
" Suatu kebetulan yang sangat manis karena bisa bertemu lagi denganmu Raya !! " ujar pria itu .
" Ckk ... panggil aku Asti seperti yang lainnya " gerutu Astika karena panggilan nama yang tidak lazim di telinganya .
" Tapi namamu Astika Raya Effendy , dulu aku.juga memanggilmu seperti itu . Bagaimana kabar adikmu yang sama cantiknya itu !? "
" Sebelum aku jawab sebaiknya kita pesan makanan dulu sebelum aku pingsan kelaparan di sini "
" Ya .. ya ... maaf saking senangnya bertemu denganmu aku jadi melupakan soal lapar "
Mereka memanggil seorang waiter untuk memesan makanan , sambil menunggu makanan mereka datang Astika bangkit untuk membaca puisi puisi yang ada di dinding kafe .
" Kau suka membaca puisi puisi patah hati di dinding itu ? Kita sama , aku selalu berkunjung ke kafe ini jika ingin sekedar menenangkan diri . Suara deburan ombak dan melankolisnya puisi patah hati membuat suasana hatiku lebih tenang "
" Dasar aneh !! Bagaimana bisa membaca puisi patah hati membuat hatimu damai , yang ada tambah galau . Apa kau sedang ada masalah dengan pasanganmu ? "
Pria itu hanya menggeleng dan tersenyum getir , dia berjalan ke sisi lain untuk membaca puisi patah hati lainnya .
" Cari solusi secepatnya jika kau masih mencintainya , jangan sampai kau melepasnya sebelum kau benar benar merasakan sakitnya kehilangan "
" Dia masih berada di Amerika bersama putriku "
" Amerika !?? "
" Dia pulang ke rumah orang tuanya , aku menikahi seorang bule cantik Ra ! Aku yang salah karena aku tergoda wanita lain . Waktu itu aku datang ke sebuah klub malam , aku tak sadar jika sudah terlalu banyak minum . Aku bercinta dengan wanita yang tidak aku kenal di klub itu . Alhasil wanita itu selalu meneror hidupku dan istriku dengan meminta pertanggung jawaban " kata pria itu dengan menundukkan kepalanya dengan satu tangan meremat kuat rambutnya sendiri .
" JANGAN MENCOBA JADI B*JINGAN JIKA MASIH TAKUT MERASAKAN SAKIT !!!! "
Astika dan pria itu menoleh bersamaan ketika mendengar suara seorang pria yang berkata dengan sangat sinis menanggapi ceritanya , dilihatnya seorang pria sedang duduk di belakang meja mereka dengan secangkir kopi di depannya .
__ADS_1
" Gilang .... " lirih Astika , dia pernah membenci pria itu dengan sepenuh jiwanya .
" Brengsek !!!! Siapa dirimu hingga berani mengomentari hidupku ?? Ya aku adalah b*jingan , apa kau ada masalah dengan hal itu hahhh ?!!! "
Astika sedikit menarik lengan pria di depannya , dia tak mau terjadi keributan di kafe ini .
" Makanan kalian sudah datang , nikmati dulu sebelum kita meneruskan perdebatan kita " ujar Gilang bangkit dan berjalan keluar menuju arah pantai .
Astika berkali kali menghembusksn nafasnya dalam dalam , tak menyangka sore ini akan mendapat kejutan kejutan seperti ini . Bertemu dengan teman lama yang mampu sedikit menghibur hatinya , dan bertemu dengan pria yang sangat ia benci dengan sepenuh jiwanya .
" Dia benar , sebaiknya kita makan dulu ! Dan tidak usah kau tanggapi tingkah pria menyebalkan itu . Bukankah kau berada di tempat ini untuk menenangkan dirimu !? " kata Astika mencoba menenangkan hati teman lamanya itu .
Akhirnya mereka makan walau suasananya tidak sedamai sebelum Gilang mengeluarkan suara sinisnya . Setelah selesai makan dan mengobrol sebentar akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari kafe itu .
Mereka memanggil seorang waiter untuk membayar bill makanan mereka .
" Beliau yang tadi duduk di belakang meja ini , Bapak Gilang Dirgantara .... "
" Ooo begitu ya , terima kasih Bli "
Ternyata dugaannya benar , cafe ini adalah milik Gilang . Dan jangan jangan puisi puisi yang tertulis di dinding itu adalah tulisan pria mantan suami sahabatnya itu . Puisi puisi yang mampu menyentuh dasar hatinya .
Astika menjerit tertahan ketika ada sebuah tangan yang menariknya saat ia keluar dari pintu kafe .
" Mau apa kau !!! " pekiknya ketika tahu siapa yang menarik tangannya .
" Bicara ... aku hanya ingin bicara padamu " ucap Gilang dengan nada berbeda ketika dia bicara di dalam kafe tadi . Ada sedikit keputusasaan dalam nada bicaranya sekarang .
" Aku tidak ada urusan denganmu !! "
__ADS_1
" Aku tahu , aku hanya ingin menanyakan kabarnya saja . Apakah dia baik baik saja !? "
Gilang tidak bisa bertemu dengan putranya sejak Gema bersekolah di sekolah asrama di luar negeri . Biasanya melalui putranya ia bisa menanyakan kabar mantan istrinya , dan jika beruntung maka dia akan bisa melihat Diva ketika menjemput putranya walau hanya sekejap mata . Gilang tahu Adam sangat menjaga anak dan mantan istrinya itu .
Adam masih berbaik hati mengijinkan dia untuk bertemu dengan Gema walau hanya beberapa kali dalam sebulan . Tapi tidak untuk Diva , Gilang sama sekali tidak punya kesempatan walau hanya untuk sekedar meminta maaf . Karena menurut Adam urusan Diva dengannya sudah selesai .
" Kau sangat tahu bahwa Adam adalah yang terbaik untuk Diva ... jangan kuatirkan dia !! "
" Aku tahu , kau benar pria bejat sepertiku tidak pantas merindukannya "
Astika hanya terdiam , dia merasa bahwa dirinya tidak lebih baik dari seorang Gilang Dirgantara . Diapun pernah melakukan kesalahan fatal yang membuat pernikahannya hancur berkeping keping .
Wanita itu kemudian duduk di kursi yang ada di luar kafe .
" Maaf jika aku terdengar seperti menghakimimu , tapi yang kau lakukan padanya juga sangat menyakitiku "
" Ya , aku menyakiti semua orang termasuk diriku sendiri . Terimakasih sudah mau bicara denganku " ujar Gilang yang menggeser kursi dan duduk di depan sahabat mantan istrinya itu .
" Kau yang menulis puisi puisi di dinding kafe itu !? "
" Hanya iseng , kenyataan yang miris ... patah hatiku bisa menjadi magnet kuat untuk menarik pelanggan di kafeku sendiri "
" Kau sudah menikah lagi ?? "
" Tidak akan pernah ada yang mampu menggantikannya di hatiku "
Astika hanya tertawa mendengar pernyataan itu .
" Semua pria sama saja , bertahun tahun kau siksa dia ! Dan kau bersenang senang dengan ****** itu ... itukah yang kalian sebut dengan cinta !? Otak pria memang dangkal !! "
__ADS_1