
Sesaat sebelum pertarungan ....
Akihiro berusaha tetap bersikap tenang walau pamannya terus berusaha memprovokasi dirinya . Beruntung ibunya belum tiba hingga mantan pemimpin klan itu tidak perlu merasakan emosi ketika menghadapi adik iparnya itu .
" Nakamoto !! "
" Ya Tuan ?? "
" Kenapa ada layar besar di tengah aula ? Apakah akan ada pertunjukan atau semacamnya ?? "
Pria bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab , Hiro bisa melihat ada raut bingung di wajah pemimpin pengawal itu .
" Saya kurang tahu Tuan .... Maaf saya permisi ada hal yang harus saya lakukan di belakang "
Hiro diam , dia merasa ada yang janggal dengan acara malam ini . Ada satu hal yang sedang disembunyikan oleh para pengawal darinya dan ia tahu benar siapa di balik semua ini .
Semua undangan sudah duduk di tempatnya masing masing . Hiro memanggil seorang pelayan yang sedang menyiapkan sajian di sebuah meja .
" Panggil Nyonya Muda di kamar , bilang padanya acara sudah akan di mulai "
Hiro tetap berdiri di pintu aula untuk menyambut tamu yang masih datang , sekaligus melihat ke arah luar siapa tahu istrinya ada di sana . Dia melihat ibunya datang di iringi dengan beberapa pelayan dan pengawal pribadinya .
__ADS_1
" Kenapa kau masih di sini ?? Masuk ... acaranya akan segera di mulai . Jangan buat keributan dengan ibu di acara ini "
" Aku masih menunggu Mayleen Bu , aku sudah menyuruh pelayan untuk menjemputnya " jawab Hiro masih berusaha tenang .
'" Gadis menyusahkan !! " lirih sinis sang ibu yang masih bisa Hiro dengar dengan jelas .
Harusnya ada beberapa pelayan yang sudah menjemput istrinya dari tadi . Tapi pelayan pelayan itu bahkan tidak tampak batang hidungnya di acara ini .
" Bagaimana ?? " tanya Hiro pada pelayan yang tadi ia mintai tolong untuk menjemput istrinya di kamar .
" Kamar anda sepi ... Nyonya Muda tidak ada di sana "
" Ckk ... May di mana kamu "
Hiro menuju ke arah dapur , tadi sebelum meninggalkan kamar sang istri berkata sedang sangat lapar dan ingin makan . Sampai di dapur pun hanya beberapa pelayan saja yang ada di sana .
Hiro berlari.lagi ke arah kamarnya siapa tahu sang istri sudah kembali ke sana . Walau sangat bandel tapi Mayleen selalu menuruti setiap kata katanya . Dan ternyata kamarnya memang sangat sepi . Ponsel sang istri juga masih tergeletak di atas meja rias .
" Jangan jangan ... "
Hiro kesetanan berlari menuju ruang perjamuan , dia terpaku ketika disana terpampang gambar sang istri yang sedang di hadang tujuh pria dengan pakaian serba hitam dan dia sangat mengenal gaya bertarung pria pria itu .
__ADS_1
Perlahan ia berjalan mendekat ke arah ibunya , wajahnya sepenuhnya memerah karena menahan amarahnya .
" Apa yang sedang lbu lakukan pada istriku !!?? " kata Hiro dengan penekanan di setiap kata katanya .
Beberapa pengawal pribadi ibunya sudah berdiri di belakangnya . Dan ada beberapa tetua meraih bahunya untuk sekedar menenangkannya .
" Jangan katakan padaku jika kalian ikut bersekongkol merencanakan ini semua !!!! " geram Hiro melihat semua yang ada di ruangan itu .
CRRAANNGG ...
Bunyi benturan pedang dan tongkat besi nyaring memenuhi ruangan . Hiro menoleh ke arah layar besar itu , dia bisa melihat nafas sang istri sudah mulai ngos ngosan .
" Sayang .... "
Dan pria yang menjadi pimpinan klan Yoshida itu kembali berbicara dengan ibunya . Kali ini suara Hiro lantang hingga seluruh ruangan mendengarnya .
" Aku tidak akan memaafkan kalian jika ada satu luka tergores di kulitnya !!! Kalian dengar itu ??! Tak akan pernah aku maafkan !!!! " pekik Hiro langsung berlari ke arah halaman belakang .
Diapun tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa apa pada wanita yang seharusnya bisa ia jaga . Benar saja , di halaman belakang ia bisa melihat empat pria sudah tergolek tak berdaya .
Sedangkan sang istri sedang berdiri dengan bertumpu tongkat ditangannya . Hiro kalap ketika melihat luka memanjang di kaki jenjang istrinya dan cairan merah mengalir di atasnya .
__ADS_1
" BANGSAATTT .... BERANINYA KALIAN SENTUH ISTRIKU !!!! "