
"Ibuuuu" panggil sebuah suara cempreng yang melengking memenuhi sebuah rumah mewah.
"astaga, ada apa lagi ini" kesal seorang wanita berkepala 4 yang frustasi dengan kelakuan putri semata wayangnya pagi ini.
"ibu, tolong aku" terdengar lagi suara cempreng itu.
"ya, sebentar" si wanita menghampiri putrinya.
"ibu, aku tak bisa mengikat dasi ini" rengek sang putri.
"kamu sudah umur berapa? mau sampai kapan manja seperti ini Kania?" kesal sang ibu.
"ayolah sayang, ajari aku kali ini saja" kata sang anak yang di panggil Kania dengan manja.
"kamu mau diajarkan berapa kali sih?" kesal ibunya.
tak ingin ibunya kesal, Kania memeluk dan mencium ibunya berkali-kali. Sang ibu hanya tersenyum melihat tingkah manja Kania.
"sudah, ayo cepat sarapan. Hari pertama sekolah kamu tidak boleh terlambat" ujar sang ibu sambil mengelus pipi mulus anaknya.
"siap ibu suri" jawab Kania bergegas mengambil tas sekolah dan turun menghampiri ayahnya.
"apa ayah boleh mengantar putri ayah?" tanya sang ayah saat melihat putrinya turun.
"tidak tidak, ayah tidak perlu mengantar Kania. Ayah harus pergi ke perusahaan, lalu ke Yayasan bersama ibu. Siangnya ada rapat Dewan lagi, lalu sorenya Ayah akan menemani ibu Arisan. Apa Kania salab jadwal ayah?" Kania menyebut jadwal sang ayah dengan tepat, dan itu membuat ayahnya tertawa.
"ya ya, anak ayah yang terbaik. Cepatlah, lihat siapa yang sudah menunggu" kata ayah Kania sambil menatap ke arah pintu.
"Jeno!! apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di rumah orang?" kata Kania yang terkejut melihat Jeno yang entah sejak kapan sudah berada di rumahnya.
__ADS_1
"tentu saja datang menjemput cewek pemalas, ya kan om?" kata Jeno mendekat kearah Kania dan mengambil roti jatah sarapan Kania.
"Jeno!!!" Kania berteriak tepat di depan wajah Jeno.
"apa sih, bagi dua lah" Jeno menanggapi teriakan Kania dengan wajah malas nya.
"apa kalian hanya hidup dengan bertengkar, hah? kalian tidak kesekolah? apa ibu harus menghukum kalian lagi?" kata ibu Kania kesal dengan tingkah putrinya dan Jeno.
"ah tidak tante, Jeno berangkat sekolah dulu" pamit Jeno ketakutan.
"ibu suri Kania berangkat ya" Kania ikut pamit dan pergi menjauhi ibunya yang sedang marah.
Agah Kania hanya menatap dua anak itu dengan tawa.
"Mereka tumbuh dengan cepat" kata sang Ayah.
"ya, mereka memang sudah besar. Tapi lihat tingkah mereka, membuat ku ingin merebus mereka menjadi sup" kesal Ibu Kania.
"Ini terlalu pagi" keluh Kania
"jalan saja, semakin pagi semakin baik" tukas Jeno
"ayo jalan kaki saja" ajak Kania tiba-tiba.
"kenapa tidak pakai busway saja?" tanya Jeno.
"kamu takut terlambat? ini masih jam 5.50 pagi Jeno" kata Kania memelas.
jeno melirik jam tangannya.
__ADS_1
"kau benar, ayo jalan kaki saja" kata Jeno mengiyakan ajakan Kania.
Kini Kania dan Jeno sudah berdiri di deoan gerbang sekolah setelah 15 menit mereka berjalan kaki.
"selamat pagi Nona danTuan" sapa sang satpam.
Kania melirik sekitarnya, lalu menghampiri si satpam. Entah apa yang ia katakan, sang satpam hanya mengangguk.
"apa yang kamu katakan, ayo masuk" ajak Jeno sambil menarik tas sekolah Kania.
"iya, tali lepas tangan kasarmu, itu menyakiti tasku bodoh" kata Kania kesal.
"kau tahu? tangan kecil mu ini jauh lebih kasar" kata Jeno mengangkat sambil menggoyang tangan Kania.
"Jenoarth" Kania menyebut namanya dengan penuh penekanan.
"aku hanya bercanda" Jeno tertawa melihat raut wajah Kania.
"jangan tertawa bodoh, matamu hilang" kata Kania terkekeh melihat mata Jeno yang tertutup ralat jika tertawa.
"aku baru tahu sekolah ini menerima siswa dari kelas biasa" sebuah suara membuat langkah Kania terhenti beberapa detik.
"haha apa gunanya punya wajah rupawan tapi berasal dari kelas biasa?" sabung yang lain yang diiringi tawa.
"ku dengar pagi ini mereka berjalan kaki kkkkk"
"waah setidaknya mereka harus menggunakan bus atau kereta kan?"
__ADS_1
suara ejekan dari belakang mereka membuat Jeno dan Kania bertatapan sambil tersenyum.