Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Hanya Sebatas


__ADS_3

Hari berikutnya Zoya berangkat kuliah seperti biasa. Namun, entah kenapa kali ini ada rasa canggung di antara Zoya dan Raga. Dia ingat semalam, saat Imelda menentang bahwa Raga tidak mungkin menyukai gadis seperti dirinya.


Jujur saja, hal itu membuat harga dirinya tercabik-cabik, dan hatinya pun ikut merasakan sakit. Meski dia sudah sering mendapat cacian seperti itu, tetapi penolakan kali ini jauh lebih mendalam, dia seperti sampah kotor yang terbuang.


Wajib dijauhi, dan tidak boleh dipungut.


Raga bisa merasakan itu, dia segera berlari mensejajarkan diri dengan langkah Zoya yang akan masuk ke dalam kelas.


Namun, gadis itu memilih tak peduli, dia menganggap Raga tidak ada di sampingnya. Memang sepertinya dia harus menjauhi pemuda itu, atau dia akan mendapat masalah yang lebih besar.


"Zoy," panggil Raga sambil mencekal pergelangan tangan gadis itu, merasa diacuhkan membuat Raga tak enak hati.


Zoya memutar pergelangan tangannya, agar terlepas dari cekalan Raga. "Lepasin aku, Ga!" Ujar Zoya karena Raga justru semakin menggenggam erat.


Pemuda itu menggeleng. "Nggak mau, aku mau minta maaf, Zoy. Soal semalam, aku benar-benar minta maaf atas nama Mama yah."


Mendengar itu, Zoya tersenyum getir. "Nggak ada yang salah dari ucapan Mama kamu, karena memang sebaiknya kita mulai jaga jarak. Jauhi aku, Ga."


"Zoy!"


"Ga, aku nggak mau masuk dalam lingkungan yang nggak nerima aku. Kalo kamu nggak jauhi aku, aku yang bakal jauhi kamu."


"Nggak mau! Aku nggak mau kamu jauhin aku, atau aku jauhin kamu. Aku mau kita tetep sama-sama. Dari awal, aku yang selalu ada buat kamu, Zoy. Apa kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain?"


"Maksud kamu? Aku nggak ngerti!" Zoya mengernyitkan dahinya, benar-benar tak mengerti dengan teka-teki yang Raga berikan.


"Zoy, aku suka sama kamu, bahkan tanpa alasan. Aku suka kamu yang apa adanya," ungkap Raga, dia tidak bisa memendam rasa ini lebih lama lagi.

__ADS_1


Mendengar itu, bukannya senang Zoya justru menggeleng kecil. "Jangan bercanda, itu tidak lucu sama sekali."


"Aku nggak bercanda, kamu mau bukti?"


Zoya menatap Raga, hingga tatapan mereka bertemu, dan tanpa diduga pemuda itu memberi kecupan kecil di bibir Zoya, membuat gadis itu membola tak percaya.


Dengan gerakan reflek Zoya segera mendorong dada Raga. Dan menatap tak suka. "Kamu gila!" Cetusnya, lalu mulai melangkah mundur.


"Zoy!" panggil Raga, karena Zoya justru berlari menjauh darinya, dia ingin mengejar gadis itu tetapi dering dalam ponselnya membuat dia urung.


"Mama?" Raga mendesah frustasi, kenapa jadi rumit seperti ini? Tidak ayah angkat Zoya, tidak mamanya, sama saja.


Tidak mengerti perasaan anak muda.


"Argh!!!"


Bahkan dia mengatakan ke mana saja saat sang supir bertanya.


Ungkapan dan kecupan Raga barusan, membuat Zoya sangat terkejut, karena selama ini dia hanya menganggap Raga sebagai kakaknya. Dia tidak memiliki perasaan apa-apa.


Semua kebaikan pemuda itu, bahkan cara Raga melindunginya, benar-benar membuat Zoya menganggap itu semua hanya sebatas perhatian sang kakak pada adiknya. Tidak lebih.


Zoya memegangi bibirnya, berulang kali dia menggosoknya seolah tak ingin ada bekas bibir Raga di sana. Entah kenapa dia takut Ken kecewa, takut Ken menganggapnya sebagai wanita gampangan.


"Kenapa juga Raga harus cium aku? Gimana kalo Daddy tahu?" tanyanya pada diri sendiri dengan raut wajah cemas, seolah takut kedapatan berselingkuh.


Rasa yang semakin mengoyak sukmanya, membuat dia percaya pada Ken, bahwa pria itu pasti akan berubah. Perjuangannya tidak akan sia-sia begitu saja.

__ADS_1


Suatu saat, Ken akan menatapnya dengan cinta yang sesungguhnya bukan nafsuu semata.


Hingga akhirnya, Zoya memutuskan untuk datang ke perusahaan Ken, tanpa sepengetahuan pria itu. Dia akan memberikan kejutan untuk pacarnya.


Mengingat Ken, entah kenapa membuat kedua sudut bibir Zoya melengkung dengan sempurna. "Pak, ke perusahaan Tan group yah."


"Baik, Nona."


Tak sampai lama Zoya sudah sampai di Tan group, dia langsung menuju meja resepsionis dan menanyakan Ken. Wanita berponi itu membiarkan Zoya untuk naik ke ruangan tuannya, karena dia memang sudah menghafal wajah Zoya.


Zoya melangkah dengan riang, bahkan dia masuk ke dalam lift dengan senyum mengembang, seolah tidak sabar bertemu dengan sang pacar.


Begitu dia sampai di depan ruangan Ken, tanpa mengetuk pintu Zoya langsung melenggang masuk. "Sayang..." panggilnya, lalu melangkah dengan cepat ke arah meja kebesaran Ken.


Pria matang itu hanya melongo, merasa terkejut dengan kedatangan Zoya, apalagi saat gadis itu tiba-tiba duduk di pangkuannya, dan langsung menyambar bibirnya.


"Kangen," rengek gadis itu.


Sementara di belakang sana, Ron menelan ludahnya susah payah, sambil memegangi jantungnya yang berdendang ria di dalam dada.


Sungguh pasangan kejam! Bisa-bisanya melupakan jomblo yang ada di belakang mereka!


*


*


*

__ADS_1


Gue bilang juga apa Ron, tadi tuh suruh bikin kopi sama nyirem kembang aja, jangan berdiri di belakang pintu, nyesel kan lu🙄🙄🙄


__ADS_2