
Suasana di luar sana sudah mulai menggelap, matahari sudah berganti shift dengan bulan, tanda malam mulai menjelang. Namun, pria tampan itu masih sibuk di perusahaan. Berkutik di depan layar komputer, karena harus menyelesaikan beberapa berkas untuk proyek minggu depan.
Waktu terus bergulir, Ron sedari tadi mengajak tuannya untuk makan malam lebih dulu, tetapi Ken memilih acuh, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan secepatnya pulang. Tidak ada waktu leha-leha untuk makan.
Ken menyentak tombol enter, saat jam di pergelangan tangannya menuju angka 7 lewat 15 menit. Waktu yang cukup membuatnya frustasi karena dia belum bisa bertemu dengan sang istri.
Pria matang itu menghela nafas panjang, merasa lega, dia bergerak ke kanan dan ke kiri, melemaskan otot-otot dalam tubuhnya. Lembur kali ini benar-benar terasa menyiksa, karena rasa tidak sabar untuk pulang ke rumah, dan bermanja-manja dengan Zoya.
"Huft... Akhirnya, aku bisa menyelesaikannya tepat waktu. Dia pasti sudah menungguku," gumam Ken sambil cengar-cengir sendiri, dia mengusap wajahnya kasar. Lalu melihat ke arah Ron yang tengah memeriksa pekerjaan Siska.
"Ron, cepatlah. Aku ingin segera pulang," ujar Ken membuat Ron langsung mengangkat kepalanya. Menatap Ken yang terlihat tersenyum sumringah sambil mengangkat kedua alisnya, Ron selalu disuguhi wajah seperti itu semenjak tuan gilanya menikah.
Maklumi saja, Ron. Maklumi saja, dia itu pengantin baru.
Pletak!
Ken melemparkan bolpoin ke arah meja Ron yang tak jauh dari meja kebesarannya.
"Kenapa malah melamun? Kamu tidak dengar? Aku ingin cepat pulang, aku ingin bertemu Zoya, mandi bersamanya, makan disuapi olehnya, tidur memeluknya, bahkan aku bisa_"
"Ah iya, Tuan. Saya sudah selesai, lebih baik anda juga siap-siap untuk pulang, saya akan mengantar anda," potong Ron cepat, semakin dibiarkan dia yakin Ken akan bicara melantur ke mana-mana. Yang ada telinganya akan panas mendengar semua ucapan bos kelewat mesuum itu.
Semua yang dilakukan bersama dengan istrinya akan dibeberkan bahkan tanpa saringan. Membuat dia hanya bisa menelan ludahnya kasar.
Lihat saja, sebentar lagi aku juga akan melamar Siska.
Bibir Ken mencebik, melihat Ron yang menghindari ucapan tidak berfaedahnya. Namun, dia tak ambil pusing, yang penting sekarang adalah pulang dan bertemu istrinya. Mengingat Zoya membuat senyum di wajah Ken kembali mengembang dengan sempurna.
"Oh my Baby, Hubby pulang...." ucapnya pada diri sendiri, sambil membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Bahkan dia sedikit bersenandung, memanggil-manggil nama Zoya.
__ADS_1
Sementara Ron mengernyitkan dahinya, melihat kelakuan Ken yang benar-benar mirip seorang remaja yang baru saja mengenal cinta.
Orang gila mah bebas, Ron. Kamu tidak perlu berkomentar apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat jam 8 malam, Ken baru saja sampai di mansion miliknya. Tanpa menunggu Ron membukakan pintu untuknya, Ken segera turun dari mobil.
"Kamu langsung pulang saja, Ron. Terima kasih yah sudah mengantarku," ucapnya sambil menutup pintu mobil. Tanpa menunggu Ron menjawab dia langsung melenggang masuk dengan langkahnya yang lebar.
Sudah tidak sabar ingin bertemu Zoya.
Saat kaki itu melewati pintu utama, Ken langsung berlari menapaki anak tangga. Tanpa mengetuk pintu, Ken menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
Namun, tiba-tiba Ken mematung, dia dibuat tertegun, dia terus memegangi gagang pintu, karena pada saat benda persegi panjang itu terbuka, dia langsung disambut dan disuguhkan pemandangan yang membuat matanya tak mampu untuk berkedip.
Gemuruh di dadanya menggelora hebat, berdetak dengan kencang seolah ingin lompat dari sarangnya.
Berbalut kain tipis berwarna merah menyala, seorang wanita tengah memamerkan lekuk tubuhnya. Zoya duduk dengan anggun, menekuk satu kakinya hingga kain tipis itu turun dan mengekspos paha mulusnya.
Ditambah senyum penuh rona, dan juga kedipan nakal ala Zoya, membuat Ken langsung tak bisa berpikir dengan waras. Hah, sumpah demi apapun, ini semua membuat geloranya langsung menggila.
Pria itu menarik sudut bibirnya ke atas, lelah ditubuhnya seolah menguap begitu saja.
Apalagi saat Zoya menggerakkan jarinya meminta Ken untuk mendekat. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Ken menurut, dia langsung membuang tas dan jasnya ke sembarang arah, lalu merangkak ke atas ranjang.
Dia langsung mengendus aroma vanila yang berasal dari tubuh Zoya. Hasratnya langsung melambung ke angkasa sampai dia memejamkan mata.
"Sudah makan?" tanya Zoya dengan suaranya yang mendayu. Dia memegangi satu sisi wajah Ken dan mengusap bibir pria matang itu.
__ADS_1
Ken membuka mata dan menggeleng cepat. "Belum, Baby."
"Mau makan aku nggak?" tanya Zoya lagi sambil menarik kerah kemeja Ken, dia mencoba bersikap senakal mungkin di depan suaminya. Membuat Ken melebarkan kelopak matanya dengan sempurna.
Pria itu menyeringai menunjukkan gigi-giginya.
*
*
*
Ngothor : Ngapa lu nyengir-nyengir gitu?
Daddy : Ehekkk, anu Thor. Ayolah lanjut 🙃 kan emak gue baek.
Ngothor : Giliran soal anu aja gercep, bilang gue baek segala🙄
Daddy : (Nyolek dagu) Beneran, Thor. Lu mau apa? Ntar gue orderin pake sopepayleter.
Ngothor : Idih najiiss, horang kaya pakenya sopepayleter.
Daddy : Udah jangan protes, lu mau apa, Thor?
Ngothor : Gue nggak mau yang leter-leter, gue mau kembang aja sama mpottt, lu butuh nggak?
Daddy : Wuih ya jelas, katanya pada demen sama python gue, gue intip belum ada yang jadi pensss. Jangan bohongi diriku wahai kisanak🥱🥱🥱
Ngothor : Yaudah sana minta, palakin atuatu yang suka minta icip python lu!
__ADS_1
Daddy : Kalem, Thor... Anak-anak python gue kan baek, ye nggak😚 Kita buktiin yok, biar si emak satu ini kagak ngedumel mulu, dan yang pasti biar python gue lanjay nyarangnya😌 Ehek!