
19.00 Namjoon sudah bersiap untuk pergi ke pesta klien sekaligus rekan bisnisnya. Dia terduduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Lova yang masih bersiap di kamarnya.
Beberpa menit berlalu, Lova sudah bersiap. Dirinya berjalan anggun menuruni anak tangga menghampiri Namjoon yang sudah cukup lama menunggunya.
Seketika Namjoon memandang Lova tak berkedip, malam ini Lova terlihat begitu cantik dan anggun. Dress berwarna maroon dengan bagian atas tertutup, panjang di bagian depan dibawah lutut dan bagian belakang sedikit terjuntai panjang. Terlihat sederhana namun elegan dan mencerminkan karakter Lova.
“ maaf membuatmu menunggu” ucap Lova.
“ tidak apa, sudah siap? Ayok berangkat”
Namjoon dan juga Lova berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, Namjoon focus menyetir dan Lova sibuk dengan fikiranya sendiri sembari menikmati pemandangan malam kota soul.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 50 Menit merekapun sampai di tempat tujuan.
Hotel bintang lima yang sangat mewah menjadi tempat diselenggarakanya acara.
Namjoon mengampil tangan Lova memposisikan supaya Lova menggandeng tanganya.
Lova melihat Namjoon sesaat sampai akhirnya berjalan beringan dengan suaminya.
Lova tau mengapa Namjoon melakukan itu, di depan umum mereka harus kembali bersandiwara seolah mereka adalah pasangan suami istri yang harmonis dan juga romantis.
setelah masuk ke dalam gedung semua mata tertuju kepada pasangan suami istri yang belum lama menikah itu. Bebrapa rekan Namjoon menyambut dan menyapa mereka. Lova hanya teersenyum ramah kepada siapapun yang menyapa suaminya. Tidak ada satu pun diantara mereka yang Lova kenal, dia hanya mengikuti kemana Namjoon pergi dan terus menggandeng tangan suaminya. Lova berusaha bersikap baik di depan rekan-rekan bisnis suaminya.
“ Tuan Namjoon, terimaksih sudah menyempatkan datang ke acaraku? “ ucap sesorang menghampiri Namjoon.
“ Suatu kehormatan bagi kami sudah di undang ke acaramu tuan Suho , jadi tidak ada alasan untuk kami tidak datang “ balas Namjoon ramah.
“ ahahaha baiklah, ohh apakah ini Nyonya Joon ? “ sapa Suho melihat ke arah Lova, Lova terseyum ramah dengan di iringi anggukan.
“ benar dia istriku” jelas Namjoon. tanganya sedikit mendekap pinggang Lova.
“ baiklah, bagaimna jika istrimu bergabung dengan istriku di sebelah sana, biasa para wanita sedang berkumpul” tunjuk Suho sembari tersenyum ke arah meja bundar yang terdapat beberapa wanita cantik sedang berkumpul sembari diringi dengan tawa.
“ apakah kau tidak keberatan untuk bergabung dengan mereka disana ? aku ada urusan sebntar dengan Tuan Suho yang harus kami bicarakan “ Tanya namjoon, Lova hanya mengangguk. Mau tidak mau dia harus ikut bergabung dengan wanita-wanita di sana. Nyonya Suho sudah datang menjembut Lova stelah tuan Suho memebritahunya bahwa ada istri dari rekanya ingin bergabung.
Nyonya Suho terlihat sangat cantik dan ramah menyambut Lova.
“ Senang berkanalan dengan anda Nyonya Joon, mari ikut denganku “ Nyonya suho mengajaknya menghampiri istri-istri dari rekan bisnis yang lain.
Sejujurnya Lova tidak terlalu suka untuk berkumpul seperti itu hanya menyita waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting dan ujungnya pasti bergosip.
