Hurt

Hurt
Hurt 22


__ADS_3

...


...


Laras sedang berada di kamar suaminya. Menunggu Seokjin yang masih ngobrol di luar dengan ayah mertuanya.


Namun Laras merasakan hal aneh dalam dirinya.


Mangapa tubuhnya terasa panas, dia merasa gelisah..dan ada sedikit rasa sakit dan juga pusing. Dia berharap Jin segera masuk ke dalam kamarnya.


Tak lama Jin masuk namun kaget karena Laras hanya mengenakan tantop saja. Jin tersenyum jail.


" Sayang apa kau sedang menggodaku?" Tanya Jin menghampiri Laras.


Laras mengipas-ngipas badanya. Dia terlihat gelisah. Wajahnya memerah.


"Ada apa? "


" Aku kepanasan... Mengapa AC nya tidak dihidupkan?"  Tanya Laras sembari mengipas-ngipaskan bajubya.


Jin heran..karena Ac nya hidup dan dia sama sekali tidak merasakan panas.


Untuk memastikan Jin mengecek AC nya.


" Sudah hidup ko AC nya, udah aku tmbahin malah"


" Tapi kenapa tidak terasa...ahh aku tidak kuat..mengapa panas sekali?" Jin panik dia memegang kening Laras namun suhu tubuhnya normal tidak terasa panas sama sekali.  Jin melihat ekpresi wajah Laras yang seperti nahan sesuatu.


" Apa kau memakan atau meminum sesuatu tadi? " Tanya Jin.


" Aku minum ramuan..eoma tadi memberikanya padaku...katanya supaya tidurku nyenyak" Ucap Laras terbata-bata..


Jin mendecak. Jin mengetahui pasti ibunya memasukan sesuatu ke dalam minuman Laras.


Obat perangsang. Jin mencurigai Eomanya memasukan obat itu dilihat dari reaksi Laras saat ini. Dan Karena keinginan punya cucu eomanya melakukan hal itu.


Jin ikut panik karena efek obat itu Laras pasti  akan menderita dan cukup tersiksa. Dia juga pasti tidak bisa menahanya.


"Oppa..tolong aku" Rengek Laras memegang tangan Jin sembari menatap sayu dengan penuh nafsu.


" Aku ingin membuka bajuku..aku kepanasan" Laras ingin membuka bajunya. Namun Jin menahanya.


"Jangan buka bajumu,bertahanlah, kau pasti bisa melewatinya" Ucap Jin memeluk Laras.


Berada dalam pelukan Jin Laras cukup merasa nyaman. Rasanya dia menginginkan yang lebih.


Mengapa rasanya ingin sekali Jin menyentuhnya, menciumnya dan melakukan sesuatu padanya. Laras saat ini menginginkan sentuhan suaminya. Mungkin karena efek obat itu. Laras terus mencium dan mengendus Leher Jin.


Sungguh saat ini Jin yang tak bisa menahanya.


Dia terangsang oleh sentuhan bibir laras di lehernya.


Jin menelan slavinanya. Mencoba tenang.

__ADS_1


Hal yang sangat normal jika dia menginginkanya.


Kini istrinya sudah didalam pelukan dengan hanya mengenakan tantop dan celana pendek saja.


Tidak normal jika Jin tidak terangsang olehnya.


Dia bisa saja langsung menerkam Laras namun dia berfikir takut nanti Laras menyesalinya.


Dia ingin melakukanya suka sama suka. Tidak atas keterpaksaan atau karena suatu keadaan.


Selama ini memang Laras belum melakukan kewajibanya sebagai seorang istri. Jin mengerti dan dia akan menunggu sampai Laras yang memintanya. Jin masih sangat tahu hati Laras belum sepenuhnya untuknya.


Laras terus mengendus lehernya semabil sesekali sedikit mengluarkan lenguhan.


Tubuhnya semakin menegang dan wajahnya sangat memerah. Fikirinyapun melayang.


"Sakitt...ku mohon tolong aku..." Mohon Laras sembari hampir menangis.


Jin tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Jin harus melakukan sesuatu.


Dengan sigap Jin membalikan posisi tubuhnya memposiskan badanya berada di atas tubuh Laras .saat ini dia menindih tubuh Laras. Jin menatap mata Laras sendu. Laras membalas tatapnya yang seolah memohon.


"Hanya ini yang bisa menolongmu sayang" Ucap Jin sembari mencium lembut bibir Laras.


Laras langsung menerima ciuman hangat dari Jin karena memang saat ini dia sangat menginginkan dan membutuhkanya.


Lama Jin mencium bibir Laras memainkan lidahnya, mengabsen setiap inci rongga mulut Laras.


Jin menurunkan ciumnya dari bibir Laras perlahan beralih menciumi leher laras secara perlahan. Dia terus menciumi leher Laras sampai Laras memejamkan matanya dan mengeluarkan sedikit *******.


Jin melihat Laras yang masih memejamkan matanya sembari menikmati sentuhanya.


