Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #26


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Ken tidak lagi pergi ke perusahaan. Dia justru lebih memilih untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah.


Dokter sudah memberikan beberapa penjelasan tentang keadaannya di awal kehamilan Zoya. Bahwa dia mengalami kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade.


Hal yang terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicu semua itu adalah stres dan rasa empati suami kepada istrinya yang sedang mengandung.


Ya, mungkin bapak python ini stres karena memikirkan istrinya yang tak kunjung hamil, padahal dia sudah jungkir balik tiap malam. Dari posisi telentang sampai menghentak dari arah belakang.


Namun, mendengar kehamilan Zoya. Sirna sudah pikiran-pikiran buruk itu. Apalagi rasa iri terhadap asistennya, kini dia justru bisa kembali menepuk dada bangga. Karena dia akan memiliki anak kembar yang belum tahu jumlahnya ada berapa.


Mungkin bisa dua, tiga atau bahkan satu lusin. Agar dia bisa membuka kesebelasan sepak bola. Pria tampan itu tak sedikitpun berpikir bagaimana nanti repotnya dia dan Zoya menjaga anak-anaknya.


Yang ada di pikirannya sekarang adalah bisa pamer pada Ron, bahwa dia pun bisa membuahi istrinya. Meski sedikit lambat, selamanya python tidak akan mungkin kalah dengan cacing Alaska!


Keduanya memesan taksi online. Karena Ron akan langsung meluncur ke perusahaan. Dan tidak akan mungkin ada waktu untuk mengantarkan Ken kembali ke mansion.


Ken dan Zoya baru saja masuk ke dalam taksi. Namun, pria tampan itu sudah kembali bermanja pada istrinya. Dia meletakkan kepalanya di bahu Zoya, sementara tangannya mengelus perut wanita itu. Perut yang masih terlihat sangat rata.


"Sayang, aku sudah tidak sabar melihat mereka berlari-lari di dalam mansion. Pasti mereka sangat lucu," ujar Ken sambil membayangkan bocah-bocah kecil berlarian ke sana ke mari dan tertawa.

__ADS_1


Bila nanti saatnya telah tiba. Ken akan pastikan, bahwa dia akan menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya. Tidak lupa pula, memberi kebutuhan batin yang cukup untuk Zoya. Agar wanita itu tidak berpaling dengannya. Apapun itu, anu-anu tetap nomor satu.


Dan jangan sampai dilewatkan! Walaupun usianya bertambah, staminanya sebagai pria dewasa tidak boleh kalah dengan yang masih muda.


Bisa-bisa dia mati, Zoya malah menikah lagi. Tidak boleh!


"Iya, tapi sebelum itu Hubby harus pintar-pintar menahan diri. Ingat apa kata dokter, kita hanya boleh melakukannya tidak lebih dari dua kali. Anak-anak pythonmu masih terlalu kecil untuk dijenguk," jawab Zoya sambil mengelus tangan besar Ken yang masih setia bertengger di atas perutnya.


Mendengar itu, Ken mendongak, menatap Zoya dengan tatapan yang entahlah.


"Iya, Baby. Tapi kalau aku mau mimi cucu boleh, 'kan? Kan tidak sampai itu-itu," rengek Ken yang membuat sang supir taksi meneguk ludahnya. Dia mulai panas dingin dengan pembahasan dua penumpangnya.


Zoya mengangguk sambil mengulum senyum tipis. "Kamu pasti akan mendapatkannya. Mana mungkin aku melewatkan bayi besarku. You are my old Baby. (Kamu adalah bayi besarku.)" Ungkap Zoya yang membuat Ken semakin gemas dengan istrinya.


"Uh, aku jadi tidak sabar ingin mimi cucu." Ken mengusak-ngusakkan wajahnya di dada Zoya, hingga dua benda kesukaannya bergetar karena terasa semakin besar.


Membuat dia semakin betah dan termanjakan kalau mereka tengah bercinta. Ken tidak sadar, bahwa kini posisinya tengah terancam. Karena sebentar lagi, dia akan sulit untuk mendapatkan kenikmatan ini.


Tunggu saja saat itu tiba. Di mana Zoya akan lebih mementingkan asupan untuk anak-anak mereka, ketimbang urusan si ular python yang sudah kenyang, bahkan sebelum mereka menikah.

__ADS_1


Sementara orang yang ada di depan sana hanya bisa menghela nafas dan sedikit menggelengkan kepala. Dia melirik ke arah kursi penumpang, di mana Ken dan Zoya tengah cekikikan dengan obrolan yang mengusik gendang telinga.


"Ah, Tuan, maaf sebelumnya. Bolehkah saya menyalakan radio? Supaya perjalanan kita lebih terasa menyenangkan, seperti study tour begitu lho," ucapnya dengan senyum penuh kepalsuan. Seperti janjinya si onoh noh.


Ken mengangkat kedua alisnya, dan langsung menanggalkan senyum. "Kalau mau nyalakan, ya nyalakan saja. Yang penting kamu tidak melirik-lirik istriku! Dia itu milikku, jadi jangan berani berpikir untuk menggodanya dengan tatapanmu!"


Glek!


Lah wong iki pie? Aku ngomong opo, ndang dibales opo!


(Lah ini orang gimana? Aku ngomong apa, tapi dibalas apa!)


*


*


*


Nggak ada yang mau ambil neng njoyyy, Daddy! Nih calon bapack sensi amat. Kalo ketemu lama-lama gue ketjup nantiπŸ™„πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


__ADS_2