Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Hari Bersejarah


__ADS_3

Zoya semakin tak habis pikir. Kenapa Ken percaya begitu saja pada Angel, orang yang mengambil foto Zoya sedang disuapi oleh Raga.


Dan dikirimkan pada pria itu, dengan sebuah maksud dan tujuan tertentu.


"Jadi Daddy percaya begitu saja dengan wanita itu?" tanya Zoya dengan bibir yang sudah bergetar, matanya memerah dan berkaca-kaca nyaris menangis.


"Karena dia punya bukti, Zoya," Ken masih kukuh dengan pemikirannya, dia tidak terima Zoya membohonginya seperti ini, apalagi itu semua demi pergi bersama pria lain.


"Hanya itu? Hanya karena sebuah foto yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan detail Daddy percaya padanya, dan menuduh Zoya?" tanya gadis itu dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Karena kamu memang bohong pada Daddy, kamu tidak mengatakan pergi dengan teman-temanmu. Tidak ada Zoya!"


"Asal Daddy tahu, aku melakukan ini dan itu, membantu agar hubungan kita tetap tersimpan rapih dari semua orang, bahkan Kak Nora, Daddy pikir itu untuk siapa? Untuk aku pribadi? Itu semua untuk kita, lebih tepatnya untuk kepentingan Daddy sendiri, Daddy egois, Daddy adalah orang paling egois yang pernah Zoya temui."


Pertengkaran itu semakin menjadi, karena Zoya yang tak kalah emosi, dia menunjuk dada Ken, ingin pria di sampingnya ini sadar dan mengerti.


"Jangan membalikkan keadaan, harusnya Daddy yang marah, tetapi kenapa seolah-olah Daddy yang salah, hah?"


"Oke, fine. Kalau memang Daddy ingin selalu merasa benar, dan lebih percaya pada wanita itu, kita akhiri saja hubungan ini, lepaskan Zoya!" cetus gadis itu akhirnya.


Mendengar itu, mata Ken melebar dengan sempurna.


"Zoya!"


"Apa?"


"Zoya jangan bicara sembarangan! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu!"


"Tapi sayangnya aku yang ingin lepas dari pria egois seperti Daddy!" pungkas Zoya, lalu dia menatap ke depan. "Asisten Ron, berhenti. Aku mau turun!"


"Tidak!"

__ADS_1


"Aku bilang aku mau turun, hentikan mobil ini."


"Tidak, Baby!!!"


"AKU MAU TURUN!"


"RON STOP!"


Mendengar instruksi mendadak itu, Ron reflek mengerem, membuat mobil itu mendapat guncangan. Zoya hampir terjerembab ke depan, tetapi langsung ditangkap oleh Ken.


Menyadari itu, Zoya langsung minta dilepaskan, dia memegang handle pintu dan Ken langsung menahannya.


"Ron, turun!"


Ron bergeming, untuk mencerna ucapan Ken. Bukannya yang ingin turun itu Zoya, tapi kenapa malah dia yang disuruh turun.


"Ron, aku bilang turun!" pekik Ken, membuat Ron seketika tersadar.


Sebelum menutup pintu dia menghadap ke arah Ken. "Haruskah saya menunggu, Tuan?" tanyanya.


Mendengar itu, Ken semakin dibuat geram. Setiap Ron bicara entah kenapa membuat emosinya ingin meledak. "Pergilah, sialan!" pekiknya tak sabaran.


Ron kembali spot jantung hari ini, karena habis dimaki-maki oleh Ken. Pokoknya mau Ken dan Zoya berbaikan atau marahan, dia yang selalu terkena imbasnya.


Tidak makian, ya desahaan.


Ron segera menyetop taksi yang kebetulan melintas untuk kembali ke perusahaan. Bisa jamuran kalau dia terus berdiri di pinggir jalan.


Sementara Zoya yang ada dalam dekapan Ken masih sedikit meronta, dia tidak terima dituduh seperti itu oleh Ken. Dan Ken semakin memperat lingkaran tangannya di tubuh Zoya.


Hingga akhirnya tangis Zoya pecah, dia sesenggukan dengan tubuh yang melemah. Kenapa takdir baik, tidak pernah berpihak padanya?

__ADS_1


Ken menghela nafas, untuk pertama kalinya dia begitu peduli dengan seseorang yang menangis. Dan sepertinya setelah ini adalah hari bersejarah untuk Ken, karena dia harus membujuk Zoya.


"Baby, maafkan aku. Aku_"


"Kalau Daddy memang tidak percaya pada Zoya. Aku bilang cukup, lepaskan aku, biarkan aku bebas dengan hidupku," potong Zoya dengan sesenggukan, bahunya naik turun, seiring tangis yang mendera.


"Baby, tolong jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar minta maaf, aku hanya emosi tadi. Aku percaya padamu. Daddy mohon, maafkan Daddy." Ken mengecupi puncak kepala Zoya.


Dan hal itu tak serta merta membuat Zoya tenang begitu saja. "Harusnya Daddy sedikit saja mengerti, bagaimana berada di posisi Zoya. Harusnya Zoya yang lebih was-was, harusnya Zoya yang lebih takut, karena kita sama-sama tahu bagaimana Daddy dulu."


Tak bisa bohong lagi, Zoya menguapkan segala kegundahannya. Bagaimana dia yang selalu diliputi rasa resah dan gelisah, takut Ken kembali seperti dulu, bermain dengan para wanita di belakangnya.


Karena dia dan Ken tak bisa selalu bersama dalam waktu 24 jam. Ada kalanya pria itu harus bekerja, dan dia kuliah.


Bukankah waktu panjang itu dapat Ken gunakan untuk mencicipi lubang lain?


"I am sorry, aku salah, Baby. Aku yang salah." Ken mengangkat wajah Zoya dan menyatukan kening mereka.


Kedua tangan yang menangkup kedua sisi pipi wanita itu dia gunakan untuk mengelap sisa-sisa air mata Zoya. Dan detik selanjutnya, penyatuan bibir itu Ken lakukan, berharap Zoya melupakan hari ini.


Hari pertama Ken membujuk dan bertekuk lutut di hadapan seorang gadis.


*


*


*


Eak eak🤣🤣🤣


Mau apa lo Kentucky? Cewek dilawan🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2