Hurt

Hurt
3


__ADS_3

*diruang kepala sekolah*



"selamat pagi pak. apa bapak memanggil saya?" tanya Kania sopan.



"oh, ya. silahkan duduk nona Kania" sapa pak kepala sekolah ramah.



"terimakasih pak Danu"



"em, begini nona Kania. saya hanya ingin memastikan apa kelas anda nyaman?" tanya pak Danu sopan.



"loh kenapa bapak seperti ini pada siswi? bapak itu kepala sekolah loh. kenapa harus sopan pada bocah seperti ini?" tanya Nyonya Sarah amggota direksi sekolah yang kebetulan ada di ruangan yang sama dengan Kania.



"oh, tentu saja saya sangat nyaman pak Danu. dan apa yang dikatakan nyonya Sarah benar, saya hanya siswa biasa dari kelas rendah" kata Kania sopan namun memberi tekanan pada akhir kalimatnya seolah mengirim kode.



"ck, tentu saja nyaman. bagi siswa seperti mu sudah lebih dari cukup yang sekolah ini berikan. lagi pula sekolah elite seperti ini mana bisa kau membayar uang sekolahnya hm? bersyukur saja" lagi-lagi nyonya sarah mengatai Kania. namun bukan Kania namanya jika tak bisa sabar menghadapi wanita sombong di depannya ini.



"tentu saja nyonya, orang tua saya mengajari saya bersyukur dengan baik" balas Kania sengit dengan senyum manisnya.



"jadi kau ingin bilang saya tidak bisa mengajari anak saya hah?" bentak nyonya sarah marah.



"nyonya sarah! cukup! nona Kania, saya minta maaf. tapi jika anda ada masalah silahkan datang ke kantor saya saja" kata pak Danu berusaha menengahi nyonya sarah dan Kania.



"baiklah, saya tak berjanji. tapi jika sudah keterlaluan, saya minta maaf sebelumnya"



"ck.. apa kau sedang mengancam kepala sekolah?" tanya nyonya sarah namun diabaikan.



"baik nona Kania, saya sebagai kepala sekolah akan berusaha" kata kepala sekolah menatap Kania.



"hah... tentu saja dia akan terus mendapat masalah. kita lihat saja nanti, saya yakin kamu akan keluar dari sekolah ini" ancam nyonya sarah terang terangan.



"baik, saya tunggu surat keputusan anda. kalau begitu saya pamit pak danu"



"ah ya nona"



Kania keluar ruangan kepala sekolah dengan menghembuskan nafas berat ia tampak berfikir keras dengan otak cantiknya sambil berjalan pelan meninggalkan ruangan kepala sekolah.



'apa aku benar-benar diancam?'


__ADS_1


'astaga, kenapa bisa seperti ini, aku tak habis pikir jika ada anggota direksi sekolah seperti ini'



keluh Kania dalam hati.



"bagaimana bisa mereka mengancam seorang Kania Camelia?" sebuah suara membuyarkan lamunan Kania.



"jeno! kenapa kamu disini sih?" kata kania melihat jeno sudah di sampingnya



"memangnya tidak boleh?" jeno balik bertanya



"ah sudahlah"



mereka jalan berdampingan



"lalu bagaimana?"



"apa sih?"



"mau gak jadi pacar aku?"




"ya kali aku nembak cewek bar bar?"



"what???"



"ya aku nanya pembicaraan kamu tadilah bego" jeno mulai kesal dengan Kania



"yah, seperti yang kamu dengar tadi"



"aku tak mendengar apa pun"



"jangan bohong" Kania menonjok kepala Jeno



"tangan kecil tapi tenaganya besar" gerutu Jeno



"apa katamu??" Kania melotot mendengar ocehan Jeno.



"tidak.. ah kamu masih anak SMA tapi telinga mu sudah lansia duluan"

__ADS_1



"hah? lansia?? mau mati ya?" Kania sudah siap akan membuat tubuh jeno membiru, tapi mereka melihat sosok yang paling ditakuti satu sekolah. bahkan kepala sekolah pun takluk padanya.



"hey itu pa......" belum selesai Jeno bicara, Kania sudah membekap mulut jeno dengan telapak tangannya.



"selamat lagi pak Henry" sapa Kania sopan sambil membungkuk memberi hormat.



melihat Jeno yang masih menatapnya heran, Kania langsung menyubit lengan pria itu untuk mengikuti apa yang ia lakukan.



"ah, selamat pagi pak" jeno membaca situasi dengan cepat.



"apakah wajar jika siswa dan siswi berkeliaran saat jam pelajaran akan dimulai?" tanya lak Henry selaku pemilik sekolah dengan nada penuh wibawa yang tentu saja membuat Kania dan Jeno gemetar.



"maaf pak Henry, saya yang memanggil mereka" pak Danu keluar dan menyambut pak Henry. ia berkata demikian karena ia tahu betul tabiat Pak Henry.



"anda harus tegas pada siswa dan siswi manapun. tanpa terkecuali" kata Pak Henry lenuh penekanan.



"baik, akan saya laksanakan. mari ke kantor saya. kalian masuklah ke kelas" kata pak danu pada kania dan jeno.



Kania melangkah secepat mungkin, ia ingin segara menghilang.



"kenapa kamu ketakutan?" tanya Jeno saat mereka sudah berada di kelas.



"kau gila? kau ingin kita di hajar hah? ah kamu tidak, pasti hanya aku" keluh Kania.



"aku tak yakin kau akan dihajar"



"habislah sudah hari pertama ku. bagaimana jika ibuku tahu?" keluh Kania.



"kamu kan anak emas, kamu tak mungkin diapa-apakan ibumu" hibur Jeno.



"kalian cocok sekali cewek bar bar dan cowok ngegas" ledek Ando melihat kedekatan Jeno dan kania.



mereka berdua hanya saling tatap dan tertawa kecil menanggapi ando.



"cih. menyebalkan" gerutu ando kembali ke tempat duduknya.



tak ada yang tahu identitas mereka, hampir semua siswa memandang mereka sebagai murid kelas rendah yang masuk sekolah elite karena bantuan beasiswa. penampilan yang sangat sederhana, tak ada barang bermerk, dan mereka pun pergi dan pulang sekolah menggunakan bus atau berjalan kaki, tak seperti yang lain di antar dan jemput oleh supir pribadi. itulah mengapa semua siswa dan siswi bahkan dewan direksi sekolah merendahkan mereka berdua hanya dengan melihat tampilan Jeno dan Kania.

__ADS_1


__ADS_2