
Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini tepat kepulangan Ken, dia sudah dihubungi oleh Abian agar langsung ke restoran Nora, karena semua orang telah menunggu di sana, termasuk Zoya.
Ken segera mengiyakan saja keinginan kakek tua itu, mengingat ada sang kekasih yang ikut datang. Kalau tidak ada Zoya, mana sudi Ken ikut makan malam.
Zoya berdandan dengan riasan tipis, wajah imut serta bibir tipis itu dipoles dengan sangat sederhana, tetapi begitu terlihat pas dan sempurna.
Bahkan Raga langsung terpana saat Zoya turun dari mobil, dan berjalan beriringan dengan Nora. Dress hijau mint, dengan lengan pendek itu melekat, menciptakan lekuk yang indah.
Apalagi saat Zoya membalas tatapan dan senyumannya. Makin goyah saja hati Raga.
"Jangan dipandangi terus, dia nggak bakal ilang," ledek Nora sambil menyenggol lengan sang adik, yang sedari tadi masih fokus memperhatikan Zoya.
Mendapat senggolan itu, Raga langsung tersadar, dia salah tingkah hingga menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, mengusir canggung.
"Ayo masuk, Zoy," ajaknya sambil menampilkan senyum terbaik. Jantung pemuda itu tak bisa dikondisikan, bagai ingin meledak, dia terus memompa dengan kuat.
Zoya menganggukkan kepalanya, tak lupa senyum kecil ia sematkan. Hingga mereka sampai di satu meja yang sudah disiapkan, Zoya duduk di samping Nora.
Dan gadis itu langsung mendapat tatapan dari Reymond. Ayah Raga. Tatapan menyelidik, seolah mencari sesuatu dari diri Zoya.
Makan malam belum dimulai, karena mereka masih menunggu Ken, dan para pelayan pun masih kulu-kilir menyiapkan hidangan. Nora sengaja meminta agak sedikit terlambat, karena takut saat sang calon suami datang, makanan sudah dingin.
Zoya memeriksa ponselnya, saat dia merasakan getaran. Tanda sebuah pesan masuk, Ken bilang mereka harus bertemu dulu di basemen restoran, kalau tidak, dia tidak mau bergabung di meja makan.
Dan benar saja, itu pesan dari Ken, karena ternyata pria itu sudah datang dan tengah menunggunya.
"Mmmm... Kak Nora, dan semuanya. Zoya pamit ke toilet dulu yah, permisi," ujar Zoya sopan, dia menganggukkan kepalanya, lalu melenggang pura-pura ke toilet.
Zoya melirik ke sana ke mari, takut ada yang melihat aksinya. Saat dia merasa aman. Dia langsung melangkah untuk menemui Ken.
__ADS_1
Di dalam mobil hitam yang memiliki kaca tidak tembus pandang, Ken tersenyum senang saat melihat Zoya datang.
Pria itu langsung menyambut Zoya dengan antusias, memeluk erat menciumi wajah Zoya. "Sayang, aku sangat merindukanmu." Ujar Ken dengan merengek manja.
"Tapi nanti di meja makan juga kita bertemu, Dad? Kenapa harus meminta aku ke sini?" cetus Zoya.
Ken meminta Zoya untuk naik ke atas pangkuannya. Tak ingin berbasa-basi dan berlama-lama Zoya langsung patuh. Dia duduk berhadapan dan mengalungkan tangannya di leher Ken.
Cup!
Ken merampas bibir ranum itu, memberikan kecupan singkat tanda rindu yang menggebu.
"Di sana kita bisa bertemu, tapi tidak bisa melakukan ini, Baby." Ken menarik tengkuk Zoya, dan menyatukan kembali bibir mereka.
Seolah sudah lama sekali dia tidak merasakan benda kenyal itu, Ken menyesapnya dengan kuat, seolah bibir itu adalah sumber tenaganya.
Zoya tak tinggal diam, dia pun membalas ciuman Ken, dia pun sama rindu dengan pria ini, aroma tubuh Ken yang mulai dia ingat, seolah menjadi candu yang tiada obat.
Decapan itu terus berbunyi nyaring, seakan-akan tidak ada bunyi lain yang paling nikmat yang ingin mereka dengar.
Merasa puas dengan bibir Zoya, kini bibir pria itu mulai turun ke dada. Menghisap tak kalah kuat, hingga si empunya menjerit. "Oh my, Dad." Zoya mencengkram kuat kedua bahu Ken.
Sementara tubuhnya mulai menggelinjang, merasakan sensasi panas yang terbakar. Ken terus seperti itu, memancing Zoya dengan menguluum pucuk itu secara bergantian.
Hingga tangan besar itu merayap, dan melepas tidak sabaran pada kain berenda milik Zoya. Terdengar suara robekan, dan Ken benar-benar merusak benda segitiga itu dengan mudahnya.
"Dad, are you crazy? Kenapa kamu robek?" tanya Zoya ditengah lenguhannya, menikmati setiap sentuhan Ken yang memabukkan.
"I am sorry, Baby. Aku tidak sabar ingin memakanmu," balas Ken, dia membantu Zoya untuk bangkit, dan kain yang terkoyak itu dibuang sembarangan.
__ADS_1
Gadis itu berdecak keras, tetapi tetap mengikuti semua keinginan Ken. Zoya membelakangi pria itu, dan begitu dia duduk ular python itu langsung masuk.
"Ssshhh, Dad," desis Zoya sambil meringis.
Dari belakang sana Ken memeluk Zoya erat, membiarkan senjatanya melesak lebih dalam dan mencari kehangatan.
Ken baru menggerakkan anggota tubuhnya begitu Zoya berhenti mendesis, dan berganti desaahan yang begitu merdu di telinganya.
"Argh, Baby. Kamu selalu membuatku gila." Ken mencecap punggung Zoya, sementara kedua tangannya sibuk dengan buah kesukaannya. Memainkannya dengan begitu lihai, hingga Zoya terus terbuai.
"Daddyhhh!" Gadis itu ikut bergerak seirama dengan Ken, mencari kepuasannya sendiri, seiring gelombang nikmat itu akan datang menghampiri.
Ken meremat kuat pegangan hidupnya. Bergerak semakin cepat, dan saat Ken sudah merasa ingin meledak, dia menekan ular pythonnya, hingga lahar itu membuncah bersama-sama dengan Zoya.
"Hah!"
Nafas mereka terengah-engah.
Permainan yang singkat tetapi begitu hebat.
*
*
*
Maap ye Ron, gue ternyata lebih sayang di uler pitonnn🤧🤧ðŸ¤ðŸ¤
Berasa pengen duduk dipangkuannya😌😌😌
__ADS_1