
" Jangan .... " lirih Zahid yang melihat gadis itu mulai melangkah .
Gadis itu mendekat padanya hingga mereka nyaris tak berjarak . Mata mereka saling beradu hingga tatapan kebencian itu berubah menjadi tatapan penuh kerinduan . Tak bisa pria itu pungkiri sorot mata teduh itu melumpuhkan egonya dan tubuh di depannya membuat sesuatu berkobar di dalam dirinya .
Perlahan disentuhnya setiap inchi wajah cantik itu dengan menggunakan ujung jarinya . Dan entah siapa yang memulai kedua bibir mereka sudah bertaut , dengan lembut Zahid mencecap dan merasai bibir yang terasa sangat manis untuknya .
Lama kelamaan pria itu terhanyut dalam kobaran naluri laki lakinya , tangan kekarnya mulai meremas lembut pinggang ramping gadis itu hingga terdengar suara lenguhan yang membuatnya semakin berhasrat .
Zahid menggeram tertahan ketika gadis itu mulai membalas ciumannya . Ciuman yang semula lembut itu berubah menjadi ciuman panas dan menuntut . Safa refleks menautkan kedua kakinya di pinggang pria itu ketika merasa tubuhnya diangkat dan di bawa menuju lantai atas .
Masih dengan saling bertaut lidah Zahid membawa tubuh sintal itu dan membawanya ke atas ranjang . Mata pria itu berkabut dengan nafas yang tak beraturan , akal sehatnya tertutup sepenuhnya oleh gejolak jiwa laki lakinya .
Satu persatu tangan Zahid melepaskan kain yang masih tersisa di tubuhnya dan tubuh wanita yang berada dalam kungkungannya hingga kini keduanya sudah sama sama polos sempurna .
"'Euuugghhh .... "
Tubuh sintal itu bergetar ketika bibir Zahid mulai menelusuri setiap lekuk tubuhnya tanpa terkecuali . Satu persatu jejak kepemilikan terukir di kulit putih gadis itu . Satu tangannya bergerak lembut di bawah sana ketika dirinya disibukkan dengan dua mochi dengan ujung merah muda .
__ADS_1
Zahid menggila , sebuah sensasi baru untuknya ketika menikmati sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama ini . Menjadi putra mafia bukan berarti ia dibebaskan untuk menjamah wanita semaunya .
Gaffar selalu menasehati putra putranya untuk menghormati kaum wanita karena mereka terlahir dari rahim seorang wanita . Dulu Abbio pernah melanggar nasehat itu dan sangat menyesalinya . Dan kini sepertinya bungsu Al Shamma tanpa sadar sedang mengikuti jejak kakaknya .
Safa memejamkan matanya ketika merasa ini sudah saatnya . lnilah saatnya dia kehilangan sesuatu yang selama ini amat sangat ia jaga . Tapi yang ia lakukan akan sepadan dengan apa yang diharapkannya .
" Aaakkkhhh ... sakiiittt !! Pelan .... pelaanhhh euugghhh "
Sama seperti gadis dalam kungkungannya Zahid pun tersengal ketika sudah beberapa kali kesulitan menerobos liang yang ia pikir akan mudah untuk ia lewati .
" Kau .... kenapa seperti ini " lirih Zahid yang mulai berkeringat .
Dengan satu sentakan keras akhirnya ia berhasil masuk ke dalamnya . Sentakan keras yang membuat wanita di bawahnya menjerit dan mengalirkan air matanya .
Hangat , nikmat dan perihnya kuku kuku Safa yang menancap di punggungnya menjadi satu kesatuan rasa yang tak tergambarkan . Perlahan tapi pasti ia mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya .
Suara yang awalnya merintih kesakitan menjadi d*saham merdu yang semakin membuatnya bersemangat untuk bergerak lebih cepat . Zahid memacu dirinya untuk meraih kenikmatan dari gejolak yang menguasainya . Semakin cepat dan semakin cepat hingga ....
__ADS_1
" Aaaarrggghhh .... "
Tubuh kekar itu mendekap erat tubuh wanita yang juga sedang bergetar hebat merasakan gulungan rasa yang baru sekali ini ia rasakan . Setelah bisa menata kembali nafasnya , Safa bangkit dan mencoba turun dari ranjang untuk memungut satu persatu baju yang berserak di lantai kamar .
Tak peduli dengan perih yang amat sangat di bagian bawahnya , yang ada di pikirannya hanya segera pergi dari tempat itu . Diraihnya sebuah pulpen dan ditulisnya rangkaian nomor yang merupakan nomor rekeningnya .
" Aku sudah melakukan tugasku , kau bisa mentransfer uang yang kau janjikan . Aku butuh secepatnya "
Sedangkan Zahid masih terpaku menatap noda darah yang ada di atas ranjangnya , pantas saja sangat sulit untuk melakukannya tadi . Wanita di depannya ternyata masih suci !
" Kenapa kau tak bilang ?? Kau masih murni ... aku merusakmu !! " lirih Zahid meremat rambutnya .
Dia menyesal telah mengikuti emosinya , dia tak mengikuti nasehat Daddynya . Tapi nasi telah menjadi bubur ia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya .
" Aku yang memintamu melakukannya . Aku mohon jangan membuat ini menjadi sulit ! Kirim uangnya dan anggap semua ini tidak pernah terjadi . Dan satu lagi , jangan mencoba untuk menemui aku lagi !! Hanya sampai disini ... "
" Tidak , seutuhnya kau sudah menyerahkan dirimu padaku . ltu berarti kau adalah milikku !! "
__ADS_1
" Terserah !! Kau tahu ? Aku membenci diriku sendiri karena melakukan hal serendah ini . Tapi demi Tuhan aku memang membutuhkan uang itu . Aku mohon jangan menyiksaku dengan terus mengingat kesalahanku , biarkan aku pergi ... "