
Akibat tidak dibelikan semangka oleh sang ayah. Aneeq langsung mengamuk. Namun, amukan bocah tampan itu membuat semua orang tertawa. Bukannya menangis atau apa, Aneeq malah mengoceh sambil memakan burger di tangannya.
"Cemangka, An mauna cemangka!"
Aneeq menghentak-hentak tanah. Sepeda yang ada di sampingnya juga sudah terguling. Dia menatap semua orang, tetapi di antara mereka tidak ada yang menunjukkan wajah kasihan.
"Bulgelnya ndak enak! An ndak cuka!" jerit Aneeq, matanya berkaca-kaca dengan mulut yang dibelepotan oleh saos.
Zoya menahan senyum, dia saling tatap dengan Ken, lalu mendekat ke arah putra sulungnya. Dia menyuruh Nova untuk mengambil tisu. "Makannya yang benar, Nak." Ucap Zoya sambil menarik pelan tangan Aneeq yang terus menjejalkan burger ke dalam mulut.
"An mauna cemangka, Mommy. Daddy nya ndak beyiin," jawab Aneeq yang mulai menangis. Dia menatap sang ayah penuh dendam. Awas saja! Batinnya mengancam.
"Iya nanti dibeliin sama Daddy, Daddy tadi lupa," ujar Zoya memberi pengertian pada Aneeq. Dia mulai membersihkan mulut kecil anaknya. Namun, pria kecil itu tak mau mendengarkan. Dia malah memeluk Zoya dan menangis di balik dada ibunya.
Sementara Ken yang sudah ingin bersih-bersih menjadi urung, sebab melihat Aneeq yang marah padanya. Ken menghela nafas panjang, lalu sedikit menggaruk kepala, karena merasa bersalah melupakan pesanan putra sulungnya.
"Sudah dong menangisnya, jagoan Daddy kan anak pintar, ayo kita beli semangka," ucap Ken yang ikut membujuk Aneeq. Namun, pria kecil itu tidak mau ikut dengan Ken, dia tetap memeluk tubuh Zoya dengan erat, dan menangis sambil menyebut semangka kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau besok kita tanam semangka di kebun belakang." Ken masih belum mau menyerah, dia menarik pelan tangan Aneeq, tetapi segera ditepis oleh anaknya itu.
"Ndak mau, Daddy pati bo'ong."
"Lho benar, besok Mommy kan sekolah, nanti kita tanam semangka sama-sama. Sekarang kita beli semangkanya di toko buah dulu."
Sukses, hal itu membuat Aneeq pelan-pelan mengangkat kepala dan menatap wajah sang ayah. "Suwel takewel-kewel?"
Ken terkekeh geli mendengar ucapan anaknya. Namun, karena tak mau membuat Aneeq semakin marah, Ken segera menganggukkan kepala. "Iya, i swear. sekarang ayo kita beli semangka."
"Nanti saja, aku pergi dulu dengan anak-anak. Hanya sebentar," jawab Ken lalu menggendong tubuh gembul Aneeq. Namun, si bungsu yang tak terima langsung berlari ke arah ayahnya.
"Nono! Tetty ndak boyeh etong Kak An!" teriaknya sambil mengulurkan kedua tangan. Tidak ada yang boleh digendong oleh Ken, selain dirinya.
Namun, Ken tidak mengindahkan ucapan El. Dia tetap menggendong Aneeq, tetapi tangan kirinya berusaha pula menggendong putri bungsunya. Hingga kedua bocah yang saling bertatap muka itu saling melemparkan tatapan sengit.
"Aakhhh!" teriak Aneeq, tangan bocah tampan itu terulur dan meraih bando pita yang ada di kepala El. Aneeq menariknya hingga bando karet itu memantul di kepala sang adik.
__ADS_1
Prat!
Bersamaan dengan itu, suara tangis El langsung menggelar, burger yang ada di tangannya di lempar ke arah Aneeq. Membuat bocah tampan itu ikut menangis. Ken melongo melihat pertengkaran yang ada di hadapannya, sementara ia tidak bisa memisahkan keduanya.
"Astaga!"
Zoya langsung mengambil alih Aneeq. Sementara El langsung konser. Adu jeritan, supaya sang ayah simpati padanya. Andai hanya Aneeq dan El yang menjadi anak mereka, Zoya tidak akan mungkin sepusing ini. Karena tiga anaknya lagi malah ikut-ikutan memeluk dirinya, saling berebut dan berujung adu mulut.
"Oh my God! Bee, Choco, De," panggil Zoya, mereka sudah dipisahkan baby sitter masing-masing. Bahkan Reymond, kakek Abian dan Raga ikut turun tangan, tetapi yang namanya bocah tetap mau ikut induknya.
Ya, induk mereka, si ratu ular.
"MOMMY!" jerit ketiganya. Sementara Zoya sudah ada dalam kuasa Aneeq. Karena merasa tak ikhlas berbagi dengan saudara kembarnya, ia sampai membekap mulut Zoya, agar tidak bicara.
Puk!
Ken hanya bisa menepuk jidat saja.
__ADS_1