
" Lieve .... !!!! "
Bryan mulai panik ketika tak mendapati istrinya di dalam kamar . Pria itu langsung keluar dari kamar bermaksud bertanya jika ada yang melihat Rose keluar hotel .
Suasana di luar pun masih sangat sepi , kakek penjaga hotel sepertinya juga sudah ada di dalam kamarnya karena udara yang semakin dingin .
" Lieve ... di mana kau ?? " lirih Bryan terlihat menyembuhkan sesuatu di balik jaketnya kemudian segera melangkah keluar gerbang depan hotel .
Kakek tua penjaga hotel itu benar , suasana sepi di luar hotel terasa begitu mencekam untuknya . Hanya ada beberapa kendaraan yang terlihat melintas . Bryan perlahan menyusuri jalan sepi berharap melihat sang istri tadi jauh dari tempat itu .
Tiba tiba samar ia mendengar beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengannya seperti sedang membicarakan sesuatu .
" Polisi sudah mengevakuasinya , sungguh kasihan padahal tadi kulihat mayat itu cantik sekali "
" Cantik ??? Ya Tuhan ..... "
Bryan berlari mendekat pada dua pria pejalan kaki yang barusan membicarakan tentang seorang gadis .
" Permisi , tadi saya dengar kalian membicarakan tentang mayat seorang gadis , dimana saya bisa melihatnya sekarang ?? Saya sedang mencari istri saya ... "
" Anda bisa melihatnya di kantor polisi yang letaknya ada beberapa blok dari sini . Cepatlah sebelum mayatnya di bawa ke rumah sakit "
" Baik ... terimakasih informasinya "
" Sama sama , kami harap istri anda baik baik saja "
Setelah itu Bryan langsung berlari menuju ke kantor polisi terdekat . Walau dia yakin istrinya berada di suatu tempat yang tidak ia tahu dan masih baik baik saja , tapi ia tetap harus memastikan semuanya .
__ADS_1
" Ada yang bisa kami bantu ?! "
Seorang polisi terlihat menghampiri dan dengan sangat ramah bertanya padanya . Mungkin polisi itu tahu jika Bryan adalah salah satu turis yang sedang berkunjung di negara ini .
" Saya sedang mencari istri saya . Kami sedang menginap di hotel yang tak jauh dari sini . Tapi tadi ia tiba tiba menghilang dan saya sudah mencarinya di sekitar hotel tapi hasilnya nihil . Dari beberapa pejdlsn kaki saya dengar informasi polisi menemukan jenasah seorang gadis . Apa saya bisa melihatnya ?? "
" Tentu saja kami sedang mengidentifikasi , saya antar anda kesana "
Diantar seorang polisi yang terlihat masih sangat muda , Bryan berjalan ke dalam ke sebush rusngdn yang khusus untuk menempatkan mayat untuk sementara sebelum di bawa ke rumah sakit .
" Silahkan , saya ada di belakang anda jika anda ingin menanyakan sesuatu "
" Baik .... "
Perlahan di bukanya kain putih penutup jenasah yang ada di atas ranjang kecil itu . Dia terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan meraup kasar mukanya .
*
" Apa Daddy bekerjasama dengannya ?? " tanya Astika yang malam ini menemani Daddynya di ruang kerja .
Baru saja dia membawakan secangkir kopi dan beberapa kue kering untuk Daddynya . Sore tadi tanpa ia duga Oliver pergi dengan sang Daddy dengan alasan bisnis . Pantas saja seharian ini pria menyebalkan itu tidak membuntutinya .
" Oliver pria baik sayang , pagi tadi kami membahas tentang proyek besar Daddy yang berada di kawasan danau . Dan ternyata ia punya koneksi dengan investor investor potensial untuk pembiayaannya "
" Bukannya Daddy sudah ada kerjasama dengan suaminya Diva ?? Astika pikir Adipraja sanggup jika hanya masalah pembiayaan "
Bukan tanpa sebab Astika bicara seperti itu , diapun adalah seorang pengusaha jadi dia tahu seberapa besar kekuatan dan kekuasaan Adipraja . Jangankan di pulau kecil ini kota sebesar London pun bisa di takhlukkan oleh keluarga itu .
__ADS_1
" Daddy sudah membahas ini dengan Adam , dia sama sekali tidak keberatan jika Daddy memasukkan beberapa investor lagi . Mungkin dengan ini bisnis keluarga kita nisa lebih berkembang " .
" Apa Oliver mengatakan sesuatu tentang aku Dad ?? "
" Saat Daddy menemuinya di kantor yang di lakukan pertama kali adalah melamarmu . Dihadapan Daddy dia memintamu karena dia tak bisa hidup tanpamu ... "
BLUSSHHH ...
Pipinya seketika merona mendengar jika pria menyebalkan itu bahkan sudah melamarnya . Hatinya lega ketika mendengar tiba tiba ponselnya berdering , setidaknya itu bisa menjadikan alasan untuk keluar dari ruang kerja Daddynya .
" Dad ehhmm ... Astika keluar untuk menerima telpon dulu "
John Effendy mengangguk dan tersenyum melihat rona merah di wajah putrinya . Sudah sangat lama sepertinya ia tidak melihat raut kebahagiaan di wajah putrinya setelah perceraiannya dengan Reyhan .
Sampai di balkon lantai atas dia segera menggeser tombol hijau tanpa terlebih dulu melihat siapa penelponnya .
" Ya halo ?? "
" Halo maaf jika malam malam begini mengganggumu , besok bisakah kita bertemu ?! "
" Gilang .. kurasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan "
" Aku tahu ... tapi aku merindukannya . Tenang saja karena aku tahu batasanku , aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan .. "
" Merindukan istri orang itu salah Lang !! Apalagi istrimu sudah di jaga malaikat maut seperti Adam Adipraja "
" Sebentar saja ... aku hanya ingin melihatnya sebentar "
__ADS_1