
Reymond menarik tangan Imelda dengan kasar, dari kemarin mereka terus ribut, ribut dan ribut. Membuat kesabaran Reymond yang sudah di ambang batas, seketika habis, dan berakhir bersikap kasar pada istrinya itu.
"Lepaskan aku! Lepas, Reymond!" pekik Imelda seraya meronta-ronta.
Namun, Reymond tidak menggubris sama sekali pekikan Imelda. Dia terus menarik paksa lengan langsing itu, menuju kamar Kakek Theo. Ya, kamar Kakek tua itu adalah tujuannya.
Raga dan Nora yang melihat itu langsung terbelalak lebar, semenjak hari itu, Reymond dan Imelda benar-benar tidak pernah berdamai. Mau kemanapun pria paruh baya itu pergi, Imelda selalu bertanya ini dan itu, seolah tak percaya.
Dan semua itu membuat Reymond merasa sangat muak. Hari ini, dia ingin menyudahi semuanya.
"Papa!" Kedua anak itu kompak memanggil Reymond, membuat langkah pria itu berhenti, Reymond dan Imelda menatap kedua anak mereka, tetapi seolah tak bisa mengendalikan diri lagi, Reymond kembali menarik lengan Imelda.
"Rey, lepas! Kamu menyakitiku!" pekik Imelda semakin keras, dan cengkraman itu semakin terasa kuat.
Nora dan Raga mengikuti langkah Reymond. Yang terus menyeret Imelda.
Bagi Raga sendiri, dia sangat terpukul mendengar kenyataan bahwa ternyata gadis yang dicintainya adalah saudara kandungnya, karena mereka satu ayah.
Berhari-hari dihantui rasa yang gamang, pun dengan hati yang teramat sakit, karena kenyataan memukulnya dengan telak. Ibunya adalah seseorang yang merebut sang ayah dari wanita lain, yaitu ibu Zoya.
Mereka berselingkuh dan menghasilkan aku. Batin Raga, lagi-lagi menyalahkan dirinya.
Dan hal itu membuatnya tak lagi memiliki muka. Dia tak sanggup untuk menampakkan wajahnya di hadapan Zoya. Bahkan dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang diterima gadis itu.
Ibunya sungguh tega!
Dan akhirnya mereka semua sampai di depan kamar Kakek Theo. Reymond mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran, ingin secepatnya dibuka oleh si empunya kamar.
"Reymond kamu mau apa?" tanya Imelda air mata yang bercucuran.
"Diam! Tidak usah banyak tanya!" cetus pria paruh baya itu dengan mata yang senantiasa menyalak tajam.
Tidak ada lagi kelembutan di sana. Yang ada hanya amarah dan rasa kesal yang menggunung, atas semua sikap semena-mena Imelda.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian. Kamar tersebut dibuka oleh Hasna. Kakek Theo baru saja meminum obatnya. Tanpa ba bi bu, atau meminta izin untuk masuk, Reymond kembali menyeret lengan Imelda hingga ke hadapan kakek Theo.
Di belakang sana, Nora dan Raga mengekor. Dan ikut masuk, karena tidak sekalipun Reymond mencegahnya.
"Ada apa?" tanya Kakek Theo dengan suara yang begitu lembut, dia menatap tangan Reymond yang mencengkram lengan putrinya.
Imelda menatap Reymond, air matanya terus luruh membasahi pipi mulusnya. Dan semakin bertambah menderas saat Reymond mengatakan. "Tuan Theo Monaco, hari ini, di hadapanmu. Aku bersumpah, aku mengembalikan Imelda padamu, karena dia bukan istriku lagi!" tegas Reymond tanpa ragu.
Semua orang terhenyak, bahkan mata Imelda seperti ingin lompat dari sarangnya, mendengar kalimat talak itu. Dia menggelengkan kepala, tidak! Reymond tidak boleh menceraikannya.
"Aku tidak mau Reymond, tarik kata-katamu lagi!" pekik Imelda dengan suara yang melengking sambil terisak-isak.
Dan Reymond tidak dapat mengembalikan ucapannya. Tekadnya sudah bulat untuk menceraikan Imelda. "Aku tidak bisa, aku sudah terlanjur muak denganmu. Mulai hari ini, kita berpisah."
