Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Anak Pintar


__ADS_3

Begitu mereka sampai di sebuah hotel, Ken langsung melakukan check-in. Satu kamar dengan harga kelas tinggi dia bayar tunai, demi kenyamanan gadisnya.


Access card sudah di tangan, mereka naik ke atas kamar tersebut menggunakan lift yang tersedia.


Saat mereka sampai di lantai yang dituju, Ken menarik tangan Zoya yang sedari tadi sudah ada dalam genggamannya.


Rasa tak sabar mulai muncul, gelegak hasrat itu semakin menggelora, naik hingga ke puncak tertinggi naluri lelakinya.


"Are you ready, Baby?" bisik Ken tiba-tiba, saat mereka sampai di depan sebuah kamar. Ken membuka pintu dengan access card yang ada di tangannya.


Belum sempat menjawab, Zoya sudah diserang oleh Ken. Tubuh tegap itu membawanya masuk ke dalam dengan dorongan bibir yang terasa begitu kuat.


Membuat Zoya mengeratkan pelukan tangannya di leher Ken. Selagi benda kenyal itu bertautan, tangan Ken sibuk membuka satu persatu yang melekat di tubuhnya.


Siang panas nan memabukan itu baru saja dimulai. Ken membuang seluruh pakaiannya dengan sembarangan, lalu menggiring tubuh ramping itu hingga terjatuh di atas ranjang.


"Have fun, Baby. I will drive you crazy," bisik Ken, lalu mulai menjilati daun telinga itu, hingga Zoya menggeliat geli.


Lidah tak bertulang itu menyergap tubuh Zoya, memberikan pelayanan terbaik hingga membuat seluruh urat syaraf gadis itu menegang.


"Uhhh, Dad!"


Tanpa permisi Ken menanggalkan semua yang ada di tubuh Zoya. Menjadikan gadis itu polos, seperti bayi yang baru saja dilahirkan.


Gadis manis itu mendesaah, membusungkan dada, dalam kendali Ken. Sementara pria yang terus di penuhi kabut gairah itu menatap dengan tatapan lapar.


Kini, dia kembali menjadi bayi besar, menghisap kuat benjolan kecil berwarna pink itu, hingga si empunya melenguh.


"Ah, Sayang." Zoya tidak bisa untuk tidak mengaum, mendesis tanda kenikmatan yang Ken berikan tidak habis-habis.


"Kamu bebas untuk mengeluarkan semuanya, Baby. Aku suka mendengarnya," Ucap Ken di sela-sela kegiatannya.


Dia terus mencecap dari dada turun hingga kebawah. Dan bermuara di irisan yang tengah berkedut itu. Benda lembut yang menggairahkan.

__ADS_1


"Calling my name, Baby." Seiring dengan itu Ken merampas benda kenyal milik Zoya mengulum gemas seolah benda yang ada di dalam mulutnya adalah sesuatu yang paling dia suka.


"Oh, no! Ken!" jerit Zoya sambil mencengkram sprei, merasakan sesuatu dalam tubuhnya nyaris meledak.


Birahi lelaki itu semakin memuncak, ia melesakkan lidahnya kedalam sana.


Menyusur, dan berputar-putar. Membuat getaran di tubuh Zoya semakin hebat, semakin masuk, semakin nikmat.


"Ken, come on, please! Aku tidak bisa menahannya!" pekik Zoya dengan raut yang tak dapat dikendalikan lagi, dia ingin Ken segera memberikan sesuatu yang lebih besar.


Ken menyeringai, ia suka. Zoya menyebut namanya ketika mereka bercinta. Mengakui permainannya yang begitu menggila.


Dan tanpa ba bi bu, Ken segera menaikan dua kaki itu ke bahunya. "As you wish, Baby. I am coming."


Gadis itu sedikit memekik, sesuatu dibawah sana kembali terasa penuh, saat liang sempit itu kembali terisi benda tumpul yang sudah berkali-kali memberinya kesenangan.


"Do you like it?" tanya Ken sambil memompa tubuhnya.


Seperti sudah ikut gila, Zoya mengangguk, karena Ken telah mengambil kesadarannya.


Dan yang mampu Zoya lakukan hanyalah mendesaah, desahaan yang membuat kekuatan Ken semakin bertambah.


Sama halnya dengan Zoya. Ken pun dibuat melayang-layang. Dirinya selalu termanjakan dengan himpitan di bawah sana.


"Dad, faster, please!" pinta Zoya matanya terpejam menikmati sengatan python berbisa milik Ken.


Dia merasa gelombang itu akan datang, dan dia ingin Ken mempercepat gerakan tubuhnya.


"Kita lepaskan bersama, Baby."


Ledakan itu semakin terasa, mulut Zoya menganga, dengan sedikit menyeringai Ken memberikan apa yang gadisnya mau. Ia menghentakkan miliknya lebih kuat.


Hingga akhirnya kedua orang itu membiarkan tubuh mereka mendapat sebuah pelepasan yang dahsyat.

__ADS_1


Ken memberi jeda sejenak agar puncak nirwana itu sempurna. Hingga Ken melepas penyatuan mereka, dia membanting tubuhnya di samping Zoya, dan memiringkan tubuh gadis itu.


"Kita lakukan lagi," bisik Ken.


Dan siang itu mereka mencapai puncak berkali-kali, hingga Zoya kehabisan tenaga dan merintih, meminta agar Ken melepaskannya.


Setelah mendapat pelepasan yang kesekian kali, Ken baru menyudahi permainannya. Lalu memesan makanan untuknya dan juga Zoya.


Selagi menunggu, Ken menyalakan sebatang rokok, dan duduk di samping jendela. Menjauh dari Zoya.


Zoya bangkit dari tidurnya, lalu duduk dengan memegangi selimut. Menatap Ken. "Daddy!" panggil Zoya dengan sedikit ketus.


Mendengar itu, fokus Ken yang tadinya keluar sana, menjadi teralihkan. "Ada apa, Sayang?"


"Aku sudah bilang berapa kali? Berhentilah merokok, itu tidak baik," ujar Zoya mengingatkan.


Di samping tidak suka baunya, dia juga takut Ken kenapa-kenapa.


Ken mengulum senyum, dan mematikan benda bernikotin yang tersisa setengah itu ke dalam asbak.


Pria itu melangkah ke arah Zoya dan duduk di samping gadis itu. Ken mengecup sekilas bibir yang tengah mencebik lucu itu, membuat Zoya langsung memukul dadanya.


"Daddy, aku serius!" cetusnya.


"Iya, Sayang, iya. Kalau begitu beri Daddy penawarnya, baru Daddy akan berhenti," ujar Ken sambil menyelipkan anak rambut Zoya.


Gadis itu paham apa yang Ken inginkan, dia langsung mengikis jarak dan mencium Ken lebih dulu.


"Anak pintar," puji Ken.


*


*

__ADS_1


*


Nggak mau tahu, Daddy minta disirem kembang sama kupiii pokoknya😤😤😤


__ADS_2