
Ken kembali ke kamarnya dengan membawa benda yang diberikan oleh Bi Lila. Dia lekas melangkah, dan mendapati sang istri yang tengah mondar-mandir di dalam kamar.
Melihat Ken datang. Zoya langsung bernafas dengan lega. Gadis itu menatap sumringah wajah suaminya, berbeda dengan Ken yang terlihat sangat merana.
"Sayang, kamu berhasil mendapatkannya?" tanya Zoya seraya mendekat ke arah Ken. Pria itu mengangguk lalu menyerahkan pembalut yang Zoya minta.
Senyum Zoya mengembang, tanpa banyak kata dia mengambil celanaa dalaam yang sudah sebagian dipindahkan ke lemari Ken. Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi, untuk menyumpal sesuatu yang tengah keluar dari pusat tubuhnya.
Zoya menghela nafas lalu mematut diri di depan kaca, dia masih memakai handuk yang panjangnya hanya sebatas paha.
Dia tersenyum kecil, sebelum keluar dari sana. Memikirkan cara bagaimana menyenangkan suaminya. Ya, walaupun mereka tidak bisa menyatu, bukankah ada cara lain untuk memberikan servis pada pria itu.
Zoya keluar dari dalam kamar mandi, melangkah mendekati Ken yang duduk di tepian ranjang. Tanpa diduga, Zoya langsung menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Ken.
Ken sedikit tersentak, lalu tangannya reflek melingkar di pinggang Zoya. Tatapan keduanya bertemu, Zoya menangkup satu sisi wajah Ken. "Kenapa wajahmu masam sekali? Kamu kecewa, Hubby?" Tanya Zoya.
Lagi-lagi helaan nafas terdengar. Sementara kedua netra itu semakin terlihat sayu. "Tentu saja, Sayang. Ini hari yang kita tunggu-tunggu. Bahkan kita tidak melakukannya hampir satu bulan. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi." Ujar Ken apa adanya. Sebagaimana yang dia rasa.
Sumpah demi apapun, kepalanya terasa sangat pening. Dia benar-benar ingin. Ingin memakan Zoya sampai dia merasa lelah, bila perlu sampai tenaganya habis tak tersisa.
Zoya mengulum senyum. Membuat Ken langsung mengeryitkan dahinya. "Kalau begitu, sebagai gantinya, aku bantu kamu mengeluarkannya. Sampai Hubby puas." Ucap Zoya penuh percaya diri.
"Baby_"
Belum sempat Ken meneruskan ucapannya, tubuh pria itu sudah terdorong hingga mereka jatuh ke atas ranjang, dengan Zoya yang berada di atas tubuh Ken.
Tanpa diminta, atau bahkan tanpa bantuan sang suami, Zoya melepaskan handuknya sendiri, dan melemparkannya begitu saja.
__ADS_1
Malam ini, dia tidak butuh benda itu.
Dua bulatan indah milik Zoya kembali terpampang, membuat Ken langsung meneguk ludahnya secara kasar. Dan hal itu sukses membuat pusakanya kembali menegang.
Zoya mengulum senyum. Yakin, bahwa Ken akan merasa senang.
Tanpa ba bi bu, Zoya langsung menurunkan kepalanya. Untuk merampas bibir Ken, ingin memberikan kepuasan pada pria matang ini di malam pengantin yang sudah terancam gagal.
Ken mulai termanjakan, dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Zoya berikan. Tangannya langsung menyergap dua pegunungan yang tersuguh, meremassnya dengan gelora yang penuh.
Seketika suara decapan terdengar nyaring. Memenuhi langit-langit kamar sang pengantin. Tak hanya ingin meremassnya, Ken pun ingin menggigit serta menghisap buah dada milik Zoya.
"Ught, Hubby!" lenguh gadis itu, membuat suasana mulai memanas. Dia menjambak manja rambut Ken, sementara wajah pria itu terbenam di dadanya.
"Stop, Hubby. Aku yang akan memegang kendali kali ini," ucap Zoya di antara desaah yang mendera.
Ken melepaskan susuannya. Lalu menatap ke arah Zoya yang sedang menggigit bibir bawahnya. Terlihat sangat seksi hingga dia ingin terus merasakan itu semua.
Tak berselang lama, Ken meraung keras. "Ahhhh, Baby..." Saat Zoya mulai menguluum kepala python dengan rasa basah yang menggelora.
Permainan lidah gadis itu benar-benar sangat dahsyat membuat Ken mengerang nikmat. "Ah, Baby. You are the best. This is very good....Ahhh, Zoy."
Ken semakin mencengkram sprei dengan sangat kuat. Saat Zoya menghisapnya pelan-pelan. Rasa ini sungguh membuat Ken menggila, mulutnya senantiasa menganga. Sementara sengatan itu terasa semakin tinggi, mendera seluruh urat syarafnya.
"Ahhhh...Baby. You make me crazy, Baby." Ken beralih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Zoya bukan lagi gadis yang lugu, sumpah demi apapun kini gadis cantik itu sudah menjadi suhu.
Ken sudah tidak kuat, dia ingin segera memuntahkan laharnya. Dia bangkit, lalu melipat kedua lututnya, membuat dia setengah berdiri di atas ranjang, sementara Zoya seperti seorang bayi yang tengah merangkak.
__ADS_1
Ken kembali memasukkan ular python ke dalam mulut istrinya. Kini bukan hanya Zoya yang berkontribusi untuk menyenangkan suaminya.
Tetapi Ken juga ikut bergerak, dia memaju-mundurkan tubuhnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan memegangi kepala Zoya.
"Aarggghhhh! Baby....Ah, Sayang. Ini sangat nikmat." Ken terus memacu tubuhnya, sementara fantasinya tentang Zoya semakin berkelana dengan liar. Desaahan itu bahkan terdengar sampai keluar.
Membuat semua orang yang baru saja rehat setelah membereskan sisa-sisa pesta, tersentak seketika. Mulut-mulut mereka reflek menganga.
Itu suara apa?
*
*
*
Suara python lagi mendesis 🤣🤣🤣
Deterjen : Thor ngapa sih kamar si Daddy kagak dikasih penyedap rasa, eh pengedap suara? Padahal orang kaya. Kan jadinya suaranya ke mana-mana!
Ngothor : Jawab, Dad! Gue dah pusing.
Daddy : Jadi nih emak-emak sekalian alam, ngape gue kagak pake pengedap suara? Bukan, bukan sayang duitnya. Tapi ya kali nanti jadinya suara desaahan gue sama neng joya jadi mubajir kagak ada nyang dengerin.
Ngothor : Cakeppp!!! Review pythonnya dong ganteng.
Daddy : Eh dasar emak sableng!
__ADS_1
Dah lama kagak malak, siapa tahu ada yang mau lempar kembang sama kopi 🥱🥱🥱