Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Flashback 3


__ADS_3

Semenjak hari itu, pikiran Ken mulai terkontaminasi, dia mulai tak percaya apa itu cinta dan pernikahan. Karena buktinya, sang mama pun pergi meninggalkannya demi pria lain, membuat dia harus kehilangan semuanya.


Tatapan mata Ken selalu kosong, tiga hari dia mengurung diri di dalam kamar, setelah kepergian orang tuanya. Bocah remaja itu sangat depresi, setiap hari dia hanya bisa menangis dan merancau sesuka hati.


Kakek Abian yang ikut merasa prihatin pun selalu membujuk sang cucu, tetapi tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya dia memilih untuk mendobrak pintu kamar Ken.


"Ken, ayo kita makan bersama. Kamu belum makan dari kemarin, jangan buat Kakek khawatir, Nak," ucapnya sambil berjongkok, mensejajarkan diri dengan Ken yang masih sesenggukan, sambil meringkuk memegangi kedua kakinya.


Kamarnya berantakan, semua barang-barang berserakan di lantai, juga pakaian-pakaian bocah remaja itu. Dia tidak peduli pada kehadiran kakek Abian, yang Ken lakukan hanyalah menangis, menangis dan menangis.


Meratapi nasibnya.


Kakek Abian semakin bingung, dan akhirnya dia memilih untuk membawakan Ken seorang dokter. Namun, Ken justru bertambah marah.


Dia bangkit dan menatap nyalang semua orang.


"Aku ini tidak gila, Kek! Aku hanya ingin kalian para orang tua mengerti, bahwa aku juga punya hati! Kenapa kalian melakukan hal itu, sementara kalian sudah punya aku!" Ken mulai merancau. Jarinya menunjuk satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu.


Kemarahan yang sebenarnya dia tunjukkan kedua orang tuanya. Rasa sakit itu seolah mendarah daging, dan sulit sekali disembuhkan.


Sumpah demi apapun, jika otaknya tak lagi bisa dikendalikan, Ken mungkin sudah bunuh diri saat mendapati orang tuanya meninggal.


"Kalau kalian hanya ingin meninggalkan aku sendiri di dunia ini, harusnya kalian tidak perlu menikah, dan membuatku jadi ada! Kalian semua jahat, kalian adalah penjahat yang paling kejam!"


Teriak bocah remaja itu, suaranya begitu menggema ke seisi ruangan. Aksi protes itu pun tak kalah membuat Abian merasa gagal, dia gagal menjadi orang tua yang baik untuk Abraham, dan juga Ken.

__ADS_1


Ken terus seperti itu, hingga dia tenang dengan sendirinya. Dan mulai hari itu, Ken cukup bisa dikendalikan karena akhirnya dia mau bersekolah.


Meskipun tidak benar-benar sekolah, karena Ken menghabiskan waktunya untuk membolos dengan teman-teman sebayanya.


Remaja itu tumbuh dengan liar, bahkan dia pernah kabur dan tidak pulang ke mansion selama sebulan.


Kakek Abian yang menjadi wali dari Ken, selalu dipanggil berulang kali ke sekolah, hanya karena Ken yang tidak pernah masuk di saat proses belajar mengajar berlangsung.


Dari rumah pamit ke sekolah, sudah sampai entah singgahnya di mana.


Nasihat kakek Abian tak lagi didengar, Ken hidup dengan sesuka hatinya, sampai dia mengenal minuman haram dan juga seorang wanita malam yang dia temui di sebuah bar.


Hari itu hari kelulusan, 5 pemuda merayakannya di sebuah bar yang cukup terkenal di Jakarta.


Mereka bersenda gurau, membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Namun, mampu membuat mereka tertawa.


Hingga seorang wanita cantik, yang terlihat sudah cukup dewasa mendekati mereka, tanpa permisi dia duduk di sebelah Ken, yang memiliki pesona jauh lebih kental dari teman-temannya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan suara yang begitu sensual, pun dengan dada yang membusung, hingga kedua benda itu menempel pada lengan Ken.


"Tapi anda sudah duduk, untuk apa meminta izin," timpal Ken ketus sambil menghisap rokoknya, dan menghembuskannya sesuka hati.


Wanita itu terkekeh, begitu anggun hingga menutupi mulutnya sendiri. Semua teman-teman Ken mengerti apa yang diinginkan wanita itu, mereka meledek Ken, hingga remaja itu menjadi bulan-bulanan.


"Ayo Ken sikat, mumpung dia sendiri yang nawarin," celetuk salah satu dari mereka.

__ADS_1


Ken menarik satu sudut bibirnya ke atas, sebenarnya dia merasa jijik dengan sikap wanita di sampingnya. Lihat, para wanita memang seperti ini kan? Menjual tubuhnya, hanya demi uang dan kepuasan.


"Iya tuh, Ken. Rejeki anak sholeh jangan disia-siain." Mereka semua kompak tergelak kencang.


Dan wanita itu hanya tersenyum tipis sambil menggigit bibir bawahnya. Sementara tangannya mengusap lembut pipi Ken, dan Ken langsung menangkap tangan langsing itu.


"Oke, kalau kamu bisa puaskan aku, aku bayar. Tapi kalau tidak, jangan harap kita bertemu lagi," tantangnya dengan seringai kecil.


Padahal hari itu adalah pengalaman pertamanya bermain dengan seorang wanita. Namun, Ken cukup berani memberi tantangan.


Hingga akhirnya, Ken melepas keperjakaannya. Bermain dengan para wanita yang disukainya, tanpa rasa cinta.


Baginya cinta dan pernikahan adalah omong kosong, cinta dan pernikahan hanya mengahasilkan sebuah kesakitan yang tak berkesudahan.


"Aaahhhh," Ken mengerang panjang, saat dia merasakan sebuah pelepasan untuk pertama kalinya.


Flashback off


*


*


*


Dah ya cukup, sudah mengerti kan kenapa Daddy nggak mau nikeh, tapi maunya ikehhh2?

__ADS_1


__ADS_2