
Seminggu kemudian Zahid dan Safa melangsungkan pernikahan , tapi karena kondisi Zahid yang masih harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan maka Gaffar memutuskan untuk menunda pesta pernikahan .
Acara hari itu benar benar di adakan secara tertutup , hanya keluarga Al Shamma dan George Kahl yang menghadiri acara sakral itu . Dan acara sakral itu diadakan di mansion Al Shamma lebih tepatnya di taman yang sudah di ubah sedemikian rupa menjadi seperti istana princess sesuai keinginan pengantin wanitanya .
Gaffar akan mengadakan pesta pernikahan putra keduanya bersamaan dengan pesta pernikahan putra pertamanya yang sudah di sepakati di adakan kurang lebih tiga bulan lagi .
" Akhirnya ... menikah juga kau , tapi sayang sepertinya malam keduamu akan tertunda karena burungmu pasti belum bisa terbang bebas " bisik Bryan kepada Zahid sambil tertawa .
" Kau mau menyaksikan siaran livenya ??!! " sinis Zahid .
" Ckk sudah kubilang untuk menunggu sampai sembuh !! Kalau begini kau juga yang susah bukan ?? " gerutu Abbio .
Walau ' dilangkahi ' tapi Abbio tak sedikitpun merasa sakit hati , baginya tidak masalah siapa dulu yang menikah karena baginya kebahagiaan adik adiknya adalah prioritas utamanya .
" Kalian jangan ganggu pengantinnya !! Kak Zahid masuk kamar saja untuk istirahat , tadi Kak Safa sudah ke atas katanya gerah " kata Violetta yang keadaannya sudah jauh lebih baik . Wanita itu sudah tidak menggunakan kursi roda lagi . Badannya pun sudah terlihat lebih berisi .
Zahid tertawa lebar menyambut adik perempuan kesayangannya , dia bahagia semua keluarganya bisa berkumpul.saat acara sakralnya .
Di sudut sana terlihat Wicaksono , Gaffar dan ayah mertuanya sedang berbincang santai . Sedang di sudut lain Bu Sri sedang menyuapi Anandara irisan buah segar dibantu oleh Rose .
__ADS_1
" Kau memang adik paling sempurna , untung saja dulu kau tidak termakan rayuan buaya darat ini ... " tunjuk Zahid pada Bryan yang masih menertawakannya .
" Hei ... aku tidak pernah merayunya Za !! Adikmu adalah adikku , Vio sudah aku anggap sebagai adik sendiri " kilah Bryan membela diri , lagipula pandangannya tak pernah lepas untuk mengawasi gadis manis yang sedang tertawa di sudut ruangan karena bermain dengan putri Violetta .
Akhirnya Zahid naik menuju kamarnya , dia tak mempedulikan kicauan Bryan yang terdengar masih menggodanya . Yang ada di otaknya sekarang adalah segera menemui wanita yang baru saja sah menjadi istrinya .
" Sayang ... "
Zahid tersenyum lebar ketika melihat istrinya sudah terlihat segar dengan tubuh terbalut jubah mandinya . Sepertinya Safa habis membersihkan dirinya .
" Nggak usah senyum senyum Za , bikin geli liatnya " celetuk Safa yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil mengoles butter di tubuhnya . Walau bukan malam pertama untuknya tapi ia mempersiapkan dirinya agar sempurna di mata pria yang sudah menjadi suaminya .
" Hanya wangiku ??? "
" Kau sedang menggodaku sayang !? " bisik Zahid mulai menciumi tengkuk wanita di depannya hingga Safa tertawa kegelian .
" Kau bau Za ... bersihkan tubuhmu dulu."
" Aku tahu , tapi wangimu terlalu sayang untuk dilewatkan "
__ADS_1
Safa membantu suaminya untuk melepaskan setelan jasnya , tapi ia menjauh ketika Zahid hanya mengenakan kaos dan boxernya . Lekukan tubuh liat itu masih membuatnya merinding ketika melihatnya .
" Come on sayang , jangan setengah setengah jika membantu suamimu ! Aku masih butuh bantuanmu untuk melepas ini semua "
" Ckk ... aku tahu di dalam sana dia sudah berdiri tegak , trikmu basi Za !! Mandi dulu atau aku tinggal tidur !! "
" Ya ... ya ....padahal aku sudah membayangkan jika kita akan bercinta di bawah kucuran shower seperti di film film romantis itu "
" Kita hanya akan bercinta di ranjang sampai kakimu benar benar sembuh " kata Safa yang sudah melihat suaminya berjalan tertatih menuju kamar mandi .
Safa sengaja tidak membantunya karena ia tidak mau Zahid merasa bahwa ia adalah pria lemah yang harus dibantu apapun aktifitasnya . Sesaat kemudian suaminya keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas pinggang .
Dan pria itu dengan tak sabar langsung menghampiri sang istri yang sudah duduk bersandar di kepala ranjangnya . Tubuh putih yang hanya di balut sehelai lingerie warna kuning itu membuat nafasnya sedikit tidak beraturan . Dengan jelas ia bisa melihat dua gunung dan lembah berumput halus itu sangat jelas tercetak di dalamnya .
" Sengaja Za ... hanya agar lebih mudah untukmu " lirih Safa yang tahu arah pandangan suaminya . Wanita itu memejamkan matanya saat sang suami mengecup sayang keningnya cukup lama .
" Aku beruntung memiliki istri sepertimu , maaf jika aku terlalu lama untuk menepati janjiku padamu . Dengan nyawaku aku akan menjaga dan mencintaimu seumur hidupku . Aku sangat mencintaimu sayang " bisik Zahid sambil menciumi seluruh bagian wajah istrinya dengan gemas .
" Kita akan bercinta Za , jangan buat moodku hilang dengan mendengar gombalanmu itu !! Lepas dulu handuk basahmu itu , aku tak mau ranjangku basah sebelum kita berkeringat di atasnya "
__ADS_1
Dan Zahid terbahak mendengarnya , pengantinnya memang tidak seperti yang ia pikirkan . Yang akan malu malu atau bahkan menangis di malam pernikahannya . Sikap frontal dan apa adanya inilah yang membuatnya menggilainya .