
Terlihat Lirie sedang menjalani sesi pemotretan. Dia menampilkan senyum manis di depan kamera. Menampilkan gaya sensual dan menampilkan senyum ceria juga.
Baru beberapa bulan dia terjun ke dunia model namun sudah banyak orang yang menyukainya.
Namanya sudah mulai di kenal oleh orang banyak. Dia banyak di sukai karena kecantikanya berbeda dari yang lain. Lirie cantik dengan kesan ramah di wajahnya, dia selalu tersenyum kepada semua orang itu sudah menjadi ciri khasnya.
Terlebih saat ini Nesya yang tak lain kakanya sendiri sedang menjalani cuti. Jadi peran Nesya saat ini digantikan oleh Lirie.
Penampilan Lirie tak luput dari pandangan seorang Park Jimin yang selalu setia mendampingi Lirie. Pandangan kagum akan kecantikan perempuan yang mungkin sudah dia sukai semenjak pertama kali mereka bertemu.
Princess Umbrella julukan yang Jimin berikan untuk Lirie.
Jimin yang berperan penting untuk para artisnya kini semakin sigap dan selalu berada di samping Lirie. Memperhatikan dan mengikuti perkembangan Lirie.
Jika ada hal yang belum Lirie ketahui Jimin akan memberitahu dan mengajarkanya.
Bahkan dalam hal memilih pakaian untuk di jadikan model Jimin juga ikut berperan memilihkanya.
"Apa sudah selesai?"
Tanya Lirie menghampiri Jimin.
"Ya..kau boleh beristrahat. Nanti akan ada sesi pemotretan sekali lagi" Senyum Jimin.
"Baiklah...bagaimana hasilnya? Aku selalu merasa gugup".
" Hasilnya sangat bagus..kau terlihat cantik natural" Senyum Jimin menatap Lirie.
"masalah gugup nanti juga akan hilang sendiri jika kau sudah terbiasa"
Ucap Jimin yang kemudian meraih tangan Lirie.
"Ayok kita makan siang, Taehyung dan juga Suga hyung sudah menunggu kita".
Tak butuh waktu lama mereka sampai di tempat makan khusus untuk para petinggi dan juga artis. Suga dan juga Taehyung sudah lebih dulu berada disana.
" Lihatlah..sepertinya usaha Jimin sangat lancar mendekati adiknya Hobi " Ucap suga yang melihat Jimin dan juga Lirie berjalan menghampiri mereka.
" Heuh...Bahkan mereka terlihat seperti pasangan kekasih" Balas Taehyung yang juga memlihat ke arah Jimin dengan senyum smriknya.
Taehyung hafal betul bagaimana Jimin mendekati wanita yang disukainya.
Jimin akan sangat perhatian dan selalu ingin berada di samping wanitanya.
"Apa sudah pesan makananya? " Tannya Jimin sambil duduk berhadapan dengan Suga sementara Lirie duduk berhadapan dengan Taehyung.
Mereka lalu memesan makanan dan tak butuh waktu lama pesanan mereka datang.
Terlihat mereka makan dengan santai. Sesekali Lirie melihat ke arah Taehyung. Rahang tegasnya, sikap dinginnya sungguh Lirie dibuat penasaran mengapa ada pria sedingin Teahyung. Selama ini pria yang melihatnya pasti akan menyukai dan menggodanya. Tapi tidak dengan Taehyung. Dia satu-satu nya pria yang bersikap dingin kepadanya.
Berbanding terbalik dengan Jimin yang selalu bersikap manis, lembut dan perhatian.
Jimin memberikan sepotong sayur di hidangan Lirie.
"Taerimaksih " Ucap Lirie tersenyum. Begitupun dengan Jimin.
Taehyung yang melihat tingkah keduanya hanya berdehem. Dia tau betul bagaimana Jimin.
Jimin kembali memberikan sepotong daging untuk Lirie. Danging yang sangat empuk dan terlihat lezat. Namun Lirie menolaknya karena Lirie tidak suka makan daging.
" Kau tidak suka daging?" Tanya Jimin heran.
Dia baru mengetahui makanan yang tidak disukai Lirie.
" Ya..sejak kecil aku tidak suka makan daging" .
"Wahh... Ko bisa sama...bukanya Suga hyung juga tidak suka makan daging?"
Tungkas Jimin melihat ke arah Suga.
