
"Sayang, ada apa? Jangan membuatku khawatir." Ken memegang kedua sisi bahu Zoya, sementara keningnya menyiratkan rasa cemas yang luar biasa.
"Aku hanya merasa mual, tapi," Zoya memotong kalimatnya dan menatap Ken. "aku juga telat datang bulan," cicit gadis itu.
Ken memiringkan kepalanya. "What? Telat datang bulan? Maksudmu?"
Zoya menelan ludahnya, dia sedikit tersenyum tipis membayangkan sesuatu dalam otaknya. "Maksudku, bisa saja aku hamil. Hubby akan jadi seorang Ayah."
Kedua tangan Ken tiba-tiba merosot dari kedua bahu Zoya. Sementara sorot matanya menatap tak percaya. "Hamil?" Ulang pria itu dengan suaranya yang lemah.
Berbeda dengan reaksi Zoya yang terlihat berbinar. Ken justru mendadak gamang. Tidak mungkin Zoya mengandung anaknya. Samar, Ken menggelengkan kepala, dan menatap Zoya.
Tidak mungkin!
"Anak siapa itu?"
Deg!
Mendengar pertanyaan itu, Zoya langsung tertegun. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar.
Apa dia tidak salah dengar? Ken bertanya anak siapa? Jelas-jelas dari awal sampai sekarang, Zoya hanya melakukan itu semua dengannya.
"Maksud Hubby apa? Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Zoya dengan alis yang saling menaut.
Sementara sorot mata Ken mulai menajam, pria matang ini menarik sudut bibirnya, hingga membentuk kernyitan sinis. "Heuh, aku tanya itu anak siapa? Jawab aku, Zoy. Itu anak siapa?" Bentak Ken membuat Zoya berjengit kaget dan mundur satu langkah.
Zoya menelan ludahnya yang terasa berat. "Kamu bertanya ini anak siapa? Jelas-jelas dari awal sampai sekarang aku hanya bermain denganmu, lalu untuk apa kamu bertanya seperti itu?" Cetus Zoya dengan bibir yang bergetar hebat.
Tiba-tiba rasa sesak menghantam dadanya. Mendengar Ken yang mempertanyakan anak dalam kandungannya anak siapa, itu sudah membuat tuduhan yang sulit dipercaya.
__ADS_1
Ken menggeleng cepat, terlihat dari sorot matanya pria ini tengah diselimuti rasa kecewa dan amarah. Rahang Ken mengeras, dia mendekat dan Zoya mundur hingga punggung mungil itu menabrak dinding di dekat wastafel.
"Jawab aku dengan benar! Anak siapa itu?" Ken berteriak di depan wajah Zoya, bahkan dia memukul dinding dengan keras menyiratkan amarahnya.
Seketika air mata Zoya luruh mengalir membasahi pipi mulusnya. "Ini anakmu, Hubby. Ini anakmu!"
"Jangan bohong, Zoy. Aku tidak mungkin bisa membuahimu. Jadi cepat katakan siapa pria itu, apa dia badjingan cilik itu?" sentak Ken semakin menunjukkan kekecewaannya.
Mata Zoya terbelalak lebar, mendengar tuduhan Ken. Dia tahu siapa yang Ken maksud. Zoya menggeleng dengan lelehan air mata yang menderas. "Aku tidak pernah mengkhianatimu, Dad. Aku berani bersumpah. Aku tidak mengkhianatimu dengan siapapun."
Untuk pertama kalinya, dia kembali memanggil Ken dengan sebutan Daddy.
Seketika Ken mencengkram lengan Zoya, hingga kedua wajah itu beradu. Wajah marah itu terlihat sangat menyeramkan, dan hari ini Zoya baru pernah melihatnya. "Lalu siapa ayah dari bayi itu, Zoya!!!" Teriak Ken.
Suara bariton itu memenuhi ruang di sekitar mereka. Lengan Zoya yang dicengkeram kuat oleh Ken memang sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit, dengan ketidakpercayaan Ken padanya.
Namun, Ken yang sudah diselimuti oleh iblis tidak menerima elakan Zoya. Otaknya kembali berputar ke masa lalu, di mana dia ditinggalkan oleh Ishana. Sebuah kesakitan yang perlahan terkikis, justru tumbuh kembali, bahkan menebal.
Dia dikhianati kembali oleh wanita yang dicintainya.
Dan hal itu sukses membuat emosi Ken semakin terpancing. "Arghhhh!!!" Ken melepaskan cengkramannya pada lengan Zoya dan menjambak rambutnya frustasi.
Sementara air matanya meleleh, rasa sesak di dadanya mulai menghimpit membuat dia tak bisa bernafas dengan leluasa. "Katakan siapa pria itu! Ku habisi dia sekarang juga karena berani menyentuhmu!" Teriak Ken.
Tubuh Zoya semakin bergetar. Dia mencengkram erat ujung kimononya. Takut dengan kemarahan Ken yang semakin jelas di matanya.
"Dad, percayalah padaku. Aku tidak melakukannya. Hanya denganmu, aku hanya melakukannya denganmu."
"Bohong! Apa karena menungguku terlalu lama kamu sampai tega mengkhianatiku? Jawab aku, Zoy! Jawab aku dengan benar! Apakah malam itu kamu melakukannya dengan badjingan itu?" Cetus Ken.
__ADS_1
Dia pun masih ingat betul, bahwa saat tidak ada dirinya, Raga pernah datang bersama Nora. Dan pastinya Zoya bertemu dengan pria itu. Benarkah pada saat itu Zoya melakukannya tanpa dia tahu?
Hati Zoya makin hancur, tangisnya semakin keras dengan bahu yang naik turun. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kenapa kamu tidak mau mengakuinya? Apa dari awal kamu memang tidak pernah menginginkan ini semua?"
Mata Ken memicing, dia yang biasanya akan merasa bersalah jika sudah membuat Zoya terluka, kini lebih memilih egois. Dia menatap Zoya dengan perasaan kecewanya, kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Aku melakukan vasektomi selama dua tahun. Selama itu tidak ada satu pun wanita yang mengandung benihku. Kamu pikir, mendengar kamu mengandung aku bisa percaya dengan begitu mudahnya?" tanya Ken dengan suaranya yang memelan, tetapi begitu terasa menusuk.
Zoya tercengang mendengarnya. Jadi selama ini, Ken memasang alat kontrasepsi? Tapi, semua ini bisa saja terjadi kan? Dia tidak mengkhianati Ken, sama sekali tidak.
"Tapi bisa saja ada yang salah kan?"
Ken menggeleng dengan lelehan air mata. "Tidak mungkin, aku tahu bagaimana diriku. Aku selalu memeriksanya, semuanya tidak ada yang bermasalah."
Zoya memejamkan matanya kuat-kuat. Harus bagaimana dia membuat Ken percaya padanya. "Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun di belakangmu, Dad."
Kali ini Ken tak bisa diajak kompromi. Dia segera keluar dari ruangan itu dan mengambil pakaiannya. Melihat itu, Zoya mengekor pada Ken. "Dad, percayalah. Aku tidak melakukan apapun!"
Ken mengambil satu kaos dan celana panjang miliknya. Lalu berbalik ke arah Zoya. "Jujur padaku siapa ayah anak itu. Beritahu aku semuanya, baru aku akan mengampunimu!"
Setelah mengatakan itu, Ken keluar dari kamar tersebut. Entah dia ingin ke mana yang jelas dia ingin menenangkan hatinya.
*
*
*
Lu udah pada janji ye nggak bakal kabur, awas gue liatin. Python juga ikut mantauππππππππππ
__ADS_1