
Pagi menyapa.
Di sebuah halaman yang luas, duduk seorang pria lanjut usia, dia membiarkan tubuhnya terkena sinar matahari langsung, karena cahaya hangat itu sangat dianjurkan untuknya.
Di antara lamunannya yang tiada akhir, dia tiba-tiba teringat dengan permintaan sang cucu, bahwa wanita itu ingin dirinya mengundang Ken dan kakek Abian untuk makan malam bersama.
Ya, dialah kakek Theo, kakek satu-satunya yang Nora punya. Ayah dari Imelda.
"Hasna, ambilkan ponselku di kamar, aku mau menghubungi Abian," ucap kakek Theo pada sang pengasuh.
Wanita yang seumuran dengan Nora itu mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya ambilkan dulu." Ujarnya lalu pamit untuk masuk ke dalam.
Tak berapa lama kemudian, Hasna kembali dengan benda pipih milik kakek Theo. Dan pria tua itu menyuruh Hasna untuk mencari kontak kakek Abian.
Dalam hitungan detik, getaran itu langsung berhenti. Dan panggilan itu terhubung.
"Hallo, Theo?" sapa kakek Abian lebih dulu. "Ada apa menghubungiku? Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" sambungnya.
Kakek Theo menghela nafas lalu tersenyum. "Begini, Abian. Aku berencana mengundangmu dan Ken untuk makan malam bersama. Menurutmu bagaimana?"
"Ah, kapan itu? Soalnya aku dengar Ken sedang ke luar kota," balas Abian apa adanya.
"Kalau begitu tunggu Ken pulang saja, nanti kita makan di restoran Nora, supaya tidak reservasi lagi."
"Baiklah, nanti aku sampaikan pada anak itu. Aku rasa sih dia tidak akan lama, besok pasti sudah pulang."
"Iya, Abian. Aku tunggu kabar baik darimu."
"Pasti, Theo."
Setelah mengatakan tujuannya, kini mereka mulai membahas yang lain. Tentang bagaimana keluarga mereka kedepannya, pokoknya tidak jauh-jauh dari perjodohan Ken dan Nora.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ken menumpu kaki kanannya di atas kaki kiri, dia dan Ron baru saja menyelesaikan makan siang, setelah bertemu klien satu jam yang lalu.
Kini, pria tampan itu sedang menikmati salad buah, hidangan yang dia pesan sebagai penutup, sambil memikirkan sesuatu.
"Ron, aku mau beli oleh-oleh untuk Zoya. Kira-kira apa yah? Wanita itu sukanya apa?" tanya Ken tiba-tiba, membuat Ron langsung mengangkat kepalanya.
"Mereka suka kepastian, Tuan," jawab Ron tanpa sadar.
Dan hal itu, langsung membuat sang singa yang tengah terlelap langsung bangun dan menunjukkan taringnya.
Ken menatap tajam ke arah Ron yang masih terlihat santai, dan seolah tidak bicara apa-apa.
"Hei, bicara apa kamu, sialan? Kamu meledekku iya? Aku ini tanya barang-barang yang Zoya sukai, malah bicara yang tidak jelas!" cetus Ken, sedikit menggebrak meja, membuat Ron terkejut dan hampir saja tersedak.
Bahkan orang-orang di sekitar mereka langsung melayangkan tatapan dengan kernyitan dahi yang dipenuhi tanda tanya.
"Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya keceplosan," balas pria itu terbata-bata.
Ron mengutuk dirinya sendiri, gara-gara sering dimaki-maki Ken, dia jadi tidak bisa mengerem mulutnya. Dan malah asal bicara.
Tak sampai lama, dia sudah menemukan beberapa referensi, dan dia memilih dua benda yang menurutnya pas di hati. Sebuah dress dan juga kalung berlian, ah Zoya pasti menyukainya, batin Ken yakin sambil tersenyum sumringah.
"Ron, ayo antar aku beli barang-barang ini." Ken bangkit, tidak peduli makanan Ron masih tersisa banyak.
"Mencari apa, Tuan?" Bukannya lekas mengikuti ajakan Ken, Ron justru bertanya pula.
"Sudah, tidak usah banyak tanya jika tidak mau mati!" Ken semakin ketus, semakin ke sini, tingkah Ron semakin membuatnya sakit kepala, dan ingin marah-marah.
Glek!
Ron menelan ludahnya kasar. Setelah mereka membayar tagihan, Ken dan Ron masuk ke sebuah pusat perbelanjaan. Ken langsung menghampiri sebuah toko pakaian, di mana dress dengan harga tinggi berjejer rapih.
"Kamu pilih sana, Ron. Pilih yang cocok untuk Zoya, tapi tidak usah bayangkan tubuh gadisku, ingat itu!" titah Ken dengan sebuah peringatan keras.
__ADS_1
Mendengar itu, Ron menautkan kedua alisnya. "Lalu saya bayangkan siapa, Tuan? Kan dressnya untuk Nona Zoya."
"Haish, terserah kamu saja. Yang penting jangan bayangkan Zoya!"
"Baik, Tuan."
Cih, ada-ada saja orang ini, bilang saja mau menyiksa.
Ron mulai menunjuk satu persatu dress yang menurutnya cocok untuk wanita tuannya. Dia yang bukan apa-apa, malah disuruh memilih seperti ini, bohong saja nanti kalau Ken bilang dia yang memilihnya.
Jelas-jelas semuanya serba Ron.
"Tuan, bagaimana pilihan saya?" tanya Ron, para SPG cantik membeberkan dress-dress itu agar Ken melihatnya dengan jelas.
"Jelek, Ron," ujar Ken, bahkan tanpa memperhatikan dengan seksama.
"Semuanya jelek?"
Dan Ken mengangguk cepat, dengan bibir manyun, seolah meledek asistennya itu. Ron menghela nafas, dia kembali memilih dan Ken selalu menjawab seperti itu. Satu kata 'jelek'
Hingga akhirnya Ken bangkit, dan menunjuk satu dress berwarna salem. "Yang itu saja, bungkus satu." ujarnya.
"Hanya itu, Tuan?"
"Iya, lagi pula Zoya kan pacarku. Kenapa jadi kamu yang repot memilih baju untuknya," cetus Ken tanpa rasa bersalah. Dia melangkah ke arah kasir untuk melakukan pembayaran.
Beberapa wanita cantik yang ada di sana melipat bibirnya ke dalam.
Sementara Ron hanya bisa melebarkan kelopak matanya, dengan mulut yang menganga. Tidak percaya.
*
*
__ADS_1
*
Sabar ya Ron, nanti kita kandangin si python biar kagak bisa maen🙄🙄🙄