Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Godaan Zoya


__ADS_3

Ken menunggu beberapa saat sampai gadis itu selesai makan malam, dia terus mengirim pesan pada Zoya, hingga terhitung jumlahnya, 234 pesan yang belum terbaca. Di sana tertulis, agar Zoya cepat-cepat menghubunginya.


Hingga tak berapa lama kemudian, ponsel yang senantiasa Ken genggam, kembali memberikan getaran.


My Baby❤️ is calling...


Melihat itu, senyum Ken langsung mengembang, dengan gerakan cepat Ken mengusap icon untuk memulai panggilan. Senyum pria tampan itu semakin cerah, saat melihat wajah cantik gadisnya terpampang di sana.


Membuatnya tidak sabar untuk segera pulang, dan bercinta sepuasnya bersama Zoya.


"Halo, Hubby," sapa Zoya lebih dulu, gadis itu terlihat menggunakan dress rumahan, dan langsung bergulung di bawah selimut. Hawa dingin yang menyapa tubuhnya, membuat dia ingin memakai pakaian hangat saat tidur.


Ken merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Satu tangannya menumpu kepala, membuat sebuah bantalan. "Halo, Baby. Kemana saja kamu, Sayang? Kenapa baru menghubungiku?" rengek Ken dengan wajahnya yang sendu.


"Aku minta maaf tidak memberitahumu, tadi pagi aku sempat sakit, tapi sekarang sudah sembuh, kan sudah melihat wajah Sayang," jelas Zoya sambil menggoda Ken.


Membuat pria matang itu tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Bisa saja gadis ini membuat hatinya berbunga, bersama Zoya benar-benar membuat Ken merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.


"Bicaralah yang benar, Baby. Bagaimana keadaanmu? Sudah ke rumah sakit belum?" tanya Ken, satu tangannya yang menganggur beralih untuk membuka kancing kemeja.


Membukanya satu persatu, hingga memperlihatkan otot-otot dada dan perutnya yang begitu indah dan sempurna.


Zoya senantiasa memperhatikan gerakan jemari Ken. Hingga dia bisa melihat dengan jelas tubuh atletis kekasihnya, kini giliran gadis itu yang mengulum senyum, sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aku tidak ke rumah sakit, tapi Kak Nora memanggil dokter untuk memeriksaku."


Kening Ken mengernyit, tadi Ron belum menjelaskan sampai ke sana. Ah, lagi pula untuk apa memikirkan Ron, kan sekarang sudah ada Zoya. Dia bisa bertanya apa saja.


"Dokternya seorang wanita atau seorang pria?" tanya Ken, bukannya kondisi Zoya yang dia tanyakan, dia malah mengurusi jenis kelamin sang dokter.

__ADS_1


Mendengar itu, seketika otak usil Zoya mulai berkelana, dia menatap Ken dengan senyum jahil. "Pria, dia tampan." Ucap Zoya tanpa rasa bersalah.


Membuat Ken langsung menautkan kedua alisnya. "Siapa yang tampan?"


"Dokternya, dia masih muda dan tampan. Hubby kalah jauh dengannya."


"Bicara apa kamu, Zoy? Apa yang dia lakukan di atas tubuhmu? Dia memeriksa bagian yang mana? Katakan!" Suara Ken mulai ketus, tetapi bukannya takut, Zoya justru ingin terkekeh, merasa gemas dengan pria matang ini.


Tiba-tiba Zoya menyibak selimut, dan menaikan dressnya, hingga perut rata nan mulus itu dapat Ken lihat dengan jelas. Mulut pria itu langsung menganga, sementara Zoya terus mengarahkan kamera ke perutnya.


"Di sini." Tunjuk Zoya, "dia tadi menyentuh bagian tubuhku yang ini, Hubby," gadis itu mengadu dengan suaranya yang manja.


Ken bergeming, dia menelan salivanya susah payah, sementara otak mesumnya mulai terkontaminasi, apalagi saat Zoya menaikan kembali dressnya, dan pelan-pelan memperlihatkan dua bulatan kesukaannya.


Terlihat sangat sintal dan memanjakan mata. Mulut Ken semakin menganga, netra buasnya mulai memindai dengan jeli pahatan indah di depannya.


"Semuanya dia sentuh, apa Hubby mau menyentuhnya juga?" tanya Zoya semakin gencar untuk menggoda, apalagi melihat tatapan mata Ken yang sudah kembali mendamba.


Kini Zoya yang berganti mengeryitkan dahinya. Ada apa dengan Ken? Biasanya juga meminta lebih dulu, kenapa sekarang malah tidak mau. "Why? Hubby, you don't want?"


Ken menghela nafas panjang, menetralkan kembali hasratnya, sebisa mungkin dia tidak boleh terpancing. "Tidak apa-apa, Sayang. Kalau seperti itu nanti aku ingin cepat pulang. Sedangkan pekerjaanku masih banyak." Jelas Ken bohong.


Mendengar itu, bibir Zoya mencebik. Bukankah saat Ken di Bandung, pria itu juga meminta itu semua padanya. "Benar tidak mau?" Zoya masih kukuh bertanya, dengan tatapannya yang menyelidik.


"Iya, Sayang. Sudah ya, tutup kembali tubuhmu. Kamu juga sedang sakit, jadi jangan terlalu lama buka-bukaan seperti itu."


Bibir Zoya semakin mencebik, dia menurunkan dressnya, lalu kembali menarik selimut. Kesal dengan reaksi Ken, padahal dia sudah berusaha menyenangkan pria itu.


"Hei, Sayang. Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak tahu!"


Ken menghela nafas, mencoba mengalah dengan sikap Zoya. "Tadi makan sama apa? Makannya banyak kan?"


"Tidak tahu juga!"


Mendengar itu, Ken memejamkan matanya, selain merasa menjadi seorang remaja, bersama Zoya juga ternyata melatih kesabarannya.


Ah, Zoya. Aku juga mau sebenarnya, tapi aku tidak bisa!


*


*


*


Ngambek Pythonnya 🤣🤣🤣



Ngothor : Yah kasian deh lohhh🤪🤪🤪 Ulernya nggak bisa maen.


Daddy : Masih gue liatin lu Thor, awas aja nanti kalo gue udah sembuh, gue gempur neng joya tiap menit, tiap detik, tiap jam.


Ngothor : Yaudah Sono, gue sama yang lain liatin, bisa kagak lu abis ini dapetin neng joya.


Daddy : Dih jangan macem-macem lu Thor.


Ngothor : Lu yang jangan macem-macem, selangkangaan uler! Bae-bae sama gue biar mulus jalan lu menuju Roma. Ah tuhkan jadi promosi pilm.

__ADS_1


Pokoknya minta kembang sama kopi aja dah 🤣🤣🤣


__ADS_2