Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Masih Berdebat


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, Ken langsung mengajak kelima anaknya untuk pulang ke rumah. Dia benar-benar sudah tidak tahan berlama-lama di dalam pasar, bukan hanya aromanya tetapi keadaan yang berdesak-desakan membuat ia khawatir. Takut terjadi apa-apa pada anak-anaknya.


"Sudah ya, Sayang. Ayo kita pulang."


"Ita beyi ais kim duyu, Dad. An aus," timpal Aneeq sambil memegangi tenggorokannya. Sang provokator sedang mencuci otak adik-adiknya. Karena secepat itu Bee, Choco dan De menganggukkan kepala.


"Iya, Dad. Choco aus au inyum ais kim."


Ken menghela nafas. Kepalanya sudah mulai pening. "Kalau haus ya minum air, tidak ada acara beli es krim. Ayo sekarang kita pulang!"


Pria tampan itu langsung meraih tangan Aneeq agar kembali berjalan ke arah parkiran. Namun, bocah itu malah menghindar. "Ita beyi ais kim duyu! An ndak au puyang." Tegasnya pada sang ayah.


"An, jangan seperti itu dong, lihat cuacanya sangat panas. Bee tidak pakai baju, dan kalian juga belum makan," jelas Ken memperingati bocah-bocah uler itu. Berharap mereka semua akan mengerti, tetapi harapan Ken harus pupus, karena Bee malah membela Aneeq.


"Ndak apa-apa, Dad. Ita alan-alan agih, tambiy matan embut."


Mendengar itu, bola mata Ken melebar sempurna. Dia dengan tegas menolak. "Tidak ada! Sekarang kita pulang." Pandangan mata Ken beralih pada bocah yang lainnnya, dan dia semakin mendelik saat De menggigit ujung plastik tempat ikannya berenang.


"Astag, hei!" teriak Ken, sampai membuat semua orang terkejut. Beberapa di antara mereka langsung menoleh ke sumber suara membuat Ken malu setengah mati. "Apa kalian lihat-lihat? Aku sedang bicara dengan putraku!"


"De, jangan digigit. Nanti plastiknya bocor dan ikan kamu mati," sambung Ken, menatap ke arah putra ke empatnya. Sementara semua orang itu hanya mendengus lalu kembali ke aktivitas masing-masing.

__ADS_1


"Api De aus, Daddy. De au inyum."


Ken memejamkan matanya sejenak, di saat panas-panas begini dia malah harus berdebat dengan bocah-bocah kecil yang sulit sekali diaturnya.


"Baik, ayo sekarang ikut Daddy. Kita beli es krim, dan janji setelah ini kita pulang!" Keempat putranya kompak mengangguk, lain dengan El yang terus nemplok di tubuh ayahnya.


Seperti ucapannya, setelah membeli es krim akhirnya mereka semua pulang. Ken sudah tidak tahan lagi ingin segera sampai di mansion. Sementara anak-anaknya cekikikan di kursi penumpang sambil memakan es krim rasa buah-buahan.


Kendaraan roda empat yang dikemudikan oleh Ken akhirnya menepi di halaman mansion. Pria itu langsung keluar dan mengajak anak-anaknya untuk turun.


"Kita langsung mandi yah," ucap Ken sambil membopong tubuh El, sementara yang lain sudah dibantu oleh para baby sitter.


Di dalam sana, kakek Abian yang baru saja selesai berjemur langsung menyusul para cicitnya. "Wah, cicit Eyang dapat mainan apa?"


Keempat bocah itu langsung tertawa dan menunjukkan mainan baru mereka. Sebuah mainan ular yang dapat bergerak-gerak. "Inyi ulel-ulelan, Iyang. Ita beyi di pacal." Jawab Choco, si pemilik ide.


"Wah lucu yah, ularnya bisa bergerak. Coba kita buat lomba, siapa yang ularnya paling cepat, dia yang menang," ucap kakek Abian memberi usul. Wajah-wajah gembul itu terlihat sumringah.


Mereka mengangguk serentak, setuju dengan ide kakek Abian. Namun, sebelum permainan dimulai Ken malah masuk dan mendesah kecil, sebab merasa kesal. "Hei, Daddy bilang mandi. Kenapa malah di sini?"


"Ita au bayapan, Daddy. Mantinya anti acah," jawab Aneeq, dia sudah mengambil posisi paling kanan, siap untuk berlari membawa ular-ularannya agar menjadi pemenang.

__ADS_1


"Ini sudah siang, kalian juga belum makan," ucap Ken lagi, si bungsu El sudah naik ke atas bersama Olaf, sekarang tinggal bocah-bocah ini yang harus dia taklukan.


"Ita matan embut acah," jawab Bee, teringat lagi dengan buah-buahan yang sudah dia beli bersama dengan buah kesukaan Aneeq.


Ken memutar bola matanya jengah. Dan kakek Abian bisa melihat itu. Kakek Abian hendak membantu Ken untuk membujuk para cicitnya, tetapi semua orang malah dikagetkan oleh El yang menangis kencang.


"Ken!" panggil kakek Abian dengan wajah panik. Ken tak kalah paniknya, tanpa bicara dia langsung berlari ke atas dan melihat sang putri yang sudah berguling di lantai.


"El, ada apa, Sayang?" tanya Ken, dia melihat ke arah Olaf meminta jawaban. Namun, sang putri lebih dulu bersuara.


"Hua ... Tetty, yam-yam El dimatan Kiala," adu bocah cantik itu sambil menunjuk kucing yang sedang menggigit ayam yang baru saja dibeli oleh mereka.


"Astaga."


***


Kialanya nakal ya, El🤣🤣🤣


Ngothor : Gimana, Dad? Enak nggak panen hasil uler lu?😌


Daddy : Berisik lu, Thor, cape gue ah😩😩😩

__ADS_1


__ADS_2