Jin terbawa suasana dan perlahan ciumanya pun berganti. Kini ciumanya beralih pada dada Laras.


Tanganya mulai meremas kedua gunung kembar milik istrinya. Tidak ada penolakan dari Laras malah kini terlihat Laras juga mengiingkanya bahkan berharap lebih.


Jin tidak bisa menahanya. Dia pun perlahan menurunkan kain yang menutupi gundukan itu. Lalu kemudian membuka keseluruhan tantop Laras. Laras bertelanjang dada.


Kini terpampang jelas di depan matanya. Jin mengagumi keindahan milik istrinya itu.


Dia lalu mencium dan menghisap benda kenyal itu. Laras dengan spontan memegang rambut Jin yang kini sedang menghisap dadanya. Mengelus rambut Jin dan mengeluarkan *******.


"Seokjin'ahh..." Ucap Laras lembut sembari mendesah dengan penuh nafsu. Jin terkesima Laras memanggil namanya.


" Keluarkan sayang..."  Ucap Jin sembari langsung mencium kembali bibir laras dengan penuh nafsu..semakin panas dan panas..


Jin menggerayangi leher Laras dari atas sampai bawah.. Dari bibir.. Beralih ke leher, lalu beralih pada dada dan terakhir beralih di perut rata Laras. Laras terus mendesah menikamti setiap sentuhan seuaminya.


Entah sadar atau tidak yang pasti Laras sangat menikmatinya.


Jin terus melakukanya samapi Laras mencapai pelepasan. Laras terengah-engah, dia mengatur nafasnya. Jin yang melihat Laras sudah terlepas dari bebanya merasakan lega.


Sungguh dia yang tidak bisa menahanya, hampir saja dia kelepasan. Dia pergi ke kamar mandi untuk menenangkan perasaan yang bergejolak.

__ADS_1


Laras merasa kan malu melihat dirinya sudah bertelanjang dada, dia langsung memakai kembali pakaianya. Dia sangat malu..bagaimana ini? Apa yang harus dia katakan kepada Seokjin.


Jin keluar dari kamar mandi dan melihat Laras sedang menatapnya. Dia menghampiri Laras.


" Apa sudah mendingan?" Tanya Jin sembari berbaring di samping Laras.


Laras sangat malu..


"Ya... Terimaksih " Ucap Laras canggung.


" Hmmmm....tdurlah..." Jin menyuruh Laras tidur dia mengelus kepala Laras. Dan dia pun memejamkan matanya.


Jin sebetulnya belum bisa menetralkan perasaanya. Namun dia tetap bersikap tenang.


Laras melihat Jin yang sudah tertidur.


Ada perasaan campur aduk dalam dirinya.


Membayangkan yang barusan dilakukan dirinya bersama Jin. Wajahnya merona.


Laras merasa salut dengan Jin dia bisa menahan diri dan tidak mengambil kesempatan dalam keadaan seperti ini. 


Lama dia membayangkan dan memikirkan sampai diapun terlelap dalam tidurnya.


Namun setelah Laras terlelap Jin membuka matanya. Dia kembali melihat Laras yang sudah tertidur di lihatnya tubuh Laras. Tubuh yang sempat menggodanya. Hampir saja dia memperkosa istrinya.


Pagi pun tiba..Jin keluar dari kamar dan mengjampiri Nyonya Kim yang sedang berada di dapur.


" Eoma.." Sapa Jin.


Nyonya Kim langsung tersenyum dan memperhatikan putranya dari atas sampai bawah.


" Apa yang eoma lakukan pada Laras? Mengapa Eoma memberikan obat perangsang untuknya?" Ucap Jin mengintrogasi Nyonya Kim.


Nyonya Kim hanya tersennyum dan penasaran.


" Bagaimna? Apa obatnya berhasil?" Tanya Nyonya Kim antusias.


"Tidak eoma...Jin tidak melakukanya. Jin tidak ingin Laras membenci Jin eoma, dia belum mencintai Jin.. Jin hanya mau melaiukanya dengan cinta" Ucap Jin.


Nyonya Kim sedikit kecewa.


" Ma maafkan Eoma...eoma terlalu ambisius.. Eoma dan appa mu ingin segera menimbang cucu" Ucap nyonya kim sedih.


" Aku mengerti eoma..tolong bersabarlah, aku sedang berusaha merebut hati Laras. Aku ingin dia mencintai Jin. " Eoma mengelus putranya.


" Baiklah eoma mengerti. Eoma doakan mudah2han secepatnya hati Laras luluh padamu sayang".


"Ya eoma..dan aku ingin Eoma meminta maaf sama Laras" Pinta Jin.


"Baik .eoma nanti akan menenmui Laras" Senyum nyonya Kim.


Tanpa Jin sadari Laras ternyata mendengar percakapan suami dan mertuanya itu.

__ADS_1


Nyonya Kimpun datang menemui Laras dan meminta maat kepadanya. Laras mengerti dan sudah memaafkan mertuanya.


__ADS_2