Reymond melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di pergelangan tangan Imelda. Dia hendak ingin memutar langkahnya tetapi Imelda seketika ambruk di bawah kaki Reymond.
"Ku mohon jangan seperti ini. Aku mohon, Rey. Aku tidak mau bercerai denganmu, aku janji akan merubah sikapku, tapi aku mohon, jangan seperti ini. Aku mencintaimu," ujar Imelda sambil memeluk kaki Reymond.
"Dia sudah besar, Rey. Dia bisa memilih jalannya sendiri. Dia tidak membutuhkanmu lagi," ucap Imelda tidak pernah sadar dengan kesalahannya.
Dan hal itu benar-benar membuat Reymond semakin yakin, bahwa keputusannya menceraikan Imelda tidaklah salah. Dia menghentakkan kakinya, hingga cekalan tangan Imelda terlepas.
"Rey!!!" panggil Imelda, sambil merangkak, seperti sebuah obsesi yang mendarah daging. Sekali dia mencintai seseorang, maka seseorang itu harus dia dapatkan.
"CUKUP!!!" teriak kakek Theo, yang sudah begitu geram melihat pemandangan di depan matanya. Sementara Raga dan Nora menangis dalam diam, mereka tidak bisa membela siapa-siapa.
Dua-duanya salah!
Kakek Theo hendak bicara, dia mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak. Hingga beberapa saat, kakek Theo masih tetap seperti itu, dia memegangi salah satu dadanya, di mana letak jantungnya berada.
"Hasna!" panggilnya pada sang pengasuh.
Seketika semua orang berubah panik. Bahkan Imelda langsung bangkit, dan menghampiri ayahnya. "Pa! Papa kenapa?" tanya Imelda cemas.
__ADS_1
"Ma, mungkin jantung Kakek kumat," tebak Raga yang tak kalah khawatirnya.
Mereka semua tahu bagaimana riwayat penyakit jantung Kakek Theo. Namun, Reymond tidak menyangka akan menjadi seperti ini, jantung Kakek Theo seketika kumat setelah dia berteriak.
Mendengar pernyataan Raga, tanpa banyak kata satu keluarga itu membawa kakek Theo ke rumah sakit. Nafas pria tua itu tersengal, dengan detak jantung yang berdebar tak beraturan.
Dan sepanjang jalan itu, Imelda terus menangis sambil memeluk sang ayah. "Papa, papa harus kuat. Sebentar lagi kita sampai."
Sementara Reymond memacu kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi. Agar mereka sampai lebih cepat di rumah sakit.
Kakek Theo tidak mendengar begitu jelas suara bising di dalam mobil tersebut, satu tangannya menggenggam erat tangan Imelda. Sangat erat hingga tangannya memutih, seperti tidak dialiri darah, dan dalam hitungan detik cengkraman itu melemah seketika.
Dan pada saat itu, tepat sekali mereka sampai di tempat tujuan. Kakek Theo langsung mendapat penanganan. Sementara yang lainnya menunggu di luar.
Namun, tak berapa lama kemudian, dokter sudah keluar dari ruangan pemeriksaan. Dengan wajah sendu, dokter tersebut menghampiri keluarga kakek Theo.
Mereka semua bangkit.
"Bagaimana dengan keadaan Papa saya, Dok?" tanya Imelda cepat, di sini dialah yang paling terlihat cemas.
Dokter itu menelan ludahnya kasar, lalu menunduk meminta maaf yang sedalam-dalamnya. "Mohon maaf, Nyonya. Setelah saya periksa, ternyata Tuan Theo sudah tidak bernyawa. Dia terlambat ditangani."
Deg!
Mendengar itu, tubuh Imelda langsung lemas seketika dan ditangkap oleh Raga. Dia menggeleng cepat, dengan lelehan air mata. "Tidak! Tidak mungkin, Papa tidak mungkin meninggal!" teriaknya pilu.
*
*
*
Nah kan yang metong jadinya kakek Theo, doa reader salah sasaran 🙄🙄🙄
__ADS_1