Hurt

Hurt
142


__ADS_3

" Schat ... apa kau lapar ? " tanya Rose pada suaminya , mereka baru saja kembali ke apartemen setelah acara sederhana pernikahannya di mansion Al Shamma .


" Sangat ... tapi aku mandi dulu " jawab Bryan dengan senyum penuh arti .


" Jika begitu aku buat spaghetti saja , agar tidak makan waktu ! Kurasa aku juga sudah gerah sekali "


' Atau mandi bersama saja Lieve ? Sepertinya bisa mempersingkat waktu !! "


" Tidak ... aku tahu arti senyum menyebalkan itu ! Aku tahu ini malam pertama kita , aku ingin melaluinya dengan pelan dan penuh kesan . Kita makan malam.dulu setelah itu kita akan melalui semua malam ini bersama "


Bryan mendekat pada sang istri dan meraih bibir kemerahan itu . Untuk sesaat mereka saling bertukar saliva dan saling menautkan lidah . Tangan Bryan pun sudah menelusup di baju atasan yang di kenakan istrinya .


" Schat ... jika kau tidak mandi sekarang kurasa spaghettinya juga tidak akan pernah matang . Dan itu artinya mungkin malam ini kita habiskan dengan tidur "


" Nyonya Bryan , apa kau sedang mengancamku !? " kata Bryan dengan mencubit sayang hidung istrinya .


" Aku hanya mencoba charging tenaga sebelum tenaga kita terkuras habis malam ini !! "


" lstri pintar ... "


Setelah mengganti bajunya dengan baju rumahan Rose segera membuat makanan untuk dirinya dan suaminya . Dan tepat ketika ia selesai memasak sang suami juga sudah selesai membersihkan dirinya .


Rose sulit menelan salivanya ketika pria itu berjalan ke arahnya dengan hanya menggunakan celana satin hitam tanpa mengenakan atasan . Pahatan di dada dan perut itu dengan sangat jelas bisa ia lihat .


" lni milikmu Lieve .... "


Rose berjingkat kaget ketika dua tangan kekar itu sudah mengambil dua tangannya untuk menyusuri dada dan perut liat itu . Wajah pengantin wanita itu terlihat memerah karena ketahuan telah menatap kagum tubuh suaminya sendiri .


" Sudah Schat ... kau membuatku sangat malu . Kita makan dulu spaghettinya sebelum menjadi dingin dan tidak enak "

__ADS_1


Bryan menurut , ia kemudian duduk dan melihat sang istri mulai melayaninya . Mereka makan dengan kadang diselipi canda di dalamnya . Mereka berbicara tentang pesta pernikahan dan kejadian yang berlangsung di dalamnya .


Dan tak terasa mereka sudah sampai pada suapan terakhirnya . Selesai makan Bryan membantu istrinya membawa piring kotornya ke kitchen sink .


" Schat biar nanti aku yang mencucinya ... "


" Mulai sekarang kita melakukan apapun berdua , kita belajar berbagi Lieve "


Selesai mencuci piring mereka segera naik ke lantai atas menuju kamarnya . Bryan menarik tubuh istrinya ketika Rose ingin berjalan menuju kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah kamarnya .


" Aku ingin mandi Schat ... baju bajuku masih ada di kamar itu "


" Sekarang kamarku adalah kamar kita , tidak usah khawatir karena aku juga sudah siapkan baju untukmu di kamar kita "


Karena tidak ingin berdebat akhirnya Rose menurut saja , ketika masuk di dalam kamar dia sudah tidak mendapati foto gadis remaja itu lagi yang terpasang di atas nakas suaminya .


" Kau mau apa Schat ? Kenapa kau ikut masuk ke kamar mandi !? Kau baru saja mandi ... "


" Ya sudah jika begitu kau duluan saja ... "


Bryan memasang badan ketika sang istri ingin keluar dari kamar mandi . Perlahan ia menggiring sang istri berjalan mendekati bath up .


" Kita berendam bersama Lieve , itu akan lebih hangat dan menyenangkan " bisiknya dengan melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya .


" Sudah kuduga ... "


*


Siang itu setelah pernikahan Bryan dan Rose selesai Abbio mengantar istrinya ke rumah sakit untuk memastikan dan memeriksakan kehamilan istrinya .

__ADS_1


Kebetulan dokter yang mereka datangi adalah dokter yang sama yang menangani Safa . Abbio tak pernah melepaskan rengkuhannya pada pinggang istrinya sejak mereka menginjakkan kaki mereka di rumah sakit .


Dia tidak suka dengan tatapan kagum pria pria yang melihat kecantikan istrinya . Seorang dokter wanita menyambut mereka dengan ramah . Setelah melalui sesi pertanyaan seputar awal awal kehamilan serta kondisi tubuhnya akhirnya dokter meminta Anna untuk berbaring di ranjang yang sudah disediakan .


Abbio mengernyit ketika seorang suster menyingkap baju atasan istrinya tapi ketika suster itu ingin mengoles sesuatu diatas perut rata istrinya ia tak bisa lagi tinggal diam .


" Mau apa kau !!?? "


Sang suster terlihat menghentikan niatnya dan terlihat salah tingkah . Sang dokter yang tampaknya sering mengalami situasi itu dengan tenang menghampiri pasiennya .


" Suster hanya ingin mengolesi perut istri anda dengan lotion untuk mempermudah pemeriksaan nanti Tuan Abbio "


" Hanya mengoles bukan ? Aku masih bisa melakukannya ... " Abbio meminta botol lotion kemudian mengoleskannya ke perut istrinya .


" Kak ... "


" Aku tidak akan mengijinkan orang lain menyentuhmu sayang "


" Sekarang kita mulai pemeriksaannya .. "


Dokter wanita itu menempelkan transducer dan menggerakkannya perlahan . Sesaat matanya mengernyit ketika melihat gambar yang terhubung di layar , tapi kemudian senyumnya melebar .


" Ada apa Dok ? Apa istriku baik baik saja !? " tanya Abbio terlihat khawatir .


" Anda bisa lihat itu ? Ada dua titik hitam yang ada dalam rahim istri anda . ltu artinya akan ada dua bayi yang akan lahir nantinya . Selamat Tuan dan Nyonya Al Shamma "


Abbio dan Anna saling memandang dengan penuh haru . Abbio bahkan menciumi seluruh wajah istrinya di depan dokter dan suster yang masih ada di tempat itu . Firasatnya benar jika mereka akan segera mempunyai dua bayi sekaligus alias kembar .


Dunianya terasa sempurna sekarang , dalam hatinya ia berjanji akan menjadi pria yang lebih baik agar pantas untuk menjadi seorang suami dan ayah bagi anak anaknya kelak .

__ADS_1


~ ***TAMAT ~


Sengaja emak tamatkan kisah ini karena Duo Al Shamma sudah mendapatkan kebahagiaannya masing masing . Tapi akhir ini adalah awal untuk kisah tokoh pendukung lainnya . Di ekstra chapter selanjutnya Duo Al Shamma akan tetap muncul walau porsinya tidak sebesar tokoh pendukung yang akan emak bahas . Terimakasih sudah mendampingi emak belajar sampai saat ini , masih banyak salah sana sini walau emak sudah curahkan pikiran untuk menulis novel ini . Jangan bosan untuk membaca sekaligus mendampingi emak terus belajar menulis ... love you all ❤️❤️❤️😘😘😘😘***


__ADS_2