" Benar. Apalagi daging yang dimasak basah"
Lirie menimpali kembali. Dirinya juga sama tidak suka makan daging apalagi daging yang teksturnya basah. Rasanya sangat aneh.
Dari pembahasan daging pembicaraan mereka meluas kemana-mana.
Dan dari obrolan itu bisa di simpulkan banyak persamaan antara Suga dan juga Lirie.
Dari mulai selera makan yang Sama-sama tidak suka makan daging, jenis makanan laut, dan makanan pedas.
Lalu dalam segi yang lain, Lirie maupun Suga paling tidak menyukai menunggu atau ditunggu. Tidak suka berhutang budi dan merasa tidak enakan.
"Wahh jangan-jangan kita berjodoh? ". Ucap suga melihat Jimin.
" hyunggg ..." Rengek Jimin.
Merekapun terkekeh.
"Oh ia rie... Bagaimana dengan kakamu ? Apa dia baik-baik saja? " Tanya suga yang terlihat cukup khawatir.
Lirie sebenarnya cukup bingung menjawab pertanyaan Suga. Kakanya sedang hamil dan tinggal bersama dengan kekasihnya. Bahkan Lirie pun tidak tau kabar Nesya saat ini. Apakah dia baik-baik saja atau bagaimana Lirie tidak mengetahuinya.
" Emmm ka Nesya akhir-akhir ini masih sering sakit.. Entah mengapa tubuhnya selalu terlihat lemah. Dia butuh istrhat yang cukup". Jawab Lirie.
" Aku belum sempat berkunjung ke apartemenya"
" Euuhh..sebenarnya ka Nesya tinggal di rumah kami yang dulu Oppa.. Dia tidak berada di apartemenya". Ucap Lirie tersenyum gugup.
" Ohh..baiklah semoga kaka mu bisa cepat kembali bekerja. "
" Tapi untung nya kau ada.. Jadi kami tidak terlalu kesulitan mencari pengganti Nesya" Ucap Taehyung.
***
" Kau sudah bangun?" Tanya Seokjin melihat Laras yang baru keluar dari kamarnya.
"Hmmm" Laras menjawab seadanya.
Dia berjalan menuruni tangga tanpa menoleh kepada Jin.
" Apa kau ingin memasak?" Tanya Seokjin menghentikan langkah Laras yang kini menoleh ke arahnya. Laras menjawab dengan anggukan.
" Kau tidak harus masak. Hari ini kita makan diluar. Aku ingin mengajakmu ngedate".
"Selama ini kita kan belum pernah kencan berdua. Bagaimana?"
Ya..kebtulan hari ini hari minggu dan Seokjin tidak pergi ke kantor.
Laras menatap Seokjin. Entah mengapa semenjak kejadian beberapa malam lalu saat Seokjin mencium dan menyatakan perasaan cinta kepadanya Laras merasa hatinya tak karuan.
Ada perasaan aneh yang sulit di ungkapkan bahkan sulit di mengerti.
Perasaan senang , sedih, kasihan, kecewa, bahkan marah.
Senang karna Seokjin mencintainya.
Sedih karena dia belum bisa membalas perasaan Seokjin.
__ADS_1
Kasihan karena Dia masih menyimpan perasaan untuk Taehyung.
Kecewa karena Seokjin tidak menolak lamaranya. Jika seandainya Seokjin menolak keras mungkin dirinya tidak terjebak seperti ini.
Marah karena takdir seolah mempermainkanya. Mengapa dia harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya sejak awal?
Saat ini dia merasa bingung harus bersikap seperti apa? Laras sangat benci situasi semacam ini.
Fikiranya selalu berkata dia harus mencoba dan pasti bisa mencintai Seokjin. Hanya perlu menerima dan menjalani. Cinta akan tumbuh karena sering bersama.
Namun Hati..dia selalu berkata untuk tidak dulu karena Taehyung masih sang pemilik hati sampai saat ini.
Entahlah Laras sangat pusing. Setiap hari dia harus bergelut dengan dirinya sendiri.
Walau terkadang saat dia merasa bingung akan hati dan fikiranya melihat Seokjin tersenyum dan perhatian kepadanya seolah bisa menenangkanya.
" Baiklah" Senyum Laras.
Laras kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Begitupun denngan Seokjin.
Kini Seokjin dan juga Laras telah sampai di sebuah tempat pariwisata.
