesai bagi-bagi minyaknya? Aku takut bertemu mereka," keluh Ken dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Takut kenapa? Memangnya mereka jahat pada, Hubby?"


"Bukan, Sayang. Mereka suka pythonku, aku takut kalau aku keluar, aku langsung dibungkus pakai kardus, nanti kamu bagaimana?"


Mendengar itu, Zoya langsung tergelak kencang. Kenapa Ken berpikir sampai sejauh itu sih? Padahal para reader anuable sudah berpindah haluan pada cacing Alaska, jadi harusnya Ken tenang saja.


"Baby, jangan tertawa. Kamu harus pikirkan cara!


"Haha, untuk apa memikirkan cara? Mudah saja, kalau pythonmu dikardusin, ya aku tinggal cari anaconda."


Ken melebarkan kelopak matanya. "BABY!!! JANGAN CARI ANACONDA!" Rengek Ken tidak terima.


*


*


*


Ngothor : Oh Tuhan... Ku ingin dia... Rindu dia... Inginkan dia (Anaconda) 🤣🤣🤣 Lagi muntah-muntah yekan, bininya malah cari anaconda.


Daddy : Berisik, Thor!


Ngothor : Nggak papa, seneng gue lu sengsara 🤣🤣🤣


Daddy : THORRRRRR!!!😤

__ADS_1


__ADS_2