Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Akan Menjadi Milikmu


__ADS_3

Ken masuk ke dalam kamarnya, membawa satu nampan yang berisi beberapa makanan, dari pembuka sampai penutup. Pria itu meletakan nampan di atas nakas, sementara dirinya duduk di sisi ranjang.


Ken menggoyangkan bahu Zoya dengan lembut, membangunkan istri cantiknya agar lekas makan siang, mengisi tenaga yang terkuras habis oleh perbuatannya.


"Baby, bangunlah, aku sudah membawa makan siang untuk kita," ucap Ken, masih berusaha menggerakkan bahu itu. Namun, karena saking lelahnya, Zoya tak menggubris Ken, dia terus memejamkan matanya, enggan untuk bangun.


"Baby, ayo bangun, jangan sampai aku membangunkanmu dengan cara lain."


Tangan nakal Ken mulai berselancar, pakaian minim yang dikenakan Zoya memudahkan pria tampan itu bermain sesuka hati, karena ini semua memang perintahnya.


Selama di dalam kamar, Zoya dilarang memakai pakaian yang tertutup. Bahkan kalau istrinya setuju, Zoya tidak perlu pakai busana sepanjang ada Ken di sana.


Merasakan sentuhan yang menggetarkan tubuhnya, Zoya mulai menggeliat. Dan pelan-pelan membuka matanya, kedua netra itu menyipit, dia mendesis merasakan tulang belulangnya yang terasa pegal semua.


"Hubby," panggilnya dengan suara yang parau. Dia tidak menghalau tangan Ken yang bersarang di dadanya.


Ken menarik kelima jarinya, lalu menjatuhkan ciuman di bibir ranum istrinya. "Kita makan dulu, Sayang. Setelah itu aku akan membawamu konsultasi ke dokter kandungan." Papar Ken apa adanya.


Mendengar itu, Zoya langsung membulatkan matanya. Bahkan dia berusaha duduk, saking terkejutnya. "Hubby, aku tidak salah dengar? Konsultasi untuk apa? Apa ada masalah dengan kita?"


"Tidak, Sayang. Ini hanya saran dari Kakek dan Bi Lila, katanya kalau ingin kamu cepat hamil kita harus konsultasi, dan aku ingin melakukannya. Apalagi kamu juga tahu, aku baru saja operasi dua bulan lalu," terang Ken sambil mengusap wajah mulus istrinya.

__ADS_1


Zoya menatap manik mata Ken, dia begitu senang mendengar itu semua, karena Ken begitu bersemangat ingin memiliki anak darinya.


Bukankah itu artinya Ken telah berubah sepenuhnya. Wanita itu mengulum senyum, dia menangkup satu sisi wajah Ken dan menghadiahkan kecupan singkat di bibir pria itu.


"Baiklah, kita ke dokter nanti," jawab Zoya dengan wajah sumringah.


Sedangkan di belahan bumi yang lain, tepatnya di gedung Tan group. Ron lagi-lagi menarik tangan Siska di saat jam makan siang, misinya telah gagal gara-gara ada karyawan yang mengetuk pintu ruangan.


Membuat pekerjaannya menumpuk, padahal birahinya tengah memuncak. Namun, dengan terpaksa dia mengesampingkan keinginannya yang sudah ingin menembus batas nirwana.


"Asisten Ron, ada apa lagi? Kenapa tanganku ditarik-tarik terus?" protes Siska, kali ini bukan lagi di sofa, tetapi Ron membawanya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan Ken dan menguncinya.


Dan itu semua membuat Siska melipat keningnya. Kenapa dia bawa ke tempat tertutup ini? Kekasihnya ini mau apalagi?


"Yang mana?" Siska justru bertanya, karena tidak mengerti dengan ucapan Ron. Kan banyak yang telah mereka kerjakan sebelum jam makan siang.


Dan Ron kembali membawa tangan langsing itu untuk menyentuh sesuatu yang belum semestinya. Sebagai pria dewasa dia tidak bisa bohong, dia suka sentuhan kekasihnya.


Wanita itu membulatkan matanya, dia menatap Ron. "Ada apa dengan cacing Alaskamu? Kenapa aku disuruh menyentuhnya terus?" Tanya Siska dengan tatapan mata polosnya.


Ron mengulum senyum tipis, lalu menarik kepala Siska, menjatuhkan ciuman di bibir merah merekah itu. "Bantu aku mengeluarkannya. Sekali saja." Bisik pria tampan itu.

__ADS_1


"Mengeluarkan apa Asisten Ron?"


"Sayang, kalau sedang berdua seperti ini jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku sesuai kesepakatan kita," ujar Ron yang tidak terima, karena Siska selalu memanggilnya seperti sedang bekerja. Tidak ada romantis-romantisnya.


Siska mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Kak. Tapi aku harus apa?"


Ron memandang ke arah lain, dia sedikit menggigit bibir bawahnya. Dan yang ada di otaknya sekarang hanya ingin melepaskan apa yang sudah mengganjal di bawah sana.


Hingga tanpa pikir panjang, Ron mengeluarkan cacing besar Alaskanya dari balik celana.


Kedua netra Siska seperti mau loncat dari sarangnya, dia reflek mundur satu langkah, menyaksikan benda besar nan panjang yang terpampang nyata di depannya.


Mulut wanita itu menganga lebar. Kemudian dia menelan salivanya dengan kasar. "Kak, itu? Itu benar-benar cacingmu?"


Ron mengulum senyum, ada rasa bangga tersendiri melihat Siska seolah begitu takjub dengan cacing miliknya. "Dan sebentar lagi akan menjadi milikmu."


Glek!


*


*

__ADS_1


*


Gue juga ikut kaget Ron😩


__ADS_2