Lova duduk bersama rekan yang lain, seperti dugaanya setelah cukup lama bergabung para istri dari rekan suaminya itu membicarakan hal-hal pribadi, mulai dari mengungkapkan bagaimana awal mereka bisa bertemu dengan suaminya, sebrapa lama pacaran, malam pertama setelah pernikahan. Semua dibahas dengan antuisian oleh mereka. Lova hanya terdiam dan ikut tertawa untuk sekedar menanggapi cerita mereka.
“ aku sangat penasaran dengan Nyonya Kim yang satu ini, pasalnya kan diantara kita Nyonya Joon yang paling beruntung mendapatkan suami tampan dan kaya anak dari orang no 1 di korea, ? bagimana malam pertama kalian?? “ Tanya sesorang sembari menggoda Lova.
“ ahhh ia,,, pasti suamimu sangat gagah kan? Terlebih kalian ini masih pengantin baru pasti masih hangat-hangatnya. ” yang lain ikut menimpalin sembari diiringi tawa dari merka yang mendengarnya. Lova cukup bingung menjawab pertanyaan aneh mereka. Pasalnya boro-boro malam pertama tidur saja terpisah bagaimana bisa malam pertama?
“soal itu,,, ahh tentunya itu sangat rahasia “ jawab Lova tersenyum canggung, dan di iringi dengan tawa dari rekan-rekan yang baru dikenalnya itu. Sungguh aneh bagaimana bisa orang-orang ini membahas hal-hal yang sangat pribadi seperti itu pada seseorang yang baru dikenalnya. Lova harus bisa menyesuaikan dengan mereka.
“ aku justru sangat penasaran berapa uang bulananya Nyonya Kim, secara suaminya kan sangat tajir, belum lagi hadiah-hadiah yang di berikan pasti barang-barang bermerk dan perhiasan limited edition. “ ungkap salah satu dari mereka kembali.
“ ahh ia benar, tidak perlu ditanyakan lagi tentunya sangat banyak dia atas kita” jawab Nyonya Suho.
“ benarkah?? Berapa uang bulanan dari suamimu Nonya Joon? “ Tanya seseorang lagi.
“ emmm tentunya sudah lebih dari cukup untuku “ jawab Lova bijak.
dia baru menyadari mengenai uang bulanan, yahhh benar uang bulanan. sejauh ini Namjoon tidak pernah memberikan uang bulanana untuknya, selama menjadi istri selain cincin pernikahan dan mas kawin dia tidak pernah menerima apapun lagi baik itu uang atau perhiasan dari suaminya.
selama ini dia hidup dari hasil kerja kerasnya, menggunakan uang sendiri tanpa meminta sedikitpun kepda suaminya.
mendengar cerita orang lain memang seharusnya seorang istri mendapatkan nafkah dari suami, tapi dirinya?? Tunggu apa dia mengharapkan Namjoon memberikan apa yang seharusnya dia berikan sebagaimana suami pada umumnya . memberikan uang belanja, uang bulanan dan perhiasan? Tentu saja tidak, dia cukup tau diri seperti apa posisinya, dia hanya istri bayangan. Tidak pantas dia mengharapkan semua itu pada Namjoon.
“ ahh,,, memang Nyonya Joon ini sangat merendah, kami jadi sangat malu, lihatlah kita menggunakan berbagai perhiasan yang diberikan suami-suami kita hanya untuk terlihat wah, tapi Nyonya Joon, dia terlihat sangat sederhana dan tidak suka pamer, namun terlihat elegan, aku harus seprti dia “ ucap seseorang memuji Lova, Lova hanya tersenyum canggung.
Mengapa pembahasan ini terasa sangat memojokan dirinya ? rasanya dia sangat ingin tertawa mendengar pujian dari mereka, bukan karna sederhana dan gak suka pamer, memang tidak ada yang harus di pamerkan, dirinya tertawa miris menertawai dirinya sendiri.
Tanpa Lova sadari Namjoon mendengar semua percakapan mereka, hatinya begitu tersentuh.
benar selama ini dia tidak pernah memberikan apapun kepada Lova. dia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya tanpa menyadari dirinya kini sudah menjadi seorang suami yang mempunyai kewajiban untuk menafkahi istrinya.
