Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Cacing Alaska Mengamuk


__ADS_3

Tidak berani menutup panggilan dari Ken, akhirnya Ron membiarkan saja ponselnya tergeletak. Dan entah keberanian dari mana, hingga dia mengaktifkan icon loud speaker, saat dirinya ingin menembus batas nirwana bersama Siska.


Ingin membalas dendam pada bos gendengnya itu.


Yang ada dipikirannya sekarang, Ken sengaja menelpon karena ingin menggagalkan malam pertamanya. Sumpah! Malam itu Ron berdoa agar Ken tidak mendapatkan jatah dari istrinya, supaya pria gila itu tahu rasa.


Tidak ada faedah sekali memasukan dirinya dalam drama polisi-polisian. Apalagi hanya karena masalah mencabut bulu python-pythonan.


Ken hanya membuang-buang waktu Ron yang berharga, karena seharusnya dia sudah bisa memanjakan cacing Alaskanya.


"ARGHHH... SAKIT, KAK!"


Teriakan Siska memecah kesunyian kamar tersebut, bersama dengan surga dunianya yang berhasil ditembus oleh cacing besar Alaska milik Ron.


Sedikit darah memercik ke kain sprei, air matanya jatuh, bukan karena sedih melainkan rasa yang menghujam intinya benar-benar mengerikan. Tubuh bagian bawahnya terasa penuh dan sesak, dan Ron masih pada posisinya, belum mau bergerak.


Dia sedikit memajukan tubuhnya, dan pada saat itu juga Siska memekik kesakitan. Ron kembali diam, membiarkan Siska terbiasa dengan senjata mematikan miliknya.


"Tahan ya, Sayang. Sebentar lagi juga tidak sakit kok," ucap Ron menenangkan Siska yang terlihat sudah tak berdaya. Padahal mereka belum apa-apa.


Ron menyatukan kedua tangan mereka. Menaut hingga Siska menggenggamnya erat. Siska tak menjawab ucapan Ron, dia justru mengatur nafasnya yang terus beradu dengan waktu.


Dikecupnya kening sempit wanita itu, lalu semakin turun, hingga seluruh wajah Siska mendapat bagian yang sama. Ron mencium wanitanya tanpa celah.

__ADS_1


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Ron kembali menyatukan bibir mereka, dan seiring dengan itu Ron mulai memompa tubuhnya, menghasilkan desaahan antara rasa sakit dan nikmat secara bersamaan.


Tangis Siska semakin mendera, air matanya luruh tanpa bisa dicegah. Namun, semua itu tak membuat Ron berhenti, dia terus memacu tubuhnya dengan perlahan-lahan, hingga lambat laun tangis Siska berubah menjadi lenguhan yang terdengar sangat merdu di telinga pria tampan itu.


"Ah, Kak!" Rasa itu mulai mengikat tubuhnya, menguasai kewarasan yang Siska punya hingga tanpa sadar dia terus mendesaah.


Mendengar itu, Ron semakin memacu gerakannya. Dua organ dalam tubuh mereka langsung menggila saat sorot mata mereka bertemu tanpa terputus dan saling mendamba.


Debarannya sangat dahsyat, hingga mereka merasa organ tersebut ingin melompat dari sarangnya. Ron tidak pernah segila ini, seluruh urat syarafnya dibuat meronta dan minta dilepaskan.


Hingga dengan nalurinya Ron bergerak sedikit kasar. Membuat Siska menggeliat nakal. Suara desaah itu terus beradu, seluruh anggota tubuh Ron tak mau diam, ada saja yang ingin dia mainkan.


Ron sedikit menunduk dan menggigit pucuk dada istrinya yang tegak menantang. Ukurannya yang cukup besar membuat Ron terus menyesap dengan brutal.


"Ught, Kak!" Tangan Siska terlepas, dia berganti menjambak rambut Ron dengan manja. Dan Ron semakin menghentak tubuh Siska dengan hentakan yang terasa semakin dalam.


Jadi seperti ini yang dirasakan oleh Ken saat bercinta. Pantas saja pria itu tidak pernah absen melakukannya.


Sungguh kegiatan ini sangat mendebarkan dan penuh kenikmatan, apalagi sebentar lagi Ron akan meledakkan larvanya di rahim Siska. Tidak ada tunda menunda, mereka pun ingin segera memiliki anak sebagai pelengkap keluarga.


"Aku mencintaimu, Sayang. Ah...," ungkapnya disela-sela kegiatan yang membara.


"Aku juga mencintaimu, Kak," balas Siska. Mereka benar-benar tidak peduli lagi pada kedua orang yang ada di ujung sana, biarkan saja mereka mendengar semuanya, kalau memang panggilan itu belum dimatikan oleh Ken.

__ADS_1


Dan detik selanjutnya, Ron meraung keras, sementara tubuh Siska gemetar hebat, menikmati sensasi pelepasan pertama mereka. Peluh mengucur deras, basah dan menjadi satu hingga tak bisa dibedakan siapa pemiliknya.


Tubuh Ron ambruk dan sedikit menindih tubuh Siska. Sementara suara deru nafas mereka terdengar terengah-engah.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, untuk menetralkan kembali debaran yang sama-sama menggila karena kegiatan panas yang mereka ciptakan.


Manik mata Ron bergerak, dan pandangan mereka kembali bertemu. Ron mengulum senyum, begitu pun dengan Siska.


"Cie mantan perawan cie," ledek Ron yang langsung membuat wajah Siska bersemu merah. Pria tampan itu terkekeh, sementara Siska langsung melengoskan wajahnya.


Ron menarik dagu Siska dan sedikit mencengkramnya, hingga wajah mereka kembali beradu. Ron masih setia melebarkan senyum, dan Siska malah bertingkah malu-malu.


"Ayo ulangi lagi, cacing Alaska suka masuk ke dalam sarangnya, katanya hangat."


Bugh!


"Ah...."


Ron kembali menghujam inti Siska, karena sedari tadi dia tidak melepaskan penyatuannya.


*


*

__ADS_1


*


Anget baru gue angkat dari kukusan itu, Ron😌😌😌


__ADS_2