Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Hukum Alam


__ADS_3

Kali ini Baby A benar-benar tidak ingin kecolongan lagi, dia terus menempelkan mulutnya di pucuk dada sang ibu, sama sekali tak mau terlepas, Baby A terus menolak meski Zoya sudah berusaha menggantinya dengan dot.


Padahal kedua mata bayi tampan itu sudah terpejam, tetapi entah kenapa saat Zoya melepas susuannya Baby A akan terbangun, dan kembali menangis, seolah tahu rencana busuk sang ayah malam ini.


Melihat itu, Ken menghela nafas panjang, bahunya turun, karena sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan bayi cilik itu. Bisa-bisanya Baby A tahu kalau dia dan Zoya sedang melakukan ritual untuk menyenangkan pythonnya.


"Baby, ini benar-benar anakku?" tanya Ken nyeleneh. Pertanyaan yang terlintas, jika bayi-bayi itu bertingkah aneh.


Zoya lantas mendelik, menatap Ken dengan tatapan nyalang. "Ya iyalah, terus anak siapa? Kamu kira sifat rakusnya ini menurun dari mana? Ya jelas dari kamulah, Hubby." Ketus wanita itu.


"Tapi, Sayang, ini sudah hampir makan malam lho, dan sampai sekarang dia tidak mau melepaskanmu, dia ini kecil-kecil sudah pintar berakting yah?" Ken berkacak pinggang, tak terima kenyataan bahwa Baby A memiliki sifat yang sangat mirip dengannya.


"Pintar akting bagaimana? Anak kecil itu selalu jujur, tidak ada akting-akting, memangnya kamu? Bilang cinta padaku saja susah sekali, sampai harus menunggu beberapa tahun kemudian, kalau waktu itu aku diambil orang bagaimana? Menyesal kamu pasti," cerocos Zoya, mulai terpancing dengan ucapan Ken yang menyalahkan anak mereka.


Ken menahan nafas dengan mulut yang menganga mendengar jawaban istrinya. "Baby, kenapa kamu malah bicara yang tidak-tidak, aku sedang membahas An lho, kok malah ke masa lalu?"


Zoya mendengus kasar, lalu melangkah ke arah sisi ranjang untuk duduk. "Ya justru dari masa lalu itu, sifatmu jadi menurun ke anak-anak, kamu kan begitu, pintar berakting. Tidak ingat kamu suka membohongi Kak Nora?"


Haish, kenapa malah ke mana-mana?


"Sayang," rengek Ken sambil mendekat ke arah Zoya, tidak memiliki argumen lagi untuk membantah, Ken sudah mengulurkan tangannya ingin memeluk wanita itu, tetapi Zoya segera menepisnya.

__ADS_1


"Sudah sana, kalau tidak terima ini anakmu, kamu keluar saja," cetus Zoya lagi, tiba-tiba merasa kesal dengan sikap suaminya. Ken cemberut, dia masih berusaha memeluk Zoya meski wanita itu selalu menolaknya.


Sementara di dalam gendongan Zoya, Baby A sedikit membuka matanya, menatap Ken seolah meledek. Ken membalas tatapan mata Baby A dengan alis yang bertaut, tetapi begitu mengingat Zoya yang sedang kesal, Ken merengek lagi, meminta ampun.


"Maaf, Sayang. Aku hanya bercanda, aku tidak bicara serius. Aku hanya merasa heran saja kenapa dia bisa bersikap seperti itu," ujar Ken, kini Zoya hanya bergeming. Tubuhnya sudah seperti dililit oleh dua ular, mau lari ke manapun rasanya tak bisa.


"Sayang," panggil Ken merengek, karena Zoya tidak lekas menjawab ucapannya. Pria tampan itu benar-benar sudah seperti seorang kakak yang cemburu melihat sang ibu lebih perhatian pada adik-adiknya.


Dan hal itu membuat para baby sitter yang menonton, hanya bisa melipat bibir ke dalam, menahan tawa. Lagi-lagi mereka melihat sisi lain dari majikannya. Sikap yang hanya ditunjukkan di depan istrinya.


"Iya-iya, sudah sana, kamu makan duluan," jawab Zoya akhirnya, meski sedikit ketus, tetapi Ken tetap bersyukur, karena Zoya tidak mendiaminya.


Ken menaruh dagunya di bahu Zoya, menatap wanita cantik itu dan melandaskan sebuah kecupan singkat. "Kita makan berdua yah, aku ambil makanannya dulu di bawah. Aku akan menyuapimu." Ujar Ken, dan hanya dibalas dengan kata 'hem' saja.


Zoya diam saja, Ken menarik nafas lalu melangkah keluar untuk mengambil makan malamnya. Padahal salah satu baby sitter menawari Ken, agar dia saja yang mengambil makan malam untuk majikannya, tetapi Ken menolak.


Pria itu terus melangkah meski dengan langkah gontai dan tak bergairah. Melihat Ken yang turun sendirian, kakek Abian pun bertanya-tanya, ke mana Zoya?


"Ken, ke mana istrimu? Kenapa tidak ikut turun?" tanya Kakek Abian, Ken memasang wajah masam, dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.


"Hei, ada orang bertanya itu dijawab, apa mulutmu mendadak bisu?" cetus kakek Abian, merasa diacuhkan.

__ADS_1


"Haish, sudahlah, Kek. Aku sedang tidak mood bicara, jangan membuatku kesal. Tidak anak, tidak kakek sama-sama menyebalkan!"


Kakek Abian geleng-geleng kepala mendengar jawaban cucunya itu. "Bicara apa kamu?"


"Tidak, aku tidak bicara apa-apa."


"Ingatlah, Ken. Kamu sudah menjadi orang tua, apa yang kamu perbuat, akan berbalik padamu. Kamu kurang ajar padaku, suatu saat anakmu yang akan membalasnya," ucap kakek Abian, memberi peringatan.


Sontak saja hal itu membuat Ken langsung menghentikan laju tangannya. "Kakek, menyumpahiku?"


"Tidak, Kakek hanya memberitahu hukum alam."


Dan kali ini, Ken hanya bisa diam. Tiba-tiba pikirannya jadi terbuka gara-gara ucapan kakek Abian, dia langsung memikirkan masa depan.


Astaga, apa nanti anakku jadi? Tidak, tidak mungkin, aku tidak akan membiarkan dia menggantikan posisiku. Kakek ini pasti hanya sedang menakut-nakutiku, ya itu tidak mungkin terjadi. Hah, tapi bagaimana kalau iya? Bisa sakit kepala aku setiap hari meladeni tingkahnya.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa bilang amit-amit, Dad🤣🤣🤣


__ADS_2