Hurt

Hurt
97


__ADS_3

Bryan segera menuju lantai dua mansion dimana ruang kerja dua putra Al Shamma berada . Sekitar setengah jam.lagi dia ada meeting dengan sebuah perusahaan besar di sebuah restoran yang tak jauh dari mansion .


Setelah mendapat dokumen yang ia butuhkan dengan sedikit berlari ia segera turun ke lantai bawah dan sebelum.ia mencapai pintu keluar tubuh kekarnya menabrak seseorang .


" Akkkhhhh .... "


" Ya Tuhan ... kau baik baik saja !!?? "


Bryan sudah melihat tubuh Rose tersungkur di lantai dengan satu tangan berwarna merah sepertinya melepuh karena dia sedang membawa dua cangkir kopi panas yang sudah tumpah dan pecah berhamburan di lantai .


" Maaf ... maafkan saya karena kurang hati hati . Apa Tuan baik baik saja ? Apa Tuan terluka ? "


" Ya Tuhan gadis ini ... Jangan khawatirkan aku . Tanganmu melepuh dan kakimu terluka terkena pecahan gelas . Kita ke rumah sakit sekarang !! "


" Tidak usah , saya baik baik saja ! Tadi saya lihat Tuan Bryan terburu buru . Tuan pergi saja , luka seperti.ini sudah biasa saya dapatkan . Di balur minyak olive nanti pasti sembuh "


Tapi Bryan bisa melihat luka gadis itu sedikit serius dan ia tahu gadis itu pasti tidak ingin membuatnya repot .


" Aku bisa meeting lain kali , tapi lukamu lebih penting sekarang !! Kita akan ke rumah sakit " biar bagaimanapun ia yang kurang berhati hati tadi , dan wajar jika ia bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat pada pada gadis manis itu .


Dan Rose menjerit pelan ketika tiba tiba Bryan membopong tubuh mungilnya ke arah mobilnya yang terparkir di halaman mansion . Kebetulan Bryan siang itu pergi bersama supir hingga ia bisa menemani Rose di jok belakang .


" Tuan ... "


" Diamlah ... lukamu harus segera di rawat " sahut Bryan yang mengira Rose ingin turun dari mobil dan ingin kembali ke mansion .


" Ehhmm ... itu ... "

__ADS_1


" Apa ? Kau lapar !? Apa kau belum makan siang !? Kita cari restoran setelah lukamu di rawat "


" Bukan itu , tapi turunkan saya . Kaki saya masih baik baik saja untuk bisa duduk sendiri ! "


Bryan mengumpat dirinya sendiri dalam hati ketika menyadari bahwa sampai saat ini gadis manis itu masih ada di atas pangkuannya . Tadi saking paniknya ia lupa menurunkan gadis itu .


Tapi raut malu gadis di atas pangkuannya akan menjadi godaan termanis yang pernah ia dapat seumur hidupnya . Rose masih menundukkan wajahnya ketika perlahan Bryan menurunkan tubuhnya untuk duduk disisinya .


" Maaf .. aku lupa " cicit Bryan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .


Setelah itu mereka tenggelam pada pikirannya masing masing , mereka diam hingga sang supir mengatakan bahwa mereka sudah tiba di rumah sakit .


" Ehhh ... Tuan saya bisa jalan sendiri " pekik Rose yang merasakan tubuhnya kembali melayang karena dibopong pria bertubuh besar yang tadi sempat memangkunya .


" Luka di kakimu masih berdarah !! "


" Tetap saja ada darahnya !!! "


Rose hanya pasrah karena merasa pria yang membawa tubuhnya sangat keras kepala . Tanpa sengaja gadis itu malah menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bryan ketika banyak mata yang sedang memperhatikan mereka .


Tentu saja ia akan menjadi pusat perhatian karena sekarang ia seperti Cinderella yang sedang di gendong pangeran tampannya . Dia masih mengenakan baju seragam pelayan yang berwarna merah muda lengkap dengan apronnya , sedang Bryan berpenampilan gagah dengan mengenakan setelan jas lengkap yang pasti berharga selangit .


Sampai di ruang dokter pun Bryan tetap menggenggam tangan mungil itu seakan ingin menyalurkan kekuatan ketika luka di kakinya mendapat dua luka jahitan .


Pria itu tak mendengar bibir merah Cherry itu mengeluh ataupun mengeluarkan suara , tapi air mata di pipi gadis itu sudah menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan .


" Bisakah kalian lebih pelan dalam menanganinya !!! Apa kalian buta hahh !! Dia kesakitan ... " teriak Bryan tiba tiba yang membuat semua yang ada di ruangan itu berjingkat kaget .

__ADS_1


Dokter dan perawat hanya tersenyum dan mengangguk pada Rose yang sudah menatap mata mereka satu persatu karena merasa tidak enak dengan kelakuan pria yang menjadi tangan kanan tuan mudanya itu .


" Apa tidak apa apa ?? " sekali lagi pria itu tampak khawatir ketika seorang perawat mengoleskan sesuatu pada kulit tangan Rose yang kemerahan karena terkena kopi panas tadi .


" lni salep dingin Tuan ... "


" Aku tidak sedang bertanya padamu " geram Bryan pada seorang perawat yang malah menjawab pertanyaan yang ia tujukan pada gadis manis itu .


Jika pria itu bukan teman tuan mudanya maka Rose sudah dari tadi mencubit atau memukul pria itu saking gemasnya dengan kelakuannya yang sangat menyebalkan .


" Sudah selesai , maaf jika sedikit sakit Nona . Lain kali berhati hatilah "


" Baik terimakasih Dok "


Karena merasa ada banyak antrian pasien Rose segera beranjak untuk keluar dari ruangan itu .


" Berhenti dulu .. Dokter apa tidak apa apa jika dia berjalan selagi kakinya ada luka yang di jahit "


" Tidak apa apa itu hsnya luka ringan ... ehh " dokter langsung mengerti dengan tatapan mengintimidasi Bryan padanya .


" Tapi sebaiknya Tuan menggendongnya dulu agar lukanya tidak terbuka " lanjut dokter itu dengan tersenyum penuh arti .


" Kau dengar itu kan ... " kata Bryan uang tanpa basa basi langsung kembali membopong tubuh mungil itu keluar dari ruangan dokter .


" Jangan berpikir macam macam ! lni murni tentang rasa kemanusiaan ... "


" Saya tidak berpikir apa spa ... "

__ADS_1


Tanpa Rose tahu ada senyum bahagia di balik wajah serius pria yang sedang membawa tubuhnya itu .


__ADS_2