Jin membawa Laras ke sebuah taman yang terkenal akan keindahanya. Tempat paling romantis yang ada di Korea.
Hamparan rumput yang hijau bak sebuah karpet dan juga deretan pohon sakura menjadi tempat yang sangat nyaman untuk duduk berdua di atas hamparan rumput.
Banyak pasangan kekasih yang pergi ke taman itu untuk mengukir kenangan indah bersama kekasihnya.
Jin terlihat tampan dan lebih santai dengan gaya casualnya. Pakaian yang membuat Jin terlihat seperti seorang remaja berumur 20 tahunan.
Laras cukup kagum melihat penampilan suaminya saat ini. Tidak dipungkiri Laras sangat menyukai gaya dan styles Seokjin seperti ini. Terlihat fresh dan tidak terlalu serius . Sangat berbeda saat Jin memakai setelan kantor.
Begitupun dengan Laras. Dia memakaian pakaian santai sangat cantik dan juga cocok ia kenakan. Dia terlihat seperti gadis 17 tahunan yang sedang berkencan dengan pria 20 tahunan.
Mereka terlihat sangat serasi dan menarik perhatian banyak orang.
Jin sengaja memakai pakaian santai supaya tidak banyak orang mengenali dirinya sebagai CEO di perusahaan terkenal milik keluarga Kim.
" Kita sudah sampai. Ayok!" Ucap Seokjin yang kemudian mengandeng tangan Laras.
Jin membawa Laras berjalan menuju tempat yang sudah di siapkan.
Jin menyewa satu tempat khusus hanya untuk mereka berdua. Tidak ada orang lain.
Laras berjalan mengikuti Seokjin.
Sejak menginjakan kaki di tempat ini Laras sudah mengagumi akan keindahan pemandangan di sekitarnya.
Hamparan rumput hijau, bunga-bunga cantik dan deretan pohon sakura yang sedang bermekar. Sungguh Laras sangat menyukainya.
"Eohh... Indah sekali?" Ucap Laras kagum.
"Kau menyukainya? " Tanya Jin yang menghentikan langkahnya hanya untuk melihat ekspresi wajah Laras.
Laras mengangguk.
" Disana masih ada tempat yg lebih indah lagi. "
Seokjin kembali mengiring Laras yang masih takjub akan keindahan sekitar.
Laras memang sangat menyukai tempat terbuka seperti taman dan tempat yang masih alami. Rumput yang hijau-hijau menjadi tempat favoritenya.
Laras cukup senang dan menikamti nya.
Saat berjalan Laras melihat tangan Jin yang sedari tadi menggengamnya. Sesekali melihat ke arah Jin yang sedang fokus berjalan menuntunya.
Langkah Jin terhenti. Untuk yang kesekian kalinya Laras kembali di buat takjub.
Serta di suguhkan dengan pemandangan danau yang sangat indah tepat berada di sebrang tikar yang akan menjadi tempat singgah mereka. Bunga-bunga berderetan seolah menjadi pelengkap keindanya.
Sangat menakjubkan dan menenangkan hati.
...
...
Seokjin sudah menyiapkan semuanya. Laras mengerti Jin mengajaknya ke taman untuk piknik tikar. Laras sangat terharu. Dia sangat menyukainya. Bagaimana Jin bisa tau apa yang dia sukai?
Jin mempersilahkan Laras untuk duduk.
Kini mereka tengah duduk di atas tikar. Saling berhadapan.
Ada perasaan canggung diantara keduanya.
Ini adalah kencan pertama bagi mereka.
" Kapan kau mempersiapkanya?" Tanya Laras mencoba membuka suara.
" Aku meyuruh asiaten " Jawab Jin engteng.
" Apa kau menyukainya? "
" Ya..aku sangat menyukainya. Disini sangat indah dan menakjubkan " Jujur Laras.
" Tapi di mataku kau jauh lebih indah dibanding apapun" Sanjung Jin. Laras menatap Jin.
" Kau pasti berbicara hal yang sama pada wanitamu dulu" Ketus Laras karna menganggap Jin hanya membual.
" Tidak! Aku hanya mengatakanya padamu".
Mereka terdiam. Laras sempat kefikiran bangaimana kehidupan percintaan Jin sebelum mereka menikah.
Untuk menghangatkan suasana Jin menuangkan minum untuk Laras.
Dan menyuruh Laras untuk makan.
