Gairah Sang Casanova

Gairah Sang Casanova
Python #10


__ADS_3

"Kamu menakjubkan, Baby," puji Ken sambil membelai lembut pipi mulus Zoya, hingga berlabuh di dagu runcing gadis itu.


Ken terus memperhatikan penampilan istrinya, rambut diikat tinggi, leher jenjang terekspos bebas, bersih nan putih. Sementara di tengkuk wanita itu terdapat lilitan tali bikini.


Pucuk kesukaannya hanya terhalang kain yang tak seberapa, pun dengan lembah lembab di bawah sana. Ah, semuanya benar-benar terlihat sempurna.


Kenapa Zoyanya terlihat sangat menggairahkan malam ini? Apalagi saat gadis itu bersikap lebih nakal dari biasanya. Seolah mengajaknya untuk berlabuh ke surga dunia saat itu juga.


"Kamu sudah selesai datang bulan?" tanya Ken memastikan, sementara wajahnya terus mengendus-endus leher jenjang Zoya.


Gadis itu mengulum senyum, dia membiarkan Ken melakukan apapun yang pria itu suka. Hingga Ken sebentar lagi mendorongnya untuk berbaring bersama.


Zoya mencengkram dada Ken. "Sabar, Hubby." Ucapnya, membuat Ken menahan kedua lengannya di sisi tubuh Zoya, dan gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Ken, pandangan mata mereka bertemu, Zoya bangkit dan sedikit mendorong Ken, karena dia ingin duduk di pangkuan pria matang itu.


Sumpah demi apapun, dalam posisi seperti ini Zoya sudah bisa merasakan ular python milik suaminya yang menggeliat.


Kedua sudut bibir Ken tertarik ke atas, ingin melihat sejauh apalagi Zoya bermain-main dengannya. Dia sangat menyukai Zoya yang seperti ini, bahkan jiwa perkasanya langsung bangkit, tanpa harus dipancing lebih lama.


"Malam ini aku sengaja berdandan seperti ini untukmu. Aku tahu kamu sudah tidak sabar menantikannya, begitu pun juga aku." Zoya mengusap lembut satu sisi wajah Ken, hingga pria itu beberapa kali memejamkan matanya, menikmati sentuhan Zoya.

__ADS_1


"Jadi...." Zoya menggigit bibir bawahnya dan menarik kepala Ken, untuk menyatukan kening mereka. Hingga hembusan nafas itu saling menerpa. "Habisi aku malam ini, seperti janjimu! Aku menantikannya, Hubby." Senyum di kedua bibir itu langsung melengkung dengan sempurna.


Tanpa banyak kata, Ken langsung mendorong tubuh Zoya, dan mengungkungnya di bawah sana. Dia meraup bibir ranum itu dengan buas, seolah rasa dahaga dalam kerongkongan hasratnya membludak. Ingin segera teraliri oleh basahnya gelora yang Zoya tawarkan.


Dicumbu dengan sedikit gerakan kasar, nyatanya tak membuat Zoya kesakitan. Dia justru menyukainya, adrenalinnya dalam bercinta seolah ditantang. Dia malah semakin dibuat senang dan melayang.


Ken terus melumaat bibir mungil istrinya. Sementara satu tangan pria itu sibuk membuka baju kemejanya sendiri. Tak hanya ingin diam, Zoya membantu Ken, dia bahkan ikut beringas, bagai singa betina di musim kawin, Zoya menarik paksa kancing kemeja Ken hingga benda bulat itu berhamburan entah ke mana.


Ken sedikit menyeringai dibalik ciuman mereka. Tubuh bagian atasnya sudah tak berpenghalang. Sama halnya dengan Zoya, dia pun merobek baju saringan yang menghalangi lekuk tubuh istrinya, dan membuangnya ke sembarang arah.


Menyisakan kedua penutup yang mudah saja untuk dia buka. Tak ingin menjadikan momen ini begitu singkat, Ken mulai bermain dengan tenang.


Dia melakukan pemanasan dengan sebaik mungkin. Ken menyusuri belakang telinga Zoya dengan lidahnya. Menggigit dan mengulumnya dengan gemas, hingga area itu basah oleh air liurnya.


"Hubby, geli," rancaunya sambil mengusak rambut Ken yang mulai bersarang di lehernya, dan entah kapan pria itu membuka penutup yang menghalangi dua pucuk pegunungan Himalaya milik Zoya. Hingga dengan cepat, bibir Ken sudah berlabuh di sana.


Ruangan yang semula sunyi, mendadak riuh oleh lenguhan-lenguhan Zoya, pun dengan decapan Ken yang menggema. Sedikitpun tubuh Zoya tak mau diam, selagi Ken mencumbunya, seiring itu pula Zoya menggelinjang memberi reaksi dari rasa yang dia terima.


"Aku akan menghajarmu sampai pagi, Baby. Kamu tidak boleh menghentikanku, cukup terima beres saja, karena aku yang akan memegang kendalinya. Just enjoy it, My Baby."

__ADS_1


Sejurus dengan itu Ken langsung memoloskan tubuh Zoya. Begitu pun dengan dirinya, dengan dada yang naik turun dan nafas yang terdengar memburu dia bergerak tidak sabaran.


Ken menarik kedua kaki Zoya dan membukanya lebar-lebar. Ken menempelkan pucuk hidungnya di sana, menghirup dalam seolah aroma itu sangat dia rindukan. "Milikmu sangat harum, Sayang." Pujinya sambil menatap Zoya.


Gadis itu tak menjawab apapun, hanya ada rona di wajahnya, menandakan dia suka kalau Ken juga suka.


Hingga di detik selanjutnya Zoya menjerit sambil menjambak rambut Ken. Mulutnya menganga dengan desaah yang menggema. "Ah, Hubby!"


Seluruh urat syarafnya dibuat menegang, di saat irisan buah peachnya dikulum dan disesap dengan penuh gairah oleh sang pria.


Zoya tak bisa berkutik tatkala Ken menelusupkan lidahnya ke dalam sana. Kepala gadis itu menggelegak dengan mulut yang terbuka lebar. Sementara perutnya kembang kempis, menahan gejolak yang nyaris meledak.


"Hubby, bisakah kamu memberikannya sekarang?" teriak Zoya, yang sudah tak mampu menahan rasa yang Ken berikan. Dia mencengkram erat kain sprei. Namun, tak lama dari itu tangannya terbuka karena Ken menautkan jari jemari mereka.


Kini, dia berada tepat di atas tubuh Zoya. Wajah gadis itu memerah, dengan dada yang membusung. Dan Ken sangat menyukai pemandangan indah ini. Dia menyeringai penuh. "Are you ready to play with me? My Baby? (Apakah kamu siap bermain denganku? Sayangku?)"


*


*

__ADS_1


*


Siap nggak siap nggak? Ntar gue disalahin karena nongolnya siang-siang 🥱🥱🥱


__ADS_2