Meskipun pernikahan mereka tidak berdasarkan cinta, namun sudah seharusnya dia tetap harus menjalankan tugasnya sebagai seorang suami menafkahi istrinya.
Dirinya begitu egois, bagaimana dia menajdi pria yang sangat pelit kepada istrinya sendiri?
Dia juga sangat tersentuh dengan jawaban bijak Lova, dia bisa menyimpan aib keluarganya dengan baik, dia tidak menjatuhkan atau menjelekan dirinya kepada orang lain. Dia bersikap seolah dia selalu menerima apapun dari dirinya. padahal kenyataanya dia suami yang pelit tidak pernah memberikan apapun kepada istrinya..
***
__ADS_1
Hari minggu yang sangat cerah, seperti biasa Lova menjalani aktifitas paginya dengan menyiapkan sarapan. tidak seperti biasnya Namjoon berada dirumah. Minggu-minggu sebelumnya jika hari libur Namjoon selalu menghabiskan waktunya bersama Nesya sang kekasih.
Lova juga cukup terkejut tatkala Namjoon mengajaknya pergi ke luar untuk sekedar berjalan-jalan.
Entah kemana Namjoon akan membawa dirinya pergi, Lova tidak mengetahuinya.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan, ternyata Namjoon mengajaknya pergi ke pusat perbelanjaan Elit yang ada di Korea. Namjoon memarkirkan mobilnya.
" aku ingin membelikan sesuatu untukmu" Ucap Namjoon melihat Lova yang hanya melihatnya heran, keduanya masih duduk berdiam di dalam mobil.
" dan ini,,,, ini kartu ku. pakailah untuk semua kebutuhanmu" Namjoon memberikan black card kepada Lova.
Lova tak langsung mengambil, dia hanya menatap Namjoon tak percaya.
Bagaimana mungkin Namjoon yang selama ini cuek kepadanya tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan, pergi ke pusat perbelanjaan, dan sekarang memberikanya black card yang limitnya tidak terhingga.
Ada angin apa?
" Va, ambilah...biar bagaimanapun aku suamimu dan aku bertanggung jawab atas semua kebutuhan mu.? jangan menjadikan aku sebagai saumi yg tidak bertanggungjawab." Namjoon meyakinkan Lova.
"Tapi..."
" Aku tidak menerima penolakan".
Lova pun mengambil kartu kartu yang diberikan Namjoon.
"Terimaksih". Ucap Lova canggung.
Jujur dia merasa heran kenapa tiba-tiba Namjoon bersikap aneh? Mengapa dia melakukan ini? Apa dia sudah berubah? Apa mungkin dia sudah mulai menerima dia sebagai istrinya.
Entahlah yang pasti untuk saat ini Lova cukup bahagia karena Namjoon mengajaknya pergi bersama.
Setidaknya dia bisa merasakan bagaimana rasanya jalan bareng dengan suaminya.
Lova berharap ini awal yang baik untuk hubunganya dengan Namjoon.
Seperti ada sebuah harapan.
Namjoon membawa Lova ke sebuah toko pakaian branded yang cukup terkemal.
Namjoon menyuruh Lova untuk milih pakaian yang disukainya.
Lova cukup senang karena hal itu.
Dia sedang asik memilih dress sembari terus memperlihatkan senyumnya, sangat jelas terlihat dari wajahnya jika dirinya sedang merasa bahagia, wajahnya terlihat berseri.
Lova sangat antusias tatkala melihat dress berwarna ungu yang sangat disukainya, segera dia menghamipri dress itu dan ingin mengambilnya, namun secara bebarengan ada sebuah Tangan yang sama-sama memegang dress yang dia inginkanya.
"Lova!"
"Nesya!"
Baik Nesya maupun Lova mereka sama-sama terkejut karna mereka memilih satu baju yang sama.
Tangan mereka masing-masing memegang sebagian pakaian itu.
Lama mereka saling memandang satu sama lain.