Laras menurutinya. Merekapun makan dengan tenang. Meski ada sedikit perasaan canggung.
" Emmmm..apa kau dulu pernah sangat mencintai seseorang? "
Pertanyaan Laras yang membuat Jin kaget dan menghentikan aktifitas makanya.
Jin melihat Laras seolah tak mengerti.
" Ma..maksudku.apa kau sangat mencintai mantan mu Oppa?" . Tanya Laras gugup.
Mengapa juga Laras menanyakan hal seperti itu. Bodoh Laras mengutuk dirinya.
Jin tersenyum.
" Ya..dulu aku pernah sangat mencintai seorang gadis kacil. Dia cinta pertamaku" Ucap Jin santai sembari melanjutkan makanya.
Laras terdiam. Gadis kecil? Maksudnya Jin mencintai anak kecil?
" Kau mencintai anak kecil? "
" Haha..maksudku saat aku masih kecil aku mencintai gadis itu. Sangat mencintainya"
__ADS_1
Laras mengangguk mengerti. Untuk pertama kalinya Laras berani menanyakan hal pribadi kepada suaminya. Etah mengapa Laras ingin tau bagaimana kehidupan suaminya.
"Lalu kau masih mencintainya sampai sekarang? Dimana gadis itu? " Laras semakin penasaran.
" emmmm...." jin berfikir.
" Jika kau bertemu dengan gadis itu apa yg akan kau lakukan" Pertanyaan Laras semakin beruntun dan itu membuat Jin senang dan serasa ingin menggodanya.
" Entahlah..." Jawab Jin singkat sambil melihat ekpresi Laras. Jin sengaja membuat Laras penasaran.
Laras cemberut. Wajah kecutnya kembali nampak. Dia melanjutkan makanya. Dia cukup penasaran siapa wanita yang pernah dicintai oleh Jin.
Tiba-tiba Laras panik karena ada sesuatu masuk kedalam matanya. Laras merasa perih dan menggisik-gisikan matanya.
Jin yang melihatnya pun ikut panik.
" Kenapa? " Tanya Jin dan langsung menghapri Laras.
" Aku kelilipan. Mataku perih" Ucap Laras masih bergisik. Dari sebelah matanya mengeluarkan air mata yang sontak membuat Jin khawatir.
Jin dengan sigap meraih wajah Laras dan meniup mata Laras.
Jarak diantara keduanya sangat dekat. Jin dengan lembut dan penuh kehati-hatian meniup-niup mata Laras supaya debu atau seuatu yang masuk akan keluar.
Mata Laras tak berkedip. Dia menatap wajah Seokjin yang sangat dekat tepat di hadapan wajahnya. Bibir Seokjin yang sedang meniup lembut matanya terlihat sangat jelas.
Mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan. Terlintas di benaknya saat Jin menciumnya. Bibir merah indah milik Jin pernah menyentuh bibirmya.
Laras tersipu mengingatnya.
" Apa sudah mendingan?" Tanya Jin masih panik. Laras mengedip-ngedipkan matanya.
" Sudah sdikit membaik. Terimaksih" Ucap Laras.
Jin tersenyum dan tiba-tiba berbaring dengan memposisikan kepalanya tidur di atas paha Laras yang terduduk anggun.
Laras terkejut sempat ingin beranjak namun Jin menahanya. Jin memejamkan matanya. Menikmati keheningan dan suasana di sekitarnya. Sangat tenang dan damai.
Laras menatap wajah Jin yang terpejam.
Wajah damai yang memberikan ketenangan.
Laras menikmati moment ini. Dia sesekali memandang ke arah danau yang tenang.
Dia pun kembali melihat wajah Jin.
Wajah yang sangat mirip dengan seseorang.
Bayangan Taehyung kembali terlintas dalam fikiranya. Apalagi saat melihat Jin yang kini terpejam. Laras kembali bergelut dengan hatinya. Dia menetralisir hatinya.
"Oh ia... disana ada juga pohon strawberry. Mau memetiknya? " Tanya Jin membuka mata dan menatap Laras.
Ya memang di tempat ini sangat lengkap.
Selain taman ada juga sebuah kebun buah-buahan seperti strawbery , apel, dan juga anggur.
Karena Laras sangat menyukai buah strawberry maka Jin mengajaknya memetik buah tersebut.
