Hurt

Hurt
52


__ADS_3

Besok adalah pernikahan kakaknya dan wanita yang selama ini dia anggap sebagai bidadarinya . Walau belum sampai pada tahap mencintai tapi Zahid sangat menyayangi Anna hingga ada rasa sedikit tidak rela jika secepat ini bidadarinya menjadi milik orang lain .


Apalagi ketika melihat watak kakak sulungnya yang sangat keras dan temperamen . Kadang Zahid tidak yakin jika Anna bisa menghadapinya .


Saat ini dia duduk di balkon apartemennya untuk sekedar melepas penat setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang menumpuk . Tiba tiba matanya terpaku pada seikat uang yang tergeletak di nakas samping jendela . Dia ingat uang itu adalah uang yang pernah ia berikan pada gadis bartender itu .


Zahid beranjak dan mengambil uang itu , dilihatnya jam tangan yang sudah menunjukkan waktu tengah malam . Entah kenapa tiba tiba ia ingin bertemu dengan gadis itu .


Disambarnya jaket kulit berwarna hitam yang tersampir di sofa ruang tamunya . Dia berharap masih bisa bertemu gadis itu di bar tempatnya bekerja . Dengan menggunakan SUVnya dia membelah jalanan malam hari itu .


Matanya menyipit ketika melihat seorang gadis yang ia kenali sedang berada dipinggir jalan bersama beberapa orang pemuda . Gadis bartender itu tampak sangat akrab dengan mereka dan entah kenapa itu memicu emosinya .


Zahid membawa mobilnya parkir tak jauh dari mereka dan ketika sampai dia segera turun dan menarik tangan wanita itu .


" Hei pelan pelan bung !! Dia seorang wanita !! " salah satu dari pemuda itu menyeletuk karena melihat tiba tiba Zahid menarik tangan Safa dengan kasar .


" Aku tidak punya urusan dengan kalian !! Dan wanita kalian ini masih punya urusan denganku "


" Wohoooo ... mulut anda sopan sekali bung !! Anda sedang di jalanan dan semua kemungkinan bisa terjadi disini " kata seorang pemuda yang kemudian ingin merangsek maju ke arah Zahid .


Safa yang tahu situasi segera memasang badan agar tidak terjadi keributan yang lebih jauh .


" Cukup , ini sudah malam ! Kalian pulanglah dan seperti yang sudah kita bicarakan , kita kesana lusa saat aku off . Aku memang ada urusan dengannya jadi jangan khawatir "


" Ya sudah , kita pulang . Tapi jika kami mendengar sesuatu terjadi padamu kami akan mencarinya ! Kami akan mencarimu Bung !! "

__ADS_1


Ketika beberapa pemuda itu sudah meninggalkan mereka Zahid kembali menarik tangan Safa dengan kasar .


" Menjijikkan , kencan berlima hahh !! "


" Bukan urusanmu Tuan !! " sahut Safa menepis tangan Zahid yang menariknya ke arah mobil Zahid yang terparkir di belakangnya .


" Kau menolak uang dariku tapi kau menerima ajakan kencan pemuda pemuda itu . Apa kau bodoh ?? Berapa mereka membayarmu !!? Aku bisa membayarmu lebih dari mereka !! "


PLAKKKK ...


Safa menampar pipi Zahid karena pria itu semakin keterlaluan . Dia terbiasa mendengar cacian , tapi pria itu terus saja berusaha menjatuhkan harga dirinya setiap kali mereka bertemu .


" Beraninya kau ... " lirih Zahid meraba sudut bibirnya yang berdarah .


" Aku tidak butuh uang dari pria semacam dirimu . Kau pria terhormat tapi bahkan kau tidak tahu bagaimana cara menghargai orang lain . Aku tidak menganggap apa yang aku lakukan terhormat Tuan tapi aku tidak pernah mengurusi atau merepotkan orang lain !! "


" Akkhhh .... " Safa terpekik ketika merasakan tiba tiba Zahid mencengkeram pundaknya dan menarik tangannya kasar ke arah mobilnya .


" lkut denganku , aku bayar berapapun kau mau !! Aku sanggup membayar sepuluh kali lipat dari tarif lima pemuda tadi "


Mendengar itu Zahid merasa gadis itu langsung terdiam , dia melihat wajah cantik itu tertunduk dan memejamkan matanya . Seperti ada sebuah beban yang sedang ia tanggung .


" Aku butuh lima ratus juta sekarang juga , apa kau sanggup ??!!! "


" Cihhh akhirnya kau menyebut berapa harga dirimu . Baik ... aku sanggup !! Sekarang ikut aku "

__ADS_1


Setelah beberapa kali menghela nafasnya panjang Safa akhirnya mengikuti langkah Zahid . Dia menurut ketika pria itu membawanya ke apartemennya .


Sampai di apartemen Zahid melangkahkan kakinya menuju kamar atas tanpa mempedulikan keberadaan Safa yang sekarang duduk di sofa kamar tamu . Tak berapa lama dia turun hanya dengan mengenakan celana panjang berbahan satin hingga pahatan pahatan sempurna terlihat di perutnya .


" Berlakulah seperti wanita lima ratus jutaku " sinis Zahid berdiri di depan Safa yang sekarang masih duduk di sofa ruang tamu .


" Kau ingin aku bagaimana Tuan ?? Melepas baju di depanmu ?? " ucap Safa dengan nada sedikit bergetar , sungguh diapun sebenarnya masih ragu dengan keputusannya itu .


Keputusan untuk menjual harga dirinya untuk sejumlah uang yang saat ini sangat ia butuhkan . Walau berkecimpung di dunia malam selama ini dia sangat bisa menjaga mahkota dirinya .


" Apa itu yang selalu kau lakukan bersama pria pria itu !? "


" ltu bukan jawaban dari pertanyaanku Tuan "


Zahid berdiri mematung , dia tak menyangka akan bisa berbuat sejauh ini pada gadis itu itu . Ada sebuah magnet yang sangat kuat yang selalu membuatnya tertarik pada gadis di depannya . Tapi ada kebencian yang juga sangat besar ketika melihat gadis bermata teduh itu ' melayani ' pria lain .


Zahid masih diam mematung ketika melihat Safa melepas satu demi satu kain yang menempel di tubuhnya hingga saat ingin melepas dua penutup terakhirnya Zahid meraih tangannya untuk mencegahnya .


" Apa seperti ini jika kau sedang bersama dengan mereka ?? " tanya Zahid dengan suara bergetar , ada rasa kecewa ketika Safa nekat menelanjangi dirinya sendiri di depannya .


" Dari awal hal seperti ini yang sudah kau pikirkan tentang aku . Bukankah kau pikir aku adalah wanita yang menjual tubuhku ? Dan itu tercapai malam ini . Aku jual diriku padamu , kau puas !? "


Zahid terhenyak saat melihat ada cairan bening di sudut mata gadis itu . Mata yang sama yang pernah dia lihat pada gadis masa lalunya . Sorot teduh yang tak membiarkan air di sudut matanya terjatuh membasahi pipinya .


Zahid masih ingat gadis masa lalunya pun tak menangis walau merasakan sakit yang amat sangat ketika sebuah batu membuat sebuah robekan dikepalanya .

__ADS_1


" Jangan .... "


__ADS_2