
" Bungkus saja kuenya atau berikan saja pada orang orang disana " kata Safa dengan menunjuk beberapa muda mudi yang sedang nongkrong di sepanjang jalan itu .
" Tapi ... "
" Aku kenyang melihat mukanya , kita pulang "
Oliver menghela nafasnya tapi sesaat kemudian dia memanggil pegawai toko . Sepertinya ia menyuruh pegawai itu membawa kue untuk di bagi bagikan pada para pengunjung toko .
" Kalian bicaralah secara dewasa ... besok pagi aku dan Hiro mungkin pulang karena kamipun punya pekerjaan "
" Antar aku pulang ... "
" Jangan membantah jika di beri tahu , kau dan Zahid sudah sama sama dewasa jadi selesaikan masalah kalian secara dewasa juga " kata Oliver yang mendapat anggukan dari Zahid .
Akhirnya Safa membiarkan Oliver pulang , dan sekarang mereka duduk di sebuah kafe yang ada disamping toko roti tadi .
" Aku minta maaf ... "
" Untuk ??? "
" Semuanya ... dengan kurang ajarnya aku mengambil apa yang belum menjadi hakku sebelum aku menikahimu "
" Ckk .. Aku menjualnya padamu . Jadi tolong jangan bahas hal.ini terus menerus ..Aku membutuhkan uang ... dan kau memberikan padaku dengan satu imbalan . Simpel kan ?? "
__ADS_1
Zahid mencoba meraih satu tangan Safa yang ada di atas meja , tapi gadis itu menepisnya lembut .
" Sepuluh tahun yang lalu aku sudah berjanji padamu untuk menjagamu seumur hidupku . Dan nyatanya malah aku yang membuat luka menganga dalam hatimu . Aku adalah anak yang pernah di lempar batu , dan kau yang menolongku . Waktu itu aku sudah berjanji padamu untuk menjagamu "
Safa sedikit tersentak mendengarnya tapi gadis itu masih mencoba untuk tenang .
" Maaf , waktu itu aku kesulitan mencarimu . Aku kira kau tinggal di apartemen milik Daddy yang ada di pinggir lapangan itu . Berkali kali aku berkunjung tapi aku tidak pernah lagi melihatmu . Ternyata ada beberapa orang yang memang tidak ingin identitasmu tersebar . Termasuk Daddyku sendiri .... "
" Tidak usah di bahas , basi !!! Lagipula aku ikhlas menolongmu "
" Tapi hal itu sangat menyiksaku ... "
" Dengar ini Zahid Al Shamma , detik ini aku bebaskan kau dari semua janji masa kecilmu padaku ! Aku tidak mau hanya karena janji itu kau jadi mengejarku seperti orang gila . Pergilah ... hiduplah dengan baik , karena seperti yang kau lihat sampai sekarang pun nyatanya aku bisa hidup bahagia dengan caraku . Ada banyak orang yang menyayangiku " ujar Safa tanpa sekalipun mau melihat pria yang duduk di depannya .
Pria itu menggagahi dirinya hanya dengan sebatas nafsu , kemudian membayarnya walau ia tahu ia sendiri yang meminta sejumlah uang itu .
" Aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan "
BRAKKKK ...
" Apa kau tuli Tuan Al Shamma ??!!!! Aku tidak meminta itu !!! Kau sudah membayar dan aku memberikannya padamu ... itu aturannya . Jadi jangan ungkit itu lagi !! Pergilah !! Cari gadis cantik dan menikahlah dengannnya ... " teriak Safa yang mulai hilang kesabarannya menghadapi pria tampan di depannya .
" Tapi aku hanya mau kamu ... "
__ADS_1
" Ya Tuhan ... Kau pikir aku akan tersentuh dengan pria pria b*jingan seperti kalian ?? Pria dari keluarga terhormat yang ternyata mempunyai otak picik dan kotor dengan menganggap semua wanita akan melakukan semua untuk uang ? Di luaran sana banyak yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk lemah , karena mereka tidak tahu bisa sekuat apa wanita dengan sakit di hatinya .... "
" Ya aku adalah b*jingan , aku mohon beri b*jingan ini kesempatan untuk memperbaiki diri "
" Dasar otak bebal !! Percuma berbicara denganmu !! Aku pulang ... " ujar Safa bersungut sungut karena merasa kesal .
" Aku antar ... " sahut Zahid segera beranjak mengikuti langkah Safa yang tergesa .
" Tidak perlu , aku bukan gadis kecil lagi ! Aku tahu jalan pulang "
" Akkkhhhh ... !!! "
" Sayang !!! "
Karena terlalu terburu buru Safa terpeleset oleh heelnya yang lumayan tinggi . Gadis cantik itu memang sudah terbiasa menggunakan heels kemanapun ia pergi .
Seperti sebuah adegan romantis , Zahid merengkuh tubuh Safa yang hampir saja terjerembab di lantai . Safa memejamkan matanya karena tadi ia yakin akan terhempas cukup keras di lantai paving area luar kafe .
" Hei buka matamu ... jangan membuatku khilaf lagi "
Mata indah itu mengerjab kaget ketika melihat wajah tampan Zahid yang berada tepat didepannya . Pipi bersemu merah itu membuat Zahid tak bisa menyembunyikan senyumnya .
" Marahlah padaku sepuasmu , jika perlu pukul aku karena aku pantas mendapatkannya . Tapi jangan benci aku karena aku sangat mencintaimu ... "
__ADS_1