Laras sangat antusias. Dia langsung menampilkan wajah ceria. Jin beranjak dan membawa Laras ke tempat pemetikan strawberry. Laras sudah bersiap dengan keranjangnya. Sebelumnya Jim memakaikan Topi cantik kepada Laras.
Dia sangat bersemangat memetik buah kesukaanya. Satu persatu di jajahnya.
" Wahh...luar biasa..buahnya besar-besar sekali" Laras terus fokus memetik buah. Mencari yang berkukuran besar dan warna merah. Hampir semua deretan di hampirinya.
Jin hanya memprhatikan istrinya. Mengikuti Laras dari belakang.
Dia sangat bahagia melihat Laras tertawa bahagia.
"Keranjangnya sudah penuh?"
" Ya...ini luar biasa..lihat aku memetik buah yang besar-besar. Ini pasti sangat manis" Laras mengambil satu buah yang paling besar dan paling bagus.
" Aku ingin mencobanya" Goda Jin dengan wajah melasnya.
" Tidak..ini punya ku .. Kalau kau mau kau petik sendiri" Ketus Laras.
" Masa suamimu gak boleh mencobanya? Jahat sekali istriku" Jin memanyunkan bibirnya membuat Laras gemas. Dan tersenyum tidak percaya. Suaminya kumat.
Jin kembali bertingkah seperti anak kecil.
" Baiklah...kau boleh mencobanya ...aaaaaa" Laras menyuapi Jin. Jin tersenyum sembari memakanya.
Kini mereka kembali duduk di tikar yang menjadi tempatnya tadi. Memakan strawberry hasil memetik Laras. Mereka makan bersama dan sesekali saling menyuapi. Cukup lama mereka menghabiskan waktu Memakan buah bersama.
" Sekarang mau apa lagi? " Tanya Jin yang melihat Laras yang sedang menghabiskan buah terakhir.
" Emmmm...ice cream..aku ingin makan ice cream"
" Ice cream?"
Tak butuh waktu lama Jin menyuruh staff untuk membawakan ice cream kesukaan Laras. Ice cream cornetto rasa coklat untuk Laras dan cornetto rasa vanilla untuk Jin.
Jin sangat mengerti dan memahami apa yang Laras sukai.
Kini Laras dan Jin berjalan perlahan menyusuri jalan diantara deretan pohon sakura yang bermekaran sembari memakan Ice cream.
Keduanya saling terdiam hanya berfokus dengan fikiran masing-masing.
Laras dengan perasaan campur aduknya dan Jin dengan perasaan bahaginya. Dia bahagia setidaknya hari ini dia bisa memberikan moment untuk Laras dan juga bisa membuat Laras tersenyum.
Dia sangat berusaha untuk merebut hati Laras.
" Emmm punya ku gak manis" Ucap Jin membuka kesunyian.
" Mau mencoba punya ku? " Tawar Laras sembari reflesk menyodorkan ice cream nya.
Jin mendekatkan wajahnya seolah ingin memakan ice cream. Namun tanpa di duga Jin melewati ice cream yang ada di hadapanya.
Wajahnya justru semakin mendekati wajah Laras. Menatap bibir Laras. Semakin dekat.
Dan dengan lembut Jin mencium bibir Laras. ******* ice cream yang belepotan di bibir Laras.
Laras terkejut namun juga terdiam. Dia tidak percaya Jin kembali menciumnya.
Laras mematung. Jantungnya kembali bergetar.
" Aku ingin mencobanya langsung dari bibirmu" Goda Jin. Laras masih mematung . Dia dibuat beku oleh perlakuan Jin.
Jin tersenyum.
Lalu kemudian meraih pinggang Laras mendekapnya. Jin memiringkan wajahnya dan kembali mencium bibir Laras dengan lembut.
Ciuman hangat yang Jin berikan untuk Laras.
Laras memejamkan matanya. Dia menikmati setiap sentuhan bibir Jin. Dan dengan ragu tangan Laras perlahan mendekap pinggang Jin. Dia membalas ciuman hangat dari suaminya. Angin berhembus semakin memperdalam ciuman mereka.
(🎼 Kiss Me - Sixpence none the richer 🌹🌹🌸🌸🌸)
__ADS_1
Lama saling berpagautan kini Jin melepaskan ciumanya.
" Terimaksih untuk hari ini.. Terimaksih atas senyuman Yang kau berikan hari ini" Ucap Jin memeluk Laras.