Hurt

Hurt
91


__ADS_3

Sesampai di Dubay Zahid segera meminta supir untuk mengantarnya ke panti asuhan milik Claire . Dia yakin wanitanya masih ada di sana . Walau masih di bantu kursi roda tapi tak menyurutkan niatnya untuk bertemu kembali dengan pemilik hatinya


" Apa tidak sebaiknya Tuan istirahat dulu ? kondisi Tuan Zahid belum begitu baik " salah satu bodyguardnya mencoba untuk mengingatkan pria muda itu .


" Aku lebih tahu seberapa kekuatan tubuhku sendiri "


" Baik jika begitu ... sesuai perintah tuan "


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sederhana dengan halaman cukup luas . Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat ada banyak orang duduk berkerumun di rumah itu , anak anak juga terlihat duduk di beberapa tempat dengan wajah sedih .


Di bantu salah satu bodyguardnya Zahid segera masuk ke rumah panti itu . Kehadirannya yang di kawal beberapa bodyguard di belakangnya sempat menjadi pusat perhatian .


" Ada yang bisa bantu ? Maaf tapi kami tidak sedang menerima tamu . Kami sedang berduka "


" Berduka ?? Apa maksudnya ?! "


" lbu kami sudah berpulang .... "


Dari arah dalam Zahid melihat wanitanya keluar dengan mengenakan baju serba hitamnya .


" Sayang ... "


Dan suaranya sukses membuat langkah wanita itu terhenti .

__ADS_1


" Kau ??!! Kenapa ada disini ? " perlahan Safa mulai mendekati pria yang ada di atas kursi rodanya .


" Apa Nyonya Claire ... "


" Ya dia sudah berpulang tadi malam . Kondisinya sudah terlalu lemah untuk menerima berbagai pengobatan . Tadi beliau sudah di makamkan di belakang bangunan panti ini . Kami hanya ingin beliau tetap bersama kami di sini "


" Ternyata aku kurang cepat , jika saja semalam aku datang maka aku menemanimu di sini ! "


Safa hanya tersenyum dan mengambil alih kursi roda dari tangan bodyguard . Perlahan dia mendorongnya ke area belakang panti .


" Kami mengikhlaskan beliau , mungkin ini sudah menjadi jalan terbaik untuknya . Aku antar kau untuk melihat peristirahatan terakhirnya . Sebelum berpulang dia ingin mengucapkan terima kasih padamu , karena bantuanku dia bisa berobat ke luar negeri "


" Sayang jangan ingatkan aku dengan kesalahanku ... "


" Kau sudah menolong kami ... "


Zahid meraih satu tangan wanitanya ketika melihat ada air mata yang mulai turun di pipi putihnya . Sekarang mereka ada di depan pusara yang masih basah dengan dipenuhi taburan bunga .


" Kembalilah padaku ... beri aku kesempatan untuk menjaga dan mencintaimu " ucap Zahid membawa tangan lembut itu untuk di kecupnya .


" Tidak akan semudah yang kau pikirkan , Daddyku tidak menyukaimu "


" Daddy ?? Bukannya kau ... "

__ADS_1


" Aku masih punya Daddy ! Ceritanya terlalu panjang untuk di ceritakan . Kau juga mengenalnya dengan baik "


Zahid menelisik wajah pemilik hatinya , ada raut yang tak bisa ia artikan di sana .


" Aku mengenalnya ?? Siapa dia ?! "


" George Kahl ... "


" Dia ?? Bukannya dia yang sering mengajakmu makan siang bersama ?! "


" Dia hanya ingin lebih dekat denganku , dia takut jika membuka identitasnya maka aku akan membencinya . Padahal aku tidak akan membenci siapapun untuk semua yang terjadi pada diriku . Termasuk kamu Za ... aku hanya menjalani karena semakin kusesali aku akan terperosok dalam jurang kebencian yang semakin dalam . Kita kembali ke dalam ya , udara semakin dingin di sini . Keadaanmu belum begitu sehat "


Hati Zahid sedikit tersentil ketika mendengar gadis itu bahkan masih memperhatikan kesehatannya .


" Kau tidak membenciku !? "


" Bohong jika aku jawab tidak , tapi aku mencoba menjalani hidup dengan baik tanpa dendam pada siapa pun "


" Menikahlah denganku .... "


" Aku hanya akan menikahimu dengan ijin Daddyku "


" Apa kau menolakku dengan halus ?? "

__ADS_1


Safa tertawa mendengarnya , terdengar lucu baginya ketika mendengar pria di atas kursi roda itu merajuk .


" Buktikan jika kau benar benar mencintaiku "


__ADS_2