
"nona Mira, dari kelas junior kelas atas"
"ya benar"jawab Mira angkuh
entah apa yang dipikirkan Mira hingga ia pergi menemui kepala sekolah dan meminta untuk mempertemukannya dengan pemilik sekolah.
"ada apa anda ingin menemui pemilik sekolah?" kata kepala sekolah sambil memijat keningnya, ia terlihat lelah dengan siswi satu ini.
"ada yang ingin saya sampaikan"
"anda bisa mendiskusikan dengan wali kelas anda terlebih dahulu jika anda punya masalah" kata pak kepala sekolah memberi solusi.
"wali kelas? cih, tak ada guru yang bekerja dengan benar" kata nya dengan nada merendahkan.
"Miranda Putri! jaga ucapan anda. Bukankah anda berasal dari kelas atas? beginikah anda berbahasa?" bentak kepala sekolah.
"ck, aku membuang waktu datang kemari berbicara pada kepala sekolah yang punya pemikiran seperti para guru lainnya. apakah anda yakin bisa menyelesaikan masalah ini?" tanya Mira ketus
"ikuti prosedur sekolah ini"
"cih, apa gunanya mengikuti prosedur jika tak ada yang bisa menyelesaikan masalah"
"ya bagaimana kami pihak sekolah menyelesaikan masalah dan pembuat masalahnya? apa anda punya masukan?"
"keluarkan saja" jawab mira enteng.
__ADS_1
"baiklah, kamu akan kami keluarkan besok"
"apa anda bercanda? pembuat masalah si anak baru kelas rendahan itu, kenapa aku?"
"bicaralah yang sopan jika kamu menganggap dia dari kelas rendah. lihat, cara nya bicara seperti kalangan atas bukan seperti anda"
"wah inilah mengapa aku harus bertemu dengan pemilik sekolah"
"beliau tak punya waktu, kembali ke kelas" usir pak kepala sekolah.
"baik, aku akan menemuinya sendiri tanpa perantara anda" kata Mira sambil berjalan pergi. dia terlihat kesal .
mengingat kejadian saat jessica dan kania menyerangnya dengan kata-kata yang dia anggap kejam, membuat mira semakin kesal.
"dasar anak itu, apa dia tak tahu dengan siapa dia berhadapan? dia ingin ibunya diblack list dari anggota komite sekolah. dasar anak pembangkang ini" omel kepala sekolah di dalam ruangannya saat mira sudah tak lagi disana.
"kamu dapat peringkat lagi?" kata pemilik sekolah, Pak Richard saat memanggil Kania yang tak lain adalah putrinya sendiri dan bertingkah seolah hubungan mereka bukan ayah dan anak, melainkan pemilik sekolah dan siswi
"ya pak, saya bekerja keras untuk mendapat peringkat satu" kata Kania sopan.
"bagaimana perilakunya saat dikelas?" tanya pak Richard pada walikelas Kania
"dia anak yang sopan dan baik, tutur kata dan perilakunya sangat baik" kata walikelas dengan nada bangga.
"katakan dengan jujur" kata Pak Richard.
__ADS_1
"bagaimana dengan pelajaran tiap jam?" kini Pak Richard bertanya pada guru pelajaran.
"saya bangga dengan pengetahuannya pak" kata salah satu guru.
"yang lain?"
"kami juga memikirkan hal sama" kata guru yang lain dengan senyum lebar.
"apakah kalian berkata yang jujur?" tanya Pak Richard memandang semua guru.
"jangan membelanya hanya karena dia siswa kelas rendah dan peringkat pertama. apa kalian kasihan padanya?" kata nyonya sarah sebagai petinggi komite sekolah dengan tajam.
mendengar perkataan itu, kepala sekolah sontak menatap ibu sarah dan pak Richard bergantian. Kepala sekolah terlihat panik, berbeda dengan Pak Richard yang tersenyum tipis.
"matilah kau!" rutuk kepala sekolah yang tentu saja hanya dia yang tahu.
"bagaimana menurut anda, nyonya sarah?" tanya pak rhicard memancing.
"anak ini pembuat masalah, berasal dari kelas rendah bukan berarti dia harus mendapat belas kasihan"
"lalu?" tanya Pak Rhicard lagi dengan senyum tipisnya.
"kudengar anak ini pembuat masalah, kita harus memberinya hukuman pada anak ini, agar jera" kata nyonya sarah sambil menatap kania dengan tatapan tak suka, Kania hanya mengangguk sambil menatap pak Richard dan nyonya Sarah bergantian.
"jadi anak ini pembuat masalah? baiklah, saya akan mengambil keputusan 3 hari lagi. rapat hari ini selesai.3 hari lagi, kita kembali untuk keputusan akhir saya mengenai siswi atas nama Kania ini" kata pak Richard dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Kania dan kepala sekolah jangan pergi dulu, bisa kita bicara?" tahan pak Richard saat Kania akan melangkah keluar.
"baik pak".