
Rose seperti sedang terbangun dari tidur panjangnya , dia ingat ada salah seorang dari pria yang menghampirinya membekapnya dengan sapu tangan dan setelah itu dia tidak ingat apa apa lagi .
Dan sekarang ia bangun di sebuah kamar mewah bernuansa putih , sebuah vas berisi bunga Lily berada di atas nakas disamping tempat tidurnya .
" Schaaatt apa ini surga !? Kenapa kau tidak berada di sisiku ..... " lirihnya dengan kepala yang masih sedikit pusing .
Dia bisa melihat bahwa dirinya sedang mengenakan baju tidur yang juga berwarna putih . Tiba tiba saja pikirannya kalut , ia khawatir jika seseorang sudah memanfaatkan keadaannya .
" Nona sudah bangun ?? "
Rose tersentak ketika suara seorang wanita mengejutkannya . Tampak seorang gadis muda berpakaian seragam warna putih dengan stetoskop yang bergantung di lehernya masuk ke dalam kamarnya . Wanita itu menghampirinya yang masih berada di atas ranjang .
Wanita bermata sipit itu meraih tangannya dan memeriksa nadinya , dia juga memeriksa kedua mata Rose dengan menggunakan senter kecil .
" Anda masih lemah , tapi anda akan baik baik saja "
" Saya ada di mana ?? "
" Anda di tempat yang aman "
" Tapi di mana suami saya !? "
" Hanya itu yang bisa saya katakan , maaf "
__ADS_1
Dan setelah selesai memeriksanya dokter wanita itu keluar dari kamar besar itu , berganti dengan beberapa pelayan yang mendorong meja troli makanan .
Rose bersyukur dengan hal itu karena ia memang merasa sangat lapar . Setelah mengisi perutnya mungkin ia bisa keluar dari tempat ini dan mencari suaminya . Saat ini Bryan pasti sedang kebingungan mencarinya .
Maksud baiknya menjadi petaka untuknya , padahal niatnya hanya mencari obat untuk suaminya tapi malah berakhir dengan keberadaan dirinya di antah berantah . Jika waktu bisa diputar Rose ingin sekali malam itu tetap berada di kamarnya saja .
" Selamat siang Nona , kami siapkan makan siang untuk anda . Semoga anda menyukainya tapi jika Nona tidak suka kami bisa menggantinya "
" Tidak perlu ... "
Seorang pelayan mengangkat meja kecil dan menaruhnya di depan Rose yang masih duduk bersandar di kepala ranjang . Satu persatu makanan di hidangkan di depannya , para pelayan itu benar benar melayaninya dengan baik .
Setelah selesai ternyata masih ada beberapa pelayan yang tinggal di kamarnya .
Rose terhenyak , sampai sampai urusan mandi pun para pelayan itu masih saja mengurusnya .
" Maksudnya kalian ingin memandikanku begitu ??! " Tidak ... tidak terimakasih !! Aku bisa mandi sendiri " tolak Rose , dia berpikir mandi adalah salah satu hal yang sangat privasi .
" Nona kasihanilah kami , kami tidak akan selamat jika terjadi sesuatu pada nona di kamar mandi "
" Heii .. aku hanya akan mandi , bukan ikut perang tawuran ! Sudah beribu ribu kali aku mandi sendiri dan aku baik baik saja . Jangan berlebihan "
Para pelayan itu hanya saling menatap , sangat jelas ada raut khawatir di mata mereka . Tapi sejurus kemudian beberapa orang masuk ke kamar mandi , sepertinya mereka menyiapkan air hangatnya .
__ADS_1
" Aku bisa jalan sendiri !! " kata Rose ketika seorang pelayan ingin memapahnya berjalan ke arah kamar mandi .
Rose segera mengunci kamar mandi dan dia segera berendam di bath up yang sudah disiapkan untuknya tadi . Yang ada di otaknya kini adalah bagaimana caranya ia bisa segera menemui suaminya kembali .
Keluar dari kamar mandi Rose sudah tak melihat seorang pun di kamarnya , baju gantinya sudah disiapkan di atas tempat tidur . Sebuah dress dengan panjang di bawah lutut berwarna biru , dan dalaman dengan warna senada dengan bajunya .
Selesai berpakaian ia segera menuju pintu kamar , ketika ingin membukanya ternyata kamar itu terkunci dari luar . Tak habis akal , Rose kemudian berlari ke arah jendela besar yang terdapat di kamar itu .
Tapi harapannya sirna ketika melihat banyaknya pria pria berbaju hitam berjaga di bawah kamarnya yang terletak di lantai dua . Tampaknya rumah megah ini benar benar di jaga dengan ketat .
CEKLEKKKK ...
Rose spontan menoleh ke arah pintu karena merasa ada seseorang yang kembali akan masuk ke kamarnya . Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan formal warna hitam berjalan ke arahnya .
" Kau ... ?? " Rose terhuyung beberapa langkah ke belakang ketika melihat wajah pria itu , dia masih ingat pria itulah yang semalam bersimbah darah karena pisau yang tertancap di punggungnya . Rose melihat kearah punggung pria itu tapi kelihatannya tidak sedang kesakitan .
" Aku baik baik saja , hanya sebilah pisau tak akan pernah mampu membunuhku ! Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku . Apa mereka melayanimu dengan baik !?? " kata pria itu terdengar sangat ramah .
" Di mana aku ?? Kenapa aku bisa berada di tempat ini !? Aku mau kembali ke hotel !!! "
Pria itu seperti sedang menghela nafas panjang , hingga suara seorang wanita tua membuat mereka menoleh bersamaan .
" Kau di takdirkan untuk menjadi pendamping putraku . Wanita pemberani sepertimu yang pantas menjadi pemimpin klan kami . Hiro ... sudah ibu katakan jika wanita ini akan tetap disini untuk menjadi menantu ibu . Hanya wanita yang kuat yang pantas menjadi nyonya kedua di keluarga kita . Dia akan melahirkan penerus penerus yang akan memimpin klan kita "
__ADS_1
" Tapi Bu ... "