Hurt

Hurt
76


__ADS_3

" Aaaaaaa .... !! Kenapa masuk ke kamarku !! ltu tidak sopan " jerit Anna yang melihat Abbio tiba tiba ada di belakangnya , lebih tepatnya pria itu sedang berbaring di ranjangnya .


" Jangan berteriak ! Kenapa harus kaget , aku sudah setengah jam tiduran di sini dan kau masih aman kan mengerjakan tugasmu di meja itu ?? "


Anna menutup laptopnya , baru saja ia menyelesaikan tugasnya sekaligus menyerahkannya pada dosennya di Dubay . Setelah mengikat rambutnya asal.dia mengambil tas dan beranjak dari duduknya .


" Sayang mau kemana ?! "


" Kerja . Aku bukan nona muda yang bisa menghabiskan uang tanpa berpikir bagaimana susahnya mencarinya " sahut Anna semakin mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah itu .


" Aku antar , tadi aku lihat gadis itu memakai mobilnya "


" Aku terbiasa jalan ... pulang sana !!! "


" Kau adalah rumahku , kemana lagi aku akan pulang !? lngin aku temani jalan ke kafe ? Aku tahu kau ingin mempunyai waktu berbicara denganku lebih lama "


Anna berdecak sebal dengan kenarsisan pria di belakangnya . lngin sekali ia memukul kepala pria itu dengan sapu lidi yang ada di halaman depan agar pria itu tidak lagi menyebalkan .


Akhirnya mereka berjalan menyusuri pantai ke kafe kecil milik para gadis itu . Beberapa kali terdengar Abbio memberikan beberapa pertanyaan agar mereka bicara , tapi Anna sepertinya tetap bungkam .


" Sayang , bicaralah ... "


" Pergi dari sini !! Kau punya kehidupan di Dubay !! "


" Nyawaku ada disini , aku tak bisa hidup tanpamu " jawab Abbio sambil mencoba meraih satu tangan Anna bermaksud menggandengnya .


Tapi gadis itu sepertinya enggan bersentuhan dengannya , Anna menepis tangannya .


" Uang sebesar satu milyar bukanlah uang yang sedikit , waktu itu pasti kau betharap aku segera mati agar kau tak perlu melihatku lagi . Untung saja malam itu Kak Safa mau menolongku jika tidak mungkin malam itu aku tidur di jalanan . Mulutmu selalu mengatakan cinta padaku tapi dengan mudah kau ' membunuhku ' !! Aku tidak mau cinta seperti itu "


" Aku salah , hatiku menjadi buta karena terlalu cemburu . Kenapa waktu itu kau tidak membela diri ?.Seharusnya kau membela diri jika merasa gambar gambar itu bukan dirimu "

__ADS_1


Anna menghentikan langkahnya dan kini menatap pria disampingnya dengan tajam . Gadis itu sedang berusaha kuat untuk tidak mencakar cakar wajah menyebalkan di sampingnya .


" Aku sudah coba membela diri dengan mengatakan padamu bahwa itu bukan foto fotoku . Dan kau membuatku ketakutan dengan harus melihat amarahmu yang mengerikan !! Apapun yang aku katakan kau tidak akan pernah mau mendengarnya "


" Aku janji tidak akan mengulanginya sayang , kita kembali ke Dubay ya , kita langsung menikah setiba disana "


" Menikah denganmu mungkin akan menjadi neraka untukku , pria sepertimu tidak tahu bagaimana cara mencintai perempuan !! "


Anna membalikkan badan berniat kembali melangkah dan meninggalkan pria itu tapi ia dikejutkan dengan dua tangan kekar yang sudah melingkar di perutnya .


" Sayang ... maaf . Aku tidak akan bosan meminta maaf padamu , aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar benar mencintaimu "


" Aaaaaaa .... pria gila !! Turunkan aku !! "


Abbio tiba tiba membopong tubuh mungil Anna seperti sedang memanggul satu karung beras . Pria itu bertekad untuk membawa Anna ke hanggar tempat jet pribadinya terparkir .


Pria itu benar benar ingin membawa Anna kembali pulang bersamanya .


" Apaa !!! "


" Sebelum datang ke Bali aku pergi ke Jakarta terlebih dulu untuk minta maaf pada ibumu . Dan beliau mengampuniku , beliau mengijinkan aku mendekatimu lagi dengan syarat untuk tidak lagi menyakitimu "


" Bohong !! Turunkan aku !! Aku tidak mau pulang bersamamu ... "


Perlawanan Anna sepertinya tidak begitu berarti untuknya , Abbio tetap melangkah kembali menuju resort karena mobilnya terparkir di sana .


Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sedang berdiri menghadap laut . Dia sangat mengenal siapa sosok itu .


" Turunkan dia !! Sudah aku bilang untuk tidak membuat kekacauan disini , apa kau tuli Tuan Abbio . Otakmu memang bebal , kau pikir dia akan kembali seperti dulu setelah kau bawa dia ke Dubay !!!? "


" Aku tidak peduli ... minggir "

__ADS_1


Adam tak bergeming dari tempatnya , tapi wajahnya terlihat memerah karena menahan emosinya .


" Baik jika begitu ... "


KLEEKKK ...


Abbio terbelalak dan segera menurunkan tubuh gadisnya , dia tahu benar suara apa itu . Adam mengokang sebuah senjata api ditangannya .


" Kau ingin dia kembali !?? "


Adam ingin tertawa sebenarnya , baginya lucu ketika pria itu menampakkan wajah bingungnya . Abbio menarik lembut tubuh gadisnya agar berlindung di belakangnya tubuhnya .


" Apa yang ingin kau lakukan hahh !! Di belakang orang orangku sedang mengawasiku . Kaupun tak akan selamat jika berani menyakitiku ... "


" Terlalu mudah menyingkirkan cecunguk seperti mereka "


" Tuan Adam aku mohon jangan sakiti dia " cicit Anna yang masih bersembunyi di balik tubuh besar Abbio .


" Pria sepertinya harus disingkirkan dari bumi ini , keberadaan mereka menambah polusi dunia "


Dan ..... DOORRRR


" Akkkhhhhhhhh ....."


Gila !! Adam benar benar membuat satu pelurunya bersarang di bahu milik Abbio hingga darah terlihat mengalir deras dari lukanya .


Anna histeris dan memeluk tubuh kekar yang sedang terhuyung itu . Sesaat kemudian beberapa pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam mendekat ke arah mereka dan mengangkat tubuh Abbio yang mulai limbung .


" Bawa dia ke rumah sakit ... tidak usah menangisi pria brengsek seperti dia Ann , berdoalah agar dia mati secepatnya agar dia tak lagi datang mengganggumu "


Bukannya menenangkan Anna malah terlihat semakin menangis histeris , satu pria berbaju hitam menuntunnya untuk mengikuti Abbio yang sudah di bawa ke sebuah mobil . Dan dua mobil itu langsung melesat menuju rumah sakit yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu .

__ADS_1


" Seseorang akan merasa kehilangan jika dia akan mengalami kehilangan yang kedua kalinya . Sayang idemu boleh juga .... " lirih pria bertatto itu dengan senyum smirknya .


__ADS_2