Hurt

Hurt
2


__ADS_3

"hey, kamu di panggil kepala sekolah" kata seorang siswi dengan ketus pada Kania.



"aku?"



"lalu siapa lagi? dasar pembuat masalah" kata siswi yang bernama Intan dengan nada super ketus.



"makasih ya"



"gak usah berterimakasih, disuruh panggil siswa bermasalah sepertimu itu merepotkan"



'kenapa bisa sesombong ini sih?' batin Kania.



Kania hanya menatap Intan dengan tatapan heran.




'ampun deh, baru juga sampai' batin Kania sambil berdiri hendak pergi.



"perasaan baru masuk, kamu udah buat masalah aja" ejek Jeno.



"diam kamu" sambar Kania



"nambah beban aja kata-kata kamu" kata Kania sambil berjalan pergi.



Jeno hanya menatap Kania dengan senyuman.



'pasti permintaan maaf lagi' gumam Jeno pelan.



"selamat pagi semuanya" sapa seorang kakak kelas yang sudah beridiri di depan pintu kelas.



"pagi kak" jawab Jeno dan teman- temannya semangat.



"ada gak murid uang namanya Kania Camelia?" tanya sang senior.



"mau ngapain kak?" tanya salah satu teman kelas Kania



"ada hal penting" jawab si senior datar.



"wahh udah ada masalah baru lagi?"



"gila, baru aja masuk"



"rekor nih, siswa junior pemberontak"



"tadi kepsek sekarang senior? besok apa lagi?"



"bar bar banget jadi cewek hahah"




Brakk!!



"bisa diem gak? ribut amat? dia yang di panggil kok kalian yang ngerusuh? pengen di panggil juga?" Jeno mulai ngomel bak emak kosan.

__ADS_1



"loh kok kamu ngegas banget?"



"kenapa di kelas kita bisa ada siswa biasa kayak gini sih yang satu nya suka ngegas, yang satunya tukang buat masalah" sambung siswa yang lain.



Brakkk!!!


bunyi meja di gebrak lebih keras, ulah si senior.



"saya datang kesini buat nyari temen sekelas kalian. tinggal bilang ada atau tidak. kenapa kalian malah rusuh begini?" si senior mulai merasa kesal.



"cihh, sok banget" Jeno menggerutu sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menatap ke arah jendela.



"maaf kak, Kania lagi dipanggil ke ruang kepala sekolah" seorang siswa berdiri dan meminta maaf mewakili teman-temannya.



"penjilat no satu" gumam Jeno sambil tersenyum miring



"yaudah, terimakasih atas waktu kalian" sang senior keluar.



"ckck, apa peraturan disini terlalu lemah yah?" Jeno bertanya pada diri sendiri.



"wah kamu siswa biasa, tapi bisa banget ngegas" salah seorang siswa menatap Jeno dengan tatapan merendahkan.



"iya nih, padahal cuma siswa biasa" sambar yang lain.



"wah pas banget. teman sebelahnya pembuat masalah" sambar salah seorang siswa.



"haha modal wajah aja kayaknya" sontak seisi kelas riuh.




"wah masih berani" salah seorang cowok berjalan mendekati Jeno dan menatap Jeno tajam.



"kenapa? aaah tatapanmu tidak menakutkan. kau ingin terlihat menyeramkan?" Jeno berdiri di depan teman sekelasnya itu.



"Ando, jadi nama mu Ando? kau terlihat imut dibanding menyeramkan" kata Jeno membaca papan nama temannya dan mencoba menggoda Ando.



"cari mati hah?"



"cih, aku bisa saja membuatmu keluar dari sekolah ini" kata Ando lagi sambil mengancam.



"karena aku membaca namamu? ahh kau semakin imut jika sedang marah seperti ini" goda Jeno. seisi kelas langsung tertawa riuh.



"ingat baik-baik, sekarang kita musuh" kata Ando dengan nada penuh kebencian.



"tapi aku tak membencimu, kita teman" Jeno menatap Ando dengan tatapan yang penuh pesona, tak ada kebencian di matanya.



"menjijikan" Ando berbalik dan kembali ke tempat duduknya.



"kau ingin mengeluarkan ku dari sekolah ini kan? ayo bertaruh" kata jeno tiba-tiba.



"bertaruh apa?" Ando menanggapi Jeno.


__ADS_1


"jika kau mendapat nilai sempurna di semester ini maka aku akan keluar. jika tidak maka kamu keluar. begitu pun sebaliknya" Jeno mulai memancing Ando.



Ando tampak berpikir, Jeno hanya menatap Ando dengan senyum miringnya. entah apa isi kepala Jeno saat ini.



"oke, aku terima" Ando menjawab dengan penuh keyakinan.



'bagus, segeralah bersiap' batin Jeno penuh kemenangan.



"oke, ayo belajar bersama" kata Jeno sambil memamerkan senyum indahnya sambil mendaratkan bokongnga di tempat duduk.



"wah gila"



"ando pernah mendapat peringkat umum dulu"



"kudengar ando sangat pintar dan odangtuanya kaya raya"



"ando pasti akan mengalahkan Jeno"



"aku yakin Jeno akan keluar"



"ando akan menang"



kelas mulai riuh dan semua orang berpendapat bahwa Jeno akan dikeluarkan.



'kurasa akan seru jika melihat nilainya anjlok' batin Jeno sambil menyeringai, seringai nya tak terlihat seram. malah sebaliknya, itu terlihat sangat imut.



"Jeno, apa kamu yakin?" seorang temannya mendekati Jeno.



"ya evan, kenapa tidak?"



"àh bukan apa-apa, tapi berjuanglah" kata evan memberi semangat.



"kenapa kamu menyemangati ku?"



"aku tak suka mereka, mereka terlalu sombong. mereka berpikir jika uang orang tua mereka adalah segalanya" kata evan dengan tatapan prihatin.



"lalu kamu?"



"aku? aku tak punya apa-apa"



"tapi semua barang mu bermerk" Jeno memperhatikan barang Evan.



"hey, ini uang ayahku"



"baiklah, jadi kenapa kau mendukungku?"



"karena aku berteman denganmu" jawab Evan enteng.



"oke kita berteman" Jeno merasa lega. setidaknya disekolah super elite ini masih ada siswa rendah hati.



__ADS_1


sementara itu diruang kepala sekolah, Kania sedang berbincang dengan kepala sekolah dan seorang direksi sekolah.


__ADS_2