Hurt

Hurt
72


__ADS_3

" Bungkus saja kuenya atau berikan saja pada orang orang disana " kata Safa dengan menunjuk beberapa muda mudi yang sedang nongkrong di sepanjang jalan itu .


" Tapi ... "


" Aku kenyang melihat mukanya , kita pulang "


Oliver menghela nafasnya tapi sesaat kemudian dia memanggil pegawai toko . Sepertinya ia menyuruh pegawai itu membawa kue untuk di bagi bagikan pada para pengunjung toko .


" Kalian bicaralah secara dewasa ... besok pagi aku dan Hiro mungkin pulang karena kamipun punya pekerjaan "


" Antar aku pulang ... "


" Jangan membantah jika di beri tahu , kau dan Zahid sudah sama sama dewasa jadi selesaikan masalah kalian secara dewasa juga " kata Oliver yang mendapat anggukan dari Zahid .


Akhirnya Safa membiarkan Oliver pulang , dan sekarang mereka duduk di sebuah kafe yang ada disamping toko roti tadi .


" Aku minta maaf ... "


" Untuk ??? "


" Semuanya ... dengan kurang ajarnya aku mengambil apa yang belum menjadi hakku sebelum aku menikahimu "


" Ckk .. Aku menjualnya padamu . Jadi tolong jangan bahas hal.ini terus menerus ..Aku membutuhkan uang ... dan kau memberikan padaku dengan satu imbalan . Simpel kan ?? "

__ADS_1


Zahid mencoba meraih satu tangan Safa yang ada di atas meja , tapi gadis itu menepisnya lembut .


" Sepuluh tahun yang lalu aku sudah berjanji padamu untuk menjagamu seumur hidupku . Dan nyatanya malah aku yang membuat luka menganga dalam hatimu . Aku adalah anak yang pernah di lempar batu , dan kau yang menolongku . Waktu itu aku sudah berjanji padamu untuk menjagamu "


Safa sedikit tersentak mendengarnya tapi gadis itu masih mencoba untuk tenang .


" Maaf , waktu itu aku kesulitan mencarimu . Aku kira kau tinggal di apartemen milik Daddy yang ada di pinggir lapangan itu . Berkali kali aku berkunjung tapi aku tidak pernah lagi melihatmu . Ternyata ada beberapa orang yang memang tidak ingin identitasmu tersebar . Termasuk Daddyku sendiri .... "


" Tidak usah di bahas , basi !!! Lagipula aku ikhlas menolongmu "


" Tapi hal itu sangat menyiksaku ... "


" Dengar ini Zahid Al Shamma , detik ini aku bebaskan kau dari semua janji masa kecilmu padaku ! Aku tidak mau hanya karena janji itu kau jadi mengejarku seperti orang gila . Pergilah ... hiduplah dengan baik , karena seperti yang kau lihat sampai sekarang pun nyatanya aku bisa hidup bahagia dengan caraku . Ada banyak orang yang menyayangiku " ujar Safa tanpa sekalipun mau melihat pria yang duduk di depannya .


Pria itu menggagahi dirinya hanya dengan sebatas nafsu , kemudian membayarnya walau ia tahu ia sendiri yang meminta sejumlah uang itu .


" Aku ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan "


BRAKKKK ...


" Apa kau tuli Tuan Al Shamma ??!!!! Aku tidak meminta itu !!! Kau sudah membayar dan aku memberikannya padamu ... itu aturannya . Jadi jangan ungkit itu lagi !! Pergilah !! Cari gadis cantik dan menikahlah dengannnya ... " teriak Safa yang mulai hilang kesabarannya menghadapi pria tampan di depannya .


" Tapi aku hanya mau kamu ... "

__ADS_1


" Ya Tuhan ... Kau pikir aku akan tersentuh dengan pria pria b*jingan seperti kalian ?? Pria dari keluarga terhormat yang ternyata mempunyai otak picik dan kotor dengan menganggap semua wanita akan melakukan semua untuk uang ? Di luaran sana banyak yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk lemah , karena mereka tidak tahu bisa sekuat apa wanita dengan sakit di hatinya .... "


" Ya aku adalah b*jingan , aku mohon beri b*jingan ini kesempatan untuk memperbaiki diri "


" Dasar otak bebal !! Percuma berbicara denganmu !! Aku pulang ... " ujar Safa bersungut sungut karena merasa kesal .


" Aku antar ... " sahut Zahid segera beranjak mengikuti langkah Safa yang tergesa .


" Tidak perlu , aku bukan gadis kecil lagi ! Aku tahu jalan pulang "


" Akkkhhhh ... !!! "


" Sayang !!! "


Karena terlalu terburu buru Safa terpeleset oleh heelnya yang lumayan tinggi . Gadis cantik itu memang sudah terbiasa menggunakan heels kemanapun ia pergi .


Seperti sebuah adegan romantis , Zahid merengkuh tubuh Safa yang hampir saja terjerembab di lantai . Safa memejamkan matanya karena tadi ia yakin akan terhempas cukup keras di lantai paving area luar kafe .


" Hei buka matamu ... jangan membuatku khilaf lagi "


Mata indah itu mengerjab kaget ketika melihat wajah tampan Zahid yang berada tepat didepannya . Pipi bersemu merah itu membuat Zahid tak bisa menyembunyikan senyumnya .


" Marahlah padaku sepuasmu , jika perlu pukul aku karena aku pantas mendapatkannya . Tapi jangan benci aku karena aku sangat mencintaimu ... "

__ADS_1


__ADS_2