Hurt

Hurt
hurt 23


__ADS_3

" Ok,,, terus awasin dia dan laporkan kepadaku"  ucap Namjoon sembari menutup telpon yang kini di genggamnya.


" kau menyuruh anak buah mu mengikuti Lova?? " tanya Nesnya mengagetkan Namjoon.


Nesya mendengar pembicaraan Namjoon dengan anak buahnya. Dia mengikuti Namjoon karena merasa curiga Namjoon menelpon seseorang secara sembunyi-sembunyi. 


" Ya,,, aku hanya ingin memastikan dia tidak membuat masalah " jelas Namjoon.


Nesya memicingkan matanya.


" benarkah?? bukan karena kau cemburu dia bersama seorang pria?? " tanya Nesya curiga.


" Bukan cemburu,,, aku hanya tidak ingin dia melakukan sesuatu yang akan mempermalukanku, mempermalukan keluarga Kim " Jelas Namjoon kembali meyakinkan Nesya.


Nesya hanya terdiam. Namjoon membelai pipinya.


" kau tenang saja,,,, aku tidak mungkin cemburu. aku hanya ingin menjaga nama baik ku " senyum Namjoon.


lalu mengelus perut Nesya yang sudah mulai terlihat.


Nesya tersenyum namun dalam hatinya merasa ada sebuah kejanggalan.


Dirinya mulai merasa jika Namjoon sudah mulai memperdulikan Lova.


Dia cukup khawatir. Dia takut Namjoon berpaling darinya. Bukan hanya sekali Namjoon selalu tidak fokus saat berdua denganya. Dia selalu melihat ke arah kamar Lova.  Dia harus lebih berusaha untuk membuat Namjoon tidak berpaling darinya.


***


Sementara di tempat yang sudah menjadi favorite bagi Lova saat sedang membutuhkan ketenangan. Terlihat Lova sedang duduk tenang dengan seorang pria di sampingnya.


Ya siapa lagi kalau bukan Hoseok.


Lova tidak sengaja bertemu dengan Hoseok dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke tempat yang sebelumnya sudah pernah di kunjungi.


" Bagaimana kabar rumah tangga kalian?" Tanya Hoseok


" Hmmmm masih sama, dan mungkin sekarang mereka semakin dekat. Kehamilanya semakin terlihat dan suamiku pasti akan lebih perhatian kepadanya" Senyum Lova.  Hoseok mengangguk prihatin.


" Bukan kah kemarin ada acara di kluarga suamimu?" Tanya Hoseok kembali.


" Ya..dan aku malah membantu suamiku untuk tidak menginap di rumah mertuaku demi wanita itu" Semrik Lova. Dia tersenyum seperti menertawakan dirinya sendiri. Hoseok memandang Lova.


"Kau sungguh wanita yang luar biasa va. Mengapa ada wanita seperti dirimu" Kagum Hoseok. Lova menatap Hoseok.


"Biar bagaimanapun dia sahabatku, dan aku juga mengkhawatirkan bayi nya. Dia mengandung darah daging suamiku". Ucap Lova dengan pandangan kosong.


" Aku sangat penasaran dengan wanita simpanan suamimu. Jika aku bertemu denganya aku akan meminta agar dia tidak menyakitimu lagi. Cukup dengan dia hadir dan menetap di rumah kalian jangan menggangu privasi mu".  Jelas Hoseok.


Dia merasa wanita simpanan suami Lova sangat keterlaluan. Hoseok kesal setelah Lova menceritakan tentang Nesya yang masuk ke dalam kamarnya.


Ingin rasanya Hoseok menemui wanita itu dan memintanya untuk meninggalkan suami Lova. Namun itu tidak mungkin karena wanita itu memang tidak sepenuhnya salah. Dia berhak meminta pertanggungjawaban atas kehamilan anak dari suami Lova.


Di sisi lain juga ingin rasanya Hoseok meminta Lova untuk meninggalkan suaminya dan hidup bahagia bersamamya. Namun itu juga tidak mungkin karena status keluarga yang teramat sangat mementingkan kehormatan dan nama baik keluarga. Dan yang paling tidak memungkinkan karena Lova mencintai suaminya.

__ADS_1


Jadi dia tidak bisa meminta Lova atau memberikan soluai yang pas.


Dia hanya bisa menghibur dan berusaha membuat Lova selalu teraenyum.


Itu lah tugas dia saat ini.


Lama keduanya terdiam. Suasana semakin sejuk. Hembusan angin sampai ke tulang.


Lova masih terdiam memandang danau tenang yang ada di hadapanya. Hoseok memperhatikan Lova. Tatapan sendu yang Lova tampilkan membuatnya merasa sedih.


Hoseok terus saja memperhatikan wanita yang ada di sampingnya sampai dia menyadari Lova kini bersandar di bahunya.


" Bolehkah aku bersandar padamu?" Ucap Lova sendu. Pandanganya masih tertuju danau yang tenang dengan tatapan kosongnya.


Hoseok terdiam, dia melihat wajah Lova yang sedikit pucat.


" Jika itu yg membuatmu nyaman, maka lakukanlah" Jawab Hoseok sedikit canggung.


Dia merasa tidak enak. Biar bagaimanapun Lova wanita yg dicintainya itu berstatus istri orang. Namun dia tidak mungkin menolaknya karena memang saat ini Lova sedang membutuhkan sandaran.


