
Flashback 20 tahun lalu.
Sore itu, Reymond pulang ke rumah kontrakannya. Memarkirkan kijang besi berwarna putih itu tepat di halaman rumah. Langkahnya sedikit tergesa, begitu sampai di ambang pintu, dia langsung memanggil sang istri, Elina.
"El, Sayang," panggil Reymond, pria yang sebentar lagi akan mendapat gelar ayah, karena kini Elina tengah mengandung buah hati mereka.
Kandungan Elina yang sudah sangat besar, membuat dia tak bisa berjalan dengan cepat, dia keluar dari kamar dengan langkah yang tertatih, menyambut kedatangan suaminya.
Senyum wanita hamil itu mengembang, saat melihat sang suami sudah duduk bersantai di ruang tamu. Sama halnya dengan Elina, Reymond pun ikut tersenyum pula, bahkan dia segera bangkit, lalu membantu Elina untuk duduk.
"Kamu terlihat senang sekali, Rey. Ada apa?" tanya Elina melihat Reymond yang terus tersenyum sumringah.
"El, ada yang ingin aku bicarakan, dan ini masalah serius," balas Reymond menatap manik mata Elina, senyum di bibirnya memudar, tetapi Elina masih bisa melihat aura bahagia yang terus memancar.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Rey?"
Kedua alis Elina menaut, entah kenapa mendengar Reymond yang ingin membicarakan sesuatu, hatinya mendadak tak tenang.
Reymond menghela nafas, dia terlihat sedikit ragu, lidahnya terasa kelu, dengan saliva yang mulai terasa berat untuk ditelan. "El, aku...." Pria itu menatap wanita yang setia menunggunya bersuara, dan Elina terus seperti itu, hingga Reymond mengatakan tujuannya.
"Aku akan menikahi Imelda."
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Elina langsung tidak bertenaga, apa dia tidak salah dengar? Reymond mengatakan bahwa dirinya ingin menikah lagi dengan Imelda?
Dia jelas tahu siapa wanita itu. Janda beranak satu, yang merupakan bos dari perusahaan tempat suaminya bekerja.
Dada Elina mulai terasa sesak, seolah terhimpit oleh batu yang sangat besar. Jantungnya seakan-akan diremat, dan ditarik secara paksa saat itu juga. Sakitnya begitu luar biasa.
__ADS_1
Di saat dirinya tengah mengandung buah hati mereka, Reymond justru membicarakan pernikahannya dengan wanita lain?
Ya Tuhan... Hukuman apa ini? Rasanya sakit sekali.
Elina menatap nanar suaminya yang terlihat kikuk di tempatnya. Sekuat tenaga dia menahan gemetar tubuhnya. "Aku tidak salah dengar? Kamu mau menikahi bosmu yang janda itu?" Tanya Elina dengan terbata-bata.
Ada rasa bersalah dalam hati Reymond melihat wanita yang dicintainya terluka. Namun, dia pun tak bisa melepaskan Imelda begitu saja, karena Imelda juga tengah mengandung bayinya.
Salah-salah dia bisa dipenjara.
Pelan, Reymond mengangguk. "Iya, El. Dia bersedia menjadi istri keduaku." Jelas pria itu, sebagaimana pembicaraannya dengan Imelda saat mereka bertemu di perusahaan.
Mendengar itu, tangis Elina seketika pecah. Dia terisak kencang di tempatnya. Mana ada wanita yang bersedia dibagi rasa cinta dan kasihnya, tidak ada.
Elina menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, aku tidak mau dimadu!" Tegas wanita itu, menatap Reymond dengan sorot mata kecewa.
"Tapi Imelda sedang mengandung anakku juga, El. Aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Sudah bagus dia mau menjadi istri kedua, kalau tidak bagaimana?"
Elina menepuk-nepuk dadanya sendiri, berharap rasa sesak itu menghilang. Namun, nyatanya rasa sakit itu semakin menghujam, bagai belati yang menyayat kulitnya.
"Kalau begitu ceraikan aku! Aku tidak sudi dimadu!" Teriak Elina, hingga suara jeritan itu menggema ke seisi ruangan.
Mata Reymond terbelalak lebar, dia melotot ke arah Elina. "Sebentar lagi kamu akan melahirkan, Elina, tidak mungkin aku menceraikanmu! Kenapa kamu bersikap egois seperti ini?"
Mendengar Elina yang menginginkan mereka berpisah, pun dengan teriakan wanita itu, membuat emosi Reymond meluap seketika.
"Egois? Kamu bilang aku yang egois? Kamu yang berselingkuh di belakangku, sampai jalaang itu hamil, dan kamu bilang aku yang egois? Dasar gila!" sentak Elina tak kenal takut, rasa sakit yang menghantam dadanya mendorong dia untuk berani pada Reymond.
Plak!
__ADS_1
Seketika tamparan keras melayang begitu saja. Air mata Elina semakin bercucuran mendapatkan perlakuan ini dari pria yang dicintainya.
Dan kesenjangan waktu terjadi di antara mereka berdua.
Perlahan, Elina menatap Reymond yang tengah menatap nanar tangannya sendiri, tangan yang dia gunakan untuk menampar wajah Elina, entah sebab apa.
"Tidak perlu kamu bersusah payah, membuang tenagamu untuk menyakiti aku. Hatiku sudah cukup sakit menerima semuanya. Jadi sekarang, lepaskan aku. Biarkan aku hidup bersama anakku, kamu boleh pergi dengan wanita itu. Hari ini, aku bersumpah, aku bukan istrimu lagi."
Elina melemparkan cincin yang tersemat di jari manisnya.
Susah payah Elina bangkit membawa beban berat yang ada dalam perutnya. Tanpa menunggu Reymond bicara, dia segera berlalu ke arah kamar, dia mengunci ruangan itu, dan terduduk di belakang pintu.
Wanita hamil itu kembali tergugu, air matanya terus menderas, membasahi pipi mulusnya, dia menatap ke bawah, lalu satu tangannya tergerak untuk mengelus perutnya yang sudah terlihat sangat buncit itu.
"Nak, Mama janji. Mama bakal besarin kamu, meski Mama harus banting tulang sendiri, kamu jangan nakal yah di dalam sana. Karena sebentar lagi kita akan bertemu, kamu akan jadi malaikat kecil Mama. Mama sangat menyayangimu, Nak. Berjanjilah untuk terus menemani Mama."
*
*
*
Abis berapa kotak tisu hari ini? 😌😌😌
Thor kok sedih mulu sih? Kapan nganunya?
Sabar yeee, kemaren kan udah nganu-nganu terus, sekarang kita melow-melow dulu, kek sinet tetangga sebelah, yang ikannya gelapakan.
Semua ada masanya, ada porsinya, nikmati saja alurnya. Si python kagak bakal kemana-mana, lu pada kan yang doain si python kagak bisa berdiri selain sama neng joyaaa? Udah terbukti sekarang, gue udah coba, ternyata emang gabisa 🙄🙄🙄 gue duwil-duwil kepalanya, kagak ada reaksi apa-apa. Molor mulu gunanya.
__ADS_1
Dah sebagai bayaran gue ngoceh, lu pada besok harus pada vote sama ngasih kembang sama si python! titittt! eh titik ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