
Di ruangan kerja Ken, pria itu senantiasa memangku gadisnya sambil bekerja. Dia sama sekali tidak kerepotan, padahal bobot tubuh Zoya lumayan berat.
Sebenarnya gadis itu tidak enakan, takut mengganggu pekerjaan Ken, tetapi apa daya, Ken selalu saja memaksanya.
"Dad, lebih baik aku duduk di sofa saja," ujarnya untuk yang kesekian kali, karena selama itu dia belum berhasil untuk membujuk Ken.
Untung saja, Ron tidak ada di sana. Karena pria itu ditugaskan oleh Ken untuk menemui klien, menggantikan dirinya.
"Kenapa, Sayang? Aku lebih suka seperti ini, pekerjaanku jadi cepat selesai, apalagi kalau kamu memberiku ini." Tangan kiri Ken meremat salah satu bongkahan milik Zoya.
Dan Zoya langsung mencubit paha pria matang itu. "Jangan macam-macam, Dad. Ingat kita berada di mana, lagi pula kalau sampai ada yang masuk dan melihat kita bagaimana?"
Ken terkekeh mendengar Zoya yang berbicara lebih panjang dari biasanya. Dia memutar tubuh Zoya agar duduk menyamping.
"Tenang saja, Sayang. Aku akan menyuruh sekertarisku agar memberitahu para karyawan, supaya tidak masuk ke ruanganku. Bagaimana?"
"Tetep tidak mau!"
"Ayolah, Baby. Sebentar saja, sampai makan siang."
"Aku bilang tidak!"
"Tapi aku akan tetap melakukannya." Ken langsung menyingkap blouse yang dikenakan Zoya, dengan satu tangan yang menahan pergerakan gadis itu.
"Daddy!"
"Shut up, Baby. Makanya menurut saja apa kataku, kalau begitu kan aku tidak perlu memaksamu."
"Iya tapi telepon dulu sekertarismu itu, supaya tidak ada yang masuk ke dalam sini!" Ketus Zoya akhirnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Ken menyeringai penuh. Ah, suka sekali kalau Zoya seperti ini, dia segera menghubungi Siska, memberitahu wanita itu agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangannya selagi ada Zoya.
Tanpa terkecuali, Ron juga.
Dan Ken langsung melanjutkan aksinya. Dua tangan Ken mengotak-atik layar menyala di depannya, sementara mulut itu tak berhenti untuk bergerak, menyesap buah kesukaannya.
Zoya terkadang beringsut kegelian, dan terkadang geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan kelakuan Ken, kenapa pria ini suka sekali menjadi bayi besar.
"Dadhhh!" panggil Zoya sambil melenguh, saat Ken memainkan lidahnya.
Ken menengadah, tanpa melepaskan pucuk yang memenuhi mulutnya. Menunggu Zoya kembali bersuara.
"Apa kamu selalu seperti ini?" tanya Zoya penasaran, pikirannya tiba-tiba melalang buana, memikirkan bahwa Ken selalu melakukan ini semua dengan banyak wanita.
Dan lagi-lagi semua itu membuatnya merasa kesal sekaligus tak terima.
"No, Baby. You are the first (Kamu adalah yang pertama) aku tidak pernah membawa wanita manapun ke kantor, kecuali kamu. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja pada Siska, aku tidak pernah bermain di ruang kerja." Ken mengusap surai kecoklatan milik Zoya.
Semua orang memang hampir mengenal siapa Ken, seseorang yang kerap bergonta-ganti pasangan. Dan entah sudah berapa wanita yang dia pakai.
Namun, percaya lah. Zoya tetap menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya di Tan group, karena dia tidak pernah sekalipun membawa wanitanya ke sana.
Dia selalu keluar masuk check in hotel, atau bisa melakukannya di rumah bersama Maurin, bahkan sepuasnya.
"Up to you, Baby. Kalau kamu memang tidak percaya padaku, tapi yang jelas itulah kenyataannya," ujar Ken tak masalah.
Dari reaksi wajah Zoya, dia bisa tahu, gadis itu belum dapat percaya sepenuhnya.
Ken melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia tersenyum simpul, lalu melirik ke arah Zoya.
__ADS_1
"Saatnya makan siang," ujar Ken seraya merampas kembali buah yang masih terpampang di depannya.
Sementara di luar sana, Ron baru saja tiba, dia ingin masuk ke dalam ruangan Ken, tetapi langsung dicegah oleh Siska.
"Asisten Ron!" Pekik wanita itu seraya menginterupsi Ron dengan kedua tangannya, menyuruh pria itu supaya berhenti, dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam sana.
"Ada apa, Sis?" tanya Ron lengkap dengan kening yang mengernyit. Lalu menurunkan tangannya yang hampir saja menyentuh daun pintu.
"Itu, Tuan Ken melarang semua karyawan untuk masuk ke dalam ruangannya, termasuk anda," ujar Siska sesuai dengan perintah Ken.
Dan kening Ron bertambah mengernyit. "Lho kenapa? Bukankah sekarang waktunya makan siang?"
"Tadi Tuan Ken bicara seperti itu di telepon, karena sepertinya dia sedang asyik dengan gadis yang dia bawa tadi pagi," Siska sedikit berbisik di ujung kalimatnya.
Puk!
Ron langsung menepuk jidatnya. Karena lupa ada Zoya di dalam sana. "Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa. Untung dia menyuruhku pergi, kalau tidak mungkin aku sudah mati berdiri."
Dan Siska hanya bisa terkekeh mendengar itu.
*
*
*
Suka banget sih bikin anak orang cenat-cenut 🤧🤧🤧
__ADS_1