" Apa yg harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskan? " Gumam Lova masih dengan tatapan kosongnya.


Hoseok terdiam . Dia mengerti kini Lova berada di posisi yang serba salah.


"Aku mencintai orang yang salah. Selama ini tidak pernah ada orang yang mencintaiku. " Guman Lova. Entah sadar atau tidak pernyataan Lova seolah merujuk kepada Hoseok yang memang sedari dulu menyimpan cinta kepada Lova namun sampai saat ini belum diungkapkanya.


Hoseok seolah terdorong apakah sudah waktunya dia mengungkapkan perasaan dia yang sebenarnya.


" Sejujurnya sudah sangat lama sekali aku memendam perasaan ini sendiri. Aku tau aku tidak pantas mengatakanya saat ini. Tapi Aku hanya ingin kau tau perasaanku yang sesungguhnya. Jika selama ini aku mencintaimu va.. Maafkan atas kelancanganku. Kau tidak harus membalas cintaku..aku  aku hanya ingin kau tau aku mencintaimu Lova dari sejak dulu kita kuliah perasaan ini belum berubah. Aku msih sngat mencintaimu" Jelas Hoseok panjang lebar namun tidak ada reapon apapun dari Lova.


Hoseok mengira Lova tidak suka dengan ungkapan perasaanya.


Namun disaat Hoseok melihat Lova dia terkejut karna saat ini Lova tidak sadarkan diri.


" Va..." Hoseok memegang pipi Lova.


" Va bangun va..." Hoseok mulai panik.


"Lova bangun!"


Ternyata Lova pingsan dalam dekapanya.


Hoseok semakin panik dan dia langsung membawa Lova ke Rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Lova di periksa dokter dan di berikan perawatan.


Sampai akhirnya Lova tersadar setelah beberapa jam tak sadarkan diri.Dokter mengatakan jika Lova kecapean dan banyak fikiran jadi kesehatanya menurun.


Hoseok sangat khawatir. Dia terus berada di samping Lova. Namun kini dia cukup lega karena Lova sudah sadarkan diri.


" Aku dmna?" Tanya Lova linglung


" Kau di rumah sakit, tadi kau pingsan."

__ADS_1


" Aku pingsan?"


"Ya..kau kecapean makanya kau pingsan. Ku mohon jaga kesehatanmu aku sangat khawatir" ucap Hoseok.


" Jam berapa sekarang?" Tanya Lova


" Jam 20.00 "


" Antarkan aku pulang." Pinta Lova.


Dan Hoswok bersiap untuk mengantar Lova karena memang sudah di bolehkan untuk pulang.


Dia mengingat kembali ungkapan perasaanya kepada Lova. Lova tidak mendengar curahan hatinya.


(" Mungkin memang belum saatnya kau mengetahui perasaanku va") ucap Hoseok dalam hatinya.


***


Kini Lova sudah berada di depan pintu masuk rumahnya.


Selalu saja kakinya terasa berat untuk melangkah ke dalam rumah yang bisa dibilang sudah menjadi neraka baginya.


Dia berharap tidak melihat Namjoon dan juga Nesya. Dia enggan bertemu dengan kedua orang yang selalu membuatnya sakit hati.


Namun sayang hal yang di harapkanya tidak sesuai. Kini Namjoon sudah berada di sofa melihat dirinya yang baru masuk.


"Dari mana?" Tanya Namjoon dingin.


" Aku habis dari luar bertemu teman lama" Jawab Lova seadanya.


"Teman pria?"


" Hmmmm" Jawab Lova seadanya. Dia masih lemah dan enggan beradu mulut dengan Namjoon.


Dia kesal mengapa Namjoon selalu bertanya.


" Apa dia kekasihmu?" Tanya Namjoon.


" Itu bukan urusanmu. Mengapa kau selalu bertanya?!" Lova sedikit meninggikan suaranya.


Namjoon terdiam. Ya.. Dia juga heran Mengapa dia selalu ingin tau tentang Lova. Dia mulai penasaran dengan kehidupan istri bayanganya itu.  Seprrti apa dirinya? Dan siapa pria yang selalu bersama dengan dirinya.


" Aku...aku hanya khawatir" Ungkap Namjoon rendah. Lova terdiam melihat Namjoon. Apa dia tidak salah dengar? Namjoon mengkhawatirkanya? Sejak kapan?


" Aku baik-baik saja. Aku ingin istrhat. Ake ke kamar dulu" Pamit Lova masih dengan perasaan bingung. Namun tidak terlalu difikirkanya.


Namjoon hanya memperhatikan langkag gontai Lova menaiki tangga.


Namjoon tau Lova tadi pingsan dan di bawa ke Rumah sakit. Dia mendapat laporan dan bukti dari orang suruhanya yang mematai Lova.


Namjoon sempat kesal melihat Lova bersadar pada pria lain. Namun stelah itu Namjoon khawatir dan sdkit lega saat Lova pingsan ada orang yang menolongnya.


Terlihat Nesya dari atas tangga melihat Namjoon dan juga Lova. Dia semakin yakin jika Namjoon mulai mengkhawtirkan Lova dan peduli kepada Lova.

__ADS_1


__ADS_2