"Aku yang duluan mengambilnya" Tegas Nesya.
"Jelas aku yang duluan mengambilnya" Lova tak mau kalah.
"Tapi baju ini sangat cocok untuku dan tidak cocok denganmu" Nesya merebut baju yang ada di tangan Lova.
"Apa maksudmu aku tidak cocok dengan baju itu? " Lova cukup kesal dengan Nesya. Entah mengapa saat ini dia merasa kesal mengapa harus bertemu dengan Nesya.
Perbutan pakaian antara Nesya dan Lova cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian, beberapa orang melihatnya dan sesekali membisikan sesuatu.
Namjoon yang melihat ada sedikit keributan menghampiri sumber kegaduhan itu.
Tak disangka ternyata yang sedang dibicarakan orang itu adalah Nesya dan Lova yang tak lain adalah istri dan juga kekasihnya.
"Nesya, kau disini? " Namjoon langsung menghampiri Nesya tanpa memperdulikan Lova. Nesya cukup terkejut ternyata Namjoon yang menemani Lova belanja.
" Apa yang terjadi?" Tanya Namjoon melihat Lova dan juga Nesya.
" Aku ingin membeli baju ini, tapi Lova mengambilnya dariku" Nesya menjelaskan.
" Aku tidak mengambilnya, jelas kita sama-sama menginginkanya dan tak sengaja mengambilnya secara bersamaan" Lova mengatakan yang sebenarnya.
" Jadi kalian merebutkan satu baju ini?"
__ADS_1
"Ia..dan aku sangat menginginkan baju ini, bukankan baju ini sangat cocok untuku? " Ucap Nesya dengan sedikit manja.
Namjoon menoleh kepada Lova.
"Va..bisakah kamu mengalah dan memberikan baju ini pada Nesya, kita bisa nyari baju lain yang cocok untukmu.".
Sontak ucapan Namjoon membuat hati Lova seakan tertusuk.
Baru beberapa saat lalu Namjoon membuat dirinya bahagia. Tapi sekarang dia sudah dibuat sakit hati lagi dengan perkataanya. Lagi-lagi dia mementingkan Nesya dibanding dirinya. Wajah yang tadinya berseri kini terlihat tidak bersahabat.
" Selalu begitu, kenapa selalu aku yang harus mengalah dari Nesya? Aku ini istrimu, kamu lebih mementingakan dia dibanding istrimu? " Entah keberanian dari mana Lova bisa mengatakan itu kepada Namjoon.
Namjoon cukup terkejut dan melihat beberapa orang yang mendengar kata-kata Lova memandang mereka sembari berbisik.
Namjoon cukup panik mengapa bisa Lova berbicara seperti itu di depan umum. Nesya juga tidak menyangka Lova akan mengatakan hal itu. Pasti semua orang mengira bahwa dirinya perebut suami orang.
Wajah Nesya terlihat pucat, dan seketika dia pingsan di pelukan Namjoon yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya.
Namjoon terlihat begitu panik mendapati Nesya pingsan, dia membangun2kan Nesya namun tetap tidak sadarkan diri .
Tanpa berpikir panjang Namjoon langsung mengendong Nesya untuk membawanya ke rumah sakit. Namjoon terlihat begitu panik. Terlihat sangat jelas dari wajahnyaa. Dan Lova melihat semua itu.
Dia terdiam melihat Namjoon pergi membawa Nesya tanpa memperdulikanya.
Namun Lova menyadari semua orang kini melihat dirinya. Dia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan menyusul Namjoon yang sedang membawa Nesya.
Sesampainya di rumah sakit, Lova masih berdiam memperhatikan suaminya yang sedang khawatir karena Nesya masih belum sadarkan diri.
Tak lama dokter yang menangani Nesya keluar. Namjoon segera bangkit dan langsung bertanya bagaimana keadaan Nesya tentunya.
"Apa anda suaminya ibu Nesya? " Pertanyaan yang cukup membuat Lova tersinggung, jelas-jelas Namjoon adalah suaminya.
" Benar dokter, saya suaminya, bagaimana keadaan dia dok?" Tegas Namjoon tanpa berpikir panjang dan melihat Lova.
" Ibu Nesya baik-baik saja,dia hanya sedikit stress dan tertekan, dan untuk bayinya dia juga baik-baik saja" Ucap dokter.
"A apa? Ba bayi dok? " Kaget Namjoon.
"Benar...apa anda tidak mengetahui istri anda sedang hamil? Usia kandunganya sudah menginjak 2 bulan".
Bagai di sambar petir disiang bolong, Lova sudah tidak tau lagi harus bagaimana mengungkapkan perasaanya.
Yang pasti saat ini dia sangat terkejut, Nesya hamil? Apakah anak yang dikandungnya benar anak Namjoon? Jika benar itu artinya Nesya mengandung anak Namjoon suaminya?
Sungguh dia tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
Sakit jelas sangat sakit, suaminya sudah menghamili wanita lain. Ingin rasanya dia menjerit.
" Usia kandungan yang masih sangat rentan, istri anda tidak boleh mengalami stress dan juga jangan terlalu di tekan, itu beresiko kepada janin yang dikandungnya". Jelas dokter
Namjoon tidak kalah terkejutnya dengan Lova. Nesya hamil anaknya? Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah? Di sisi lain dia sangat bahagia karna itu memang yang selama ini dia harapakan bersama Nesya, mereka selalu memimpikan untuk hidup bersama menikah dan mempunyai seorang anak. Namun disisi lain dia juga sangat bingung bagaimana Nesya hamil sementara dirinya sudah menikah dengan Lova.
" Saya akan membuat resep obat untuk ibu Nesya, mari ikut ke ruangan saya" Dokter mengajak Namjoon untuk pergi ke ruanganya.
Namjoon seketika memandang Lova yang juga sedang memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lova tertunduk karena tidak sanggup melihat tatapan Namjoon.
Dirinya menangis tak kuat menerima kenyataan ini. Lova pergi dari hadapan Namjoon dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Saat Namjoon ingin mengejar Lova Dokter kembali mengajaknya untuk pergi ke ruangan dokter membuat resep untuk Nesya.
Namjoon akhirnya membiarkan Lova pergi dan bergegas ke ruangan dokter.
Lova setengah berlari. Air matanya terus mengalir. Mengapa cobaan terus menghampirinya?
Nesya hamil anak Namjoon. Sungguh dia tidak sanggup untuk membayangkanya. Mengapa tuhan sangat mempermainkan takdirnya.
Mengapa dia harus menikah dengan pria yang tidak mencintainya? bahkan pria itu mempunyai anak dari wanita yang bukan istrinya. Nesya hamil 2 bulan itu artinya sebelum dia menikah Namjoon sudah mempunyai anak dari wanita lain.
Apa yang harus dia lakukan? Pergi atau bertahan?
Sungguh kenyataan ini sangat sulit untuk dia terima.
Sejak awal dia sudah tau bahwa suaminya masih berhubungan dengan kekasihnya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Namun dia tidak menyangkan jika keadaanya akan seperti ini. Mengapa Nesya harus hamil? Jika dia hamil lalu apa yang akan terjadi kepadanya nanti?
Apa Namjoon akan menceraikanya lalu menikahi Nesya demi anak yang tidak berdosa?
Dia tidak boleh egois, dia tentunya sadar siapa dirinya, tentu dia harus mengalah dan merelakan Namjoon bersama Nesya. Terlebih Nesya kini sudah mengandung darah daging Namjoon. Tentu saja Namjoon akan lebih memilih Nesya dan anaknya dibanding dengan dirinya.
Tapi apa harus secepat ini? Dirinya bahkan baru saja ingin memulai merebut hati Namjoon dan membangun rumah tangga yang bahagia dan seutuhnya, Namun spertinya impian itu hanya angan semata